Pertemuan 125 mantan napi teroris dan korban demi cegah radikalisme

korban bom JW Marriott, Zakaria, Sumiarti Hak atas foto AFP/BAY ISMOYO
Image caption Mimin Sumiarti (kiri, menggendong anaknya, Adelia) saat mengenang suaminya, sopir taksi Eyo Zakaria, yang menjadi korban serangan bom JW Marriott, 12 Agustus 2003.

Pemerintah Indonesia untuk pertama kalinya memfasilitasi pertemuan lebih dari 125 bekas narapidana teroris dengan sekitar 50 orang yang menjadi korban terorisme.

Badan Nasional Penanggulangan Teroris, BNPT, mengatakan acara yang menitikberatkan pada pendekatan kemanusiaan ini diharapkan dapat berdampak luas dalam mengurangi radikalisme.

Digelar sejak Senin (26/02) dan berakhir Rabu (28/02) di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta, pertemuan dihadiri lebih dari 120 eks narapidana terorisme, mulai kasus bom Bali 2002, Poso, hingga bom Kampung Melayu di Jakarta.

Selama tiga hari, mereka dipertemukan dengan sekitar 50 orang korban berbagai kasus terorisme, melalui acara diskusi, dialog, dan tatap muka.

Direktur deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, BNPT, Irfan Idris, menargetkan acara ini dapat mengurangi penyebaran paham radikal di masyarakat.

Korban bom Bali 2002 Hak atas foto Getty/Dimas Ardian
Image caption Keluarga korban dan sebagian warga berdoa di kawasan ledakan bom Bali 2002 di Kuta pada upacara peringatan 2 Oktober 2005.

Para eks napi terorisme sesudah mengikuti acara ini diharapkan dapat meyakinkan teman, kolega atau anggota keluarganya agar tidak melakukan dan menyebarkan radikalisme.

"Dia harus buktikan apa yang (eks) pelaku (terorisme) ucapkan di sini (acara pertemuan dengan korban), agar berani diucapkan ke jaringannya," kata Irfan Idris kepada BBC Indonesia di sela-sela acara itu, Selasa (27/02) sore.

Menurutnya, pemaafan yang diberikan para korban terorisme seharusnya disikapi oleh para mantan teroris untuk meyakinkan dirinya dan kawan-kawannya agar tidak mengulangi kekerasan yang melukai korban.

"Karena kalau dia tetap berbuat (kekerasan), bisa menimbulkan korban lagi," tandas Irfan Idris.

korban Ritz Carlton Hak atas foto AFP/ARIF ARIADI
Image caption Keluarga korban bom Ritz Carlton, Jakarta, 17 Juli 2009, mengenang peristiwa itu sekaligus menolak segala bentuk kekerasan atas nama apapun.

Sejumlah laporan menyebutkan, dari sekitar 120 eks teroris yang hadir, diantaranya adalah Agus Dwikarna -mantan teroris jaringan Filipina- dan Ali Fauzi -eks anggota Jemaah Islamiyah yang ahli membuat bom- hingga mantan narapidana terorisme di Poso, Sulawesi Tengah.

"Kita menentukan pelaku (terorisme) yang sudah kooperatif," ungkap Irfan saat ditanya tentang penentuan kriteria eks napi terorisme yang dapat mengikuti acara ini.

Irfan meyakini bahwa acara akan terus berlanjut dan bakal melibatkan semakin banyak eks napi teroris dan para korban, "Sekarang ini baru langkah awal, baru silaturrahim."

Bukan 'mengikis ideologi'

Salah-seorang eks napi terorisme yang diundang dalam acara yang difasilitasi BNPT ini adalah Ali Fauzi, adik kandung terpidana bom Bali, Amrozi, dan terpidana seumur hidup, Ali Imron.

Saat bergabung dengan organisasi teroris, Jamaah Islamiyah (JI), Ali dikenal ahli merakit bom.

ali fauzi Hak atas foto AFP/ADEK BERRY
Image caption Ali Fauzi (tengah), melalui Yayasan Lingkar Perdamaian yang didirikannya, terus mendampingi mantan narapidana teroris dan keluarganya agar tidak terlibat kembali dalam aksi terorisme.

Dia juga pernah mendirikan kamp pelatihan militer MILF di Mindanao, Filipina, bersama Abdul Matin dan Umar Patek pada 2002. Empat tahun kemudian, dia ditangkap polisi Filipina dan dipulangkan ke Indonesia.

Sejak dibebaskan, Ali Fauzi -melalui Yayasan Lingkar Perdamaian, yang didirikannya- terus mendampingi mantan narapidana teroris dan keluarganya agar tidak terlibat kembali dalam aksi terorisme.

"Tentu tidak mudah," kata Ali Fauzi saat ditanya target yang menjadi kewajibannya untuk meyakinkan kawan-kawannya yang masih tertarik dengan ide-ide radikal yang menghalalkan tindak kekerasan.

Dia akan berusaha meyakinkan orang-orang itu bahwa program BNPT ini hanya untuk "mengasah kemampuan intelektual" dan "bukan mengikis ideologi".

"Program ini tidak untuk menciptakan agar mereka anti Islam, tidak sama sekali," tegasnya sambil menambahkan program lebih untuk menamamkan rasa cinta tanah air dan pentingnya menjaga perdamaian.

bom Hotel JW Marriott Hak atas foto Getty/Paula Bronstein
Image caption Seorang warga menaburkan bunga sebagai tanda berduka di depan lokasi ledakan bom di Hotel JW Marriott, 11 Agustus 2003, yang menewaskan 11 orang.

Ali Fauzi kemudian mengungkapkan "kisah suksesnya" meyakinkan seorang eks anggota ISIS untuk pelan-pelan meninggalkan paham radikalnya.

"Saya ajak dia masuk ke Yayasan Lingkar Perdamaian, bahkan saya carikan kerja. Ada keluarganya sakit, saya bantu," katanya mengungkap pendekatan yang dilakukannya terhadap eks anggota ISIS tersebut.

Dia mengaku tidak pernah "mengurangi" semangat keagamaan orang yang bersangkutan, "Hanya nilai ke-Indonesian yang saya tanamkan."

Pendekatan ekonomi sangat penting

Namun demikian, pegakuan Ali Fauzi, yang lebih penting adalah memberikan jalan agar orang-orang tersebut memiliki basis ekonomi untuk melanjutkan hidup.

"Ini penting sekali," ungkap Ali Fauzi. Itulah sebabnya, dia mengaku akan berusaha sekuat mungkin agar mereka dapat mendapatkan pekerjaan.

korban bom kampung melayu Hak atas foto AFP/ADEK BERRY
Image caption Anggota polisi Imam Gilang Adinata yang menjadi korban bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta, 24 Mei 2017.

Dia kemudian memberikan contoh yang sudah pernah dilakukannya, "Saya titipkan ke pengusaha baik di Tuban atau Lamongan. Kalau sudah kerja, nyaman untuk mengajak mereka untuk membumikan perdamaian."

Upaya "pendampingan" terhadap eks napi teroris juga dilakukan seorang anggota Polres Sukoharjo, Jawa Tengah.

Namanya, Irwan Wahyudi, pangkatnya Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu), yang sekitar 10 tahun terakhir mendampingi sejumlah eks napi teroris di kawasan Solo dan sekitarnya, yang mengikuti pertemuan dengan eks napi teroris lain dan para korban terorisme di Jakarta.

"Kami dipasrahi untuk mendampingi mereka secara personal, para ikhwan-ikhwan ini," kata Irwan kepada BBC, Selasa (27/02).

Mendapat tugas untuk "mengawasi" eks napi teroris, Irwan mengaku pendekatannya adalah "dari hati ke hati".

"Dalam bahasa intelijen adalah "penggalangan" agar tidak berhubungan dengan kelompoknya kembali," jelanya.

korban bom thamrin Hak atas foto AFP/Manan Vatsyayana
Image caption Sejumlah individu menggelar aksi keprihatinan di sekitar Gedung Sarinah dan kedai kopi Starbuck setelah serangan teroris di kawasan itu, 15 Januari 2016.

Di antara mereka adalah eks napi kasus bom Bali, bom Polsek Pasar Kliwon Solo, serta kasus bom Polres Cirebon.

Dari pengalaman berkomunikasi dengan mereka, Irwan menganggap mereka sudah tidak lagi "memerangi" negara atau pemerintah Indonesia: "Kuncinya jangan sampai aqidahnya dilecehkan, mereka akan bangkit."

Dengan melakukan pendekatan dari hati ke hati, Irwan memberikan salah-satu contoh yang dilakukannya: "Kita bisa bantu semampu kita, misalnya butuh buat SIM atau KTP, itu kita bantu."

Irwan juga menganggap pendekatan "ekonomi" terhadap mereka sangat penting untuk mengalihkannya dari kegiatannya semula.

"Artinya kalau ada usaha, dia menjadi sibuk bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ini juga membuat pergaulannya terbuka." katanya sambil menambahkan bahwa berdasarkan pemantauannya, maka eks napi teroris yang sudah bekerja akan lebih gampang move on atau melangkah maju.

Bagaimana nasib korban dan keluarganya?

Selain menitikberatkan pada upaya deradikalisasi, acara ini juga disiapkan untuk menyiapkan upaya jangka panjang demi "mendampingi" korban serangan terorisme beserta keluarganya.

Korban bom Bali 2002 Hak atas foto Getty/Chris McGrath
Image caption Sebelum kejadian bom Bali 2002, suaminya, Ketut Sumerawat (foto di atas), merupakan tulang punggung keluarga. "Tapi sekarang agak susah. Lagipula saya orang tua tunggal, saya cari sendiri uang untuk membesarkan tiga anak saya," ungkap Nyoman Rencini.

"Target kepada korban, agar bisa menyampaikan harapan-harapannya kepada pemerintah," kata Direktur deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, BNPT, Irfan Idris.

Menurutnya, BNPT memiliki program yang terhubung dengan kementerian dan lembaga terkait yang bisa "membantu" mendampingi korban dan keluargnya, baik dari sisi kesehatan maupun sosial ekonomi.

Itulah sebabnya, lanjutnya, pada acara terakhir, Rabu (28/02), acara akan membahas peran masing-masing kementerian, baik itu kementerian agama, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, sosial, hingga koperasi dan usaha kecil, dengan tujuan untuk membantu kehidupan korban dan mantan napi teroris.

"Ini kita kencangkan agar semua lapisan masyarakat membuka mata bahwa terorisme itu kejahatan luar biasa," klaimnya.

Kisah korban bernama Nyoman Rencini

Namun belum jelas apakah janji itu dapat terwujud, soalnya sebagaimana dituturkan oleh salah-seorang keluarga korban bom Bali 2002, Nyoman Rencini, keluarga korban tidak mendapat dukungan ekonomi selayaknya.

Sejak peristiwa yang menyebabkan suaminya meninggal dunia itu, dia berjualan makanan di pantai Sanur, Bali.

Korban bom Bali 2002 Hak atas foto Getty/Chris McGrath
Image caption Nyoman Rencini, yang berusia 47 tahun, kehilangan suaminya yang menjadi korban bom Bali 2002 di kawasan Kuta.

"Saya berharap ke depan, semua orang bertindak waspada, semua orang harus respek dengan lingkungannya supaya hal yang seperti itu tidak terjadi lagi," ungkapnya saat dihubungi BBC Indonesia melalui sambungan telepon, Selasa (27/02).

"Karena," lanjut ibu tiga anak ini, "pengaruhnya sampai sekarang terasa banget. Kami itu agak kesulitan, karena ekonomi terasa belum bagus seperti sebelum (serangan)terjadi."

Sebelum kejadian bom Bali 2002, suaminya, Ketut Sumerawat, merupakan tulang punggung keluarga sementara dia sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga

"Dulu lumayan bagus dari keuangan untuk menyambung hidup. Tapi sekarang agak susah. Lagipula saya orang tua tunggal, saya cari sendiri uang untuk membesarkan tiga anak saya."

BBC Indonesia

Berita terkait