Akun palsu SBY: Berpura-pura sebagai tokoh 'gampang' di medsos, warganet perlu kritis

Yudhoyono Hak atas foto Getty Images
Image caption Yudhoyono mengatakan 'akun palsu' di Twitter ingin membenturkan antara dirinya dan Presiden Jokowi.

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa perlu mengklarifikasi soal akun palsu yang ia anggap 'merusak reputasinya'.

Yudhoyono menyebut orang di balik akun palsu di Twitter tersebut 'melakukan pembusukan' dan mengadu domba antara dirinya dan Presiden Joko Widodo serta Megawati Sukarnoputri.

Laporan media menyebutkan bahwa akun palsu Twitter yang dimaksud tersebut adalah @SBYudhoyono_.

Salah satu cuitan di akun ini berbunyi, "Saya tidak akan tinggal diam @jokowi Sy akan bongkar siapa anda dan megawati sesungguhnya, ayo muslim RI kita tunjukkan niat kita *SBY*".

Akun ini tak bisa lagi ditemukan ketika diakses pada Senin (12/02) malam.

Yudhoyono aktif di Twitter dengan memakai akun @SBYudhoyono dan akun ini telah mendapatkan tanda verifikasi yang menunjukkan akun ini benar-benar milik Yudhoyono.

Ia meminta pihak berwenang untuk menangani kasus ini.

Ini bukan untuk pertama kalinya beredar akun palsu Yudhoyono. Ia menyebut kasus yang sama pernah terjadi pada 2017.

Damar Juniarto, koordinator regional Southeast Asia Freedom of Expression Network (SafeNet) mengatakan meniru sebagai tokoh -apakah itu presiden, mantan presiden atau tokoh masyarakat- di media sosial mudah dilakukan.

"Hal itu dimungkinkan karena tidak ada metode verifikasi dari internet sendiri yang menunjukkan bahwa yang menjalankan akun adalah orang yang sebenarnya," kata Damar.

Jangan mudah percaya

Belakangan ada upaya dari penyedia media sosial yang memungkinkan pemilik akun diverifikasi, antara lain dengan mengecek identitas diri. Akun yang sudah dipastikan keasliannya biasanya akan mendapat tanda centang.

Mudahnya membuat akun yang seolah-olah sebagai milik orang lain dimanfaatkan orang, antara lain, untuk berbuat jahat.

"Dalam penelusuran kami, setidaknya ada tiga akun yang meniru pihak lain dengan maksud untuk menyebar kebencian," kata Damar.

Modusnya menggunakan nama akun yang sangat mirip, sementara foto memakai foto orang yang ditiru atau yang dipalsukan.

"Ia meng-copy status-status orang yang ia tiru, sehingga orang percaya bahwa akun tiruan ini adalah akun (asli) orang itu. Tapi kemudian akun tiruan ini memasukkan konten-konten yang menyebar kebencian terhadap pemeluk agama lain dan kelompok etnik lain," kata Damar.

Konten itu membuat masyarakat marah. Masalahnya adalah publik menganggap akun tiruan ini akun asli.

Saat masyarakat marah, yang disasar adalah orang yang akunnya dipalsukan, padahal ia sama sekali tidak mengunggah konten yang menyebar kebencian.

Untuk mengatasinya, mau tidak mau harus ada tindakan aktif dari orang-orang yang akunnya dipalsukan atau identitasnya dicuri. Ia bisa melaporkan ke penyedia media sosial bahwa ada akun-akun yang meniru dirinya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Yudhoyono (kanan) mengatakan bukan kali ini saja ada orang yang memalsukan akun dirinya di media sosial.

Belum diketahui apakah Yudhoyono sudah melaporkan akun-akun palsu di Twitter. Yang pasti, ia mengunggah video di Twitter meminta publik untuk waspada dan melaporkan ke dirinya jika menemukan akun palsu yang mengatasnamakan Yudhoyono.

Soal tanda verifikasi sebagai patokan bahwa suatu akun asli, tidak mudah diimplementasikan karena tidak semua orang bisa mendapatkan tanda itu, kata Damar.

Yang kedua, tanda verifikasi dengan mudah bisa ditambahkan melalui aplikasi atau perangkat lunak penyunting foto.

Oleh karena itu pengguna media sosial dan warganet perlu kritis.

"Kalau seorang tokoh misalnya menulis atau mengucapkan pernyataan yang kontroversial, publik wajib curiga," kata Damar. Intinya, kata dia, publik mestinya tidak mudah percaya.

Topik terkait

Berita terkait