Dua non-Muslim di Aceh pilih dicambuk

Pencambukan di Aceh Hak atas foto Hidayatullah untuk BBC Indonesia

Hukuman cambuk kembali dilakukan di Aceh, dan kali ini dua orang terpidananya adalah non-Muslim yang sengaja memilih dicambuk berdasar Qanun syariah dan bukan dihukum penjara dengan KUHP.

Pelaksanaan hukuman dilaksanakan di Masjid Babussalam, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh Selasa (27/2).

Dua terpidana bukan muslim yang dicambuk itu adalah pasangan suami istri yang ditangkap Satpol PP dan polisi syariah saat sedang berjudi di Kota Banda Aceh.

"Kita memilih hukuman cambuk untuk mengikuti qanun yang sudah ada. Jadi, ya kita memilih dicambuk," kata Ds, 45 tahun, kepada Hidayatullah, wartawan Aceh yang menemuinya di kediamannya, setelah pencambukan.

Pasangan suami istri Tnh (35) dan Ds (45), telah tinggal di Provinsi Aceh sejak berbelas tahun, dan menolak untuk berbicara lebih lanjut.

Tnh (35) dicambuk sebanyak tujuh kali, sedangkan suaminya DS (45) mendapat enam kali cambukan.

Kasi Penindakan Satpol PP dan olisi syariat Banda Aceh, Evendi Abdul Latif, mengatakan khusus untuk dua orang terpidana bukan muslim itu ditawarkan pilihan untuk mengikuti hukum cambuk atau hukum KUHP.

"Jika mereka ingin mengikuti KUHP boleh saja, kasusnya bisa dilimpahkan ke kepolisian, api mereka memilih dicambuk" kata Evendi Abdul Latif.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Misbahul Munauwar, menjelaskan hukuman cambuk merupakan qanun atau peraturan daerah yang diberlakukan kepada umat Islam. Sementara umat non-Muslim memang bisa memilih, dan sejauh ini mereka memilih untuk dicambuk. Betapa pun, katanya, Polda Aceh selalu siap apabila ada pelimpahan kasus dari Satpol PP dan Wilayatul Hisbah.

Termasuk dua orang terpidana suami isteri ini. "Andai mereka mau mengikuti hukum pidana juga boleh, kita akan melakukan pemeriksaan kembali bedasarkan undang-undang yang mengatur tentang perjudian," kata Kabid Humas Polda Aceh, Misbahul Munauwar.

Hak atas foto Hidayatullah untuk BBC Indonesia

Hukuman cambuk yang dilaksanakan pada hari ini sebanyak lima orang terpidana, meliputi kasus berduaan dengan yang bukan muhrim dan berjudi, masing-masing terpidana dihukum enam sampai 23 kali cambukan. Salah seorang terpidana kasus berduaan dengan non muhrim, seorang perempuan yang dicambuk 23 kali, bersama pasangannya.

Sementara itu, Walikota Banda Aceh Aminullah, mengaku pelaksanaan hukuman cambuk itu mengakibatkan kejahatan susila menurun.

"Sudah sangat berkurang pelanggaran syariat selama masa saya menjabat, kita akan terus gencar melaksanakan patroli malam," kata Walikota Banda Aceh, Aminullah.

Sebelumnya, hukuman cambuk juga pernah dijatuhkan pada tiga non-Muslim, dalam tiga peristiwa berbeda.

Salah satunya dihukum 36 kali cambukan untuk kasus judi, Januari lalu.

Terpidana non-Muslim pertama di Aceh diganjar hukuman cambuk pada April 2016 karena menjual alkohol, disusul pada bulan Maret 2017 terkait judi sabung ayam.

Topik terkait

Berita terkait