Perdagangan hiu di Indonesia menguntungkan, tapi 'mengancam populasi di alam liar'

Perdagangan hiu Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Penjualan hiu di Tempat Pelelangan Ikan TPI Tanjung Luar, Lombok Timur.

Pasar Ikan Tanjung Luar di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tampak ramai di pagi hari pada akhir Januari lalu, para pedagang menjajakan ikan-ikan segar yang baru diturunkan dari kapal.

Di tepi dermaga, tampak sejumlah orang nelayan bersama-sama menggotong seekor hiu dari kapal menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Di lantai TPI yang kusam, para nelayan bergantian meletakkan hiu hasil tangkapan mereka diantara hiu-hiu yang lain, untuk kemudian dilelang.

Para pembeli yang merupakan pengepul dari kawasan Lombok, salah satunya adalah Abdul Halim, yang berkeliling TPI melihat dengan seksama hiu-hiu yang baru tiba.

Dia tampak antusias mengikuti lelang hiu, karena permintaan meningkat menjelang Imlek.

"Meningkatnya pembeli dari Surabaya, pengekspor itu butuh banyak barang, sebelumnya masih agak sepi, menjelang Imlek sekarang meningkat lagi," jelas Abdul Halim.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Perdagangan hiu di Indonesia masih tinggi

Bagian yang paling diminati adalah sirip hiu, dan sebagian besar untuk pasar ekspor, jelas pengepul lainnya Haji Ismail.

"Bagian sirip yang paling banyak diminta dikirim ke luar negeri," ungkap Ismail.

Dari Tanjung Luar, sirip hiu akan di bawa ke Surabaya, Jawa Timur, untuk diekspor ke sejumlah negara antara lain Hong Kong, Cina dan Taiwan.

Sedangkan daging dan bagian ikan yang lain sebagian besar untuk pasar domestik, dan diolah menjadi berbagai produk seperti bakso, kerupuk dan sate oleh para pengrajin di Lombok Timur.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Hak atas foto BBC INDONESIA

Bagaimana perlindungan hiu?

Tanjung Luar merupakan salah satu pasar hiu terbesar di Indonesia, di sini hiu merupakan tangkapan utama para nelayan.

Di pagi itu puluhan ekor hiu dari berbagai spesies diperdagangkan, antara lain hiu kejen atau silky shark yang masuk dalam daftar Apendiks II Convention on International Trade of Endangered species(Konvensi Perdagangan Spesies Terancam Punah ).

Apendix II merupakan daftar hewan yang akan terancam punah jika perdagangannnya tidak dikontrol.

Sampai saat ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hanya melindungi hiu paus dari perdagangan dan penangkapan. Selain itu, larangan ekspor diberlakukan untuk hiu martil dan hiu koboi.

Namun di sisi lain, hiu juga merupakan salah produk perikanan yang menguntungkan dengan nilai ekspornya mencapai Rp1,4 trillun rupiah pada 2017.

Hiu-hiu ini diperdagangkan untuk pasar internasional dalam bentuk daging, sirip dan tulang hiu, serta hiu hidup.

Cina merupakan negara tujuan ekspor utama, dengan total nilai ekspor pada 2017 mencapai Rp626 milliar, disusul Thailand Rp356 milliar. Sementara untuk hiu hidup lebih banyak diekspor ke Hong Kong yaitu 1.098 ekor.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Dirjen pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP, Bramantyo Satyamurti, mengatakan upaya perlindungan terhadap ekosistem laut dilakukan pemerintah dengan mengikuti keputusan CITES dan juga LIPI yang menentukan kuota tangkap.

"Harus kita ikuti, tapi pahami juga dari hiu ini penghasilan nelayan cukup bagus, kita pasti akan melindungi hiu yang dilarang melalui tindakan penegakkan hukum, kalau hiu ini ditangkap dan dijual sesuai dengan peraturan dan tidak dilindungi ya tidak masalah, kita hati-hati sekali," jelas Bramantyo.

Berdasarkan kajian KKP, sebagian besar hiu ditangkap nelayan tanpa sengaja atau bycatch dan hanya 20% yang merupakan hasil tangkapan utama.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Para pembeli dan petugas tampak menunggu lelang hiu dimulai di Tempat Pelelangan Ikan TPI Tanjung Luar, Lombok Timur.

Wildlife Conservation Society, menilai upaya perlindungan yang dilakukan pemerintah sudah progresif, namun harus ada sejumlah inisiatif lain yang perlu dilakukan untuk lebih melindungi populasi hiu.

"Misalnya kuota diberlakukan sesuai dengan yang diberikan ... (ada) jaminan dari pengepul sendiri bahwa mereka tidak melakukan perdagangan secara ilegal," kata Tasrif Kartawijaya, Koordinator program Wildlife Conservation Society di Nusa Tenggara Barat.

Bagaimana pun Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Dirjen Pengelolaan Ruang Laut PRL, Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP, Andi Rusandi, menyebutkan salah satu upaya perlindungan ini dengan menetapkan kuota dan pengawasan dalam perdagangan hiu.

"Kuota itu sekitar 400-an kuota tangkap per tahun, jelas dia.

Sementara untuk pengawasan dilakukan di tempat pelangan ikan dan pelabuhan-pelabuhan.

"Kalau memang ada yang dicurigai dari spesies yang dilarang untuk ekspor, ya kita periksa melalui laboratorium," jelas Brahmantyo.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Pengukuran hiu dilakukan sebelum dilelang.

Pemerintah menurut, Andi, juga dalam proses mengkaji apakah dari 114 jenis hiu yang telah diidentifikasi itu terancam punah.

"Apakah melalui kuota ataupun perlindungan penuh maupun perlindungan terbatas, ada beberapa juga kebijakan yang kita kembangkan ketika dia mengurangi penangkapan bycatch, jadi hiu anakan, hiu hamil itu harus kita lepas," jelas Andi.

'Sejumlah populasi hiu menurun'

Berdasarkan kajian WSC di Tanjung Luar, sejumlah dikhawatirkan populasi sejumlah spesies hiu telah mengalami penurunan.

"Berdasarkan penelitian kami di Tanjung Luar, ada beberapa spesies apendix II yang mengalami penurunan, ini diindikasikan hasil tangkapan mereka mulai mengecil," kata Tasrif.

"Jika ini berlanjut akan berdampak untuk jangka panjang karena terkait lamanya hiu untuk bereproduksi, jumlah anakan sedikit sehingga kita butuh waktu panjang untuk bisa pulih kembali seperti sediakala," katanya.

Tasrif mengatakan penurunan populasi hiu di alam liar akan berdampak pada ekosistem di perairan.

"Hiu ini penting untuk dikelola atau diatur pengendalian dan pemanfatannnya terkait fungsi keberadaan hiu itu di ekosistem perairan di mana hiu itu sebagai top predator sebagai indikator bahwa sebuah ekosistem itu sehat atau tidak dilihat dari komposisi rantai makanan yang ada, " jelas dia.

Tasrif menjelaskan jika fungsi dari predator ini hilang secara otomatis akan menganggu komposisi atau rantai jejaring makanan di perairan.

Kajian untuk mengetahui populasi hiu di alam liar juga perlu dilakukan dengan cermat.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Hasil tangkapan menurun

Usai mengikuti lelang di TPI Tanjung Luar, Ismail tampak memperhatikan hiu-hiu yang telah berhasil di belinya, dengan wajah cerah.

"Permintaan banyak sekarang, ikannya kurang sekali biasanya full ini, jadi harganya bagus," jelas dia.

Ismail mengatakan jumlah hiu yang sedikit yang didapat nelayan hari itu, membuat harga lumayan tinggi, sehingga menguntungkan para pengepul seperti dirinya.

Tak jauh dari TPI, nelayan penangkap hiu Ruslan Hakim dan tiga orang rekannya tampak bersiap melaut.

Setelah hampir sekitar satu jam berlayar, Ruslan bersama rekannya mulai melempar pancing di lautan, sambil berharap mendapatkan hiu dalam pelayarannya.

Dia berharap mengeluh hasil tangkapannya tak lagi seperti dulu.

"Semakin menurun, semakin menurun sekarang, mulai 2002 -2004 itu masih normal, artinya kita punya modal misalnya Rp5-6 juta bisa tertutup ".

Topik terkait

Berita terkait