BNPT pertemukan pelaku dan korban teror, kata maaf masih mengganjal

korban Ritz Carlton Hak atas foto AFP/ARIF ARIADI
Image caption Keluarga korban bom Ritz Carlton, Jakarta, 17 Juli 2009, mengenang peristiwa itu sekaligus menolak segala bentuk kekerasan atas nama apapun.

Lebih dari 100 pelaku dan korban kasus terorisme dipertemukan selama tiga hari terakhir di Jakarta oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Namun forum itu belum dapat merekonsiliasi seluruh pelaku dan korban.

Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius, menyebut setidaknya terdapat 1.000 korban teror sejak awal dekade 2000-an. Ia berkata, tidak seluruh korban datang ke pertemuan itu karena belum bersedia memaafkan para pelaku.

"Kami tidak bisa memaksa mereka. Acara ini sifatnya sukarela. Mungkin ada korban yang masih belum bisa memaafkan pelaku. Yang kami undang yang sudah siap."

"Namanya musibah ada yang belum terima, tapi acara ini adalah embrio," kata Suhardi, Rabu (28/02), seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama.

Pertemuan pelaku dan korban teror di Hotel Borobudur, Jakarta, itu merupakan forum pertama yang diselenggarakan BNPT.

Sebelumnya, kelompok masyarakat sipil seperti Aliansi Damai Indonesia (AIDA) telah lebih dulu berinisiatif mendamaikan korban dengan pelaku yang masih berstatus narapidana maupun yang telah menyelesaikan masa pemidanaan.

Hak atas foto AFP/BAY ISMOYO
Image caption Mimin Sumiarti (kiri, menggendong anaknya, Adelia) saat mengenang suaminya, sopir taksi Eyo Zakaria, yang menjadi korban serangan bom JW Marriott, 12 Agustus 2003.

Belum sepenuhnya memaafkan

Dwieky Rhomdoni, korban serangan Thamrin pada 2016, tidak berinteraksi maupun berdialog dengan satupun pelaku teror dalam acara BNPT. Perempuan berusia 35 tahun itu mengaku belum dapat sepenuhnya memaafkan pelaku.

"Saya mencoba untuk memaafkan tapi saya juga ingin tahu (pemikiran) pelaku bagaimana. Sejauh ini kami baru dipertemukan, interaksi lebih belum ada," kata Dwieky.

"Hampir seluruh korban belum ada interaksinya," ujarnya menambahkan. Akibat serangan Thamrin tanggal 14 Januari 2017, Dwieky mengalami patah leher dan harus berhenti bekerja selama setahun setelahnya.

Sementara itu, Agus Suaersih, korban Bom JW Marriot tahun 2009, mengaku dapat memaafkan pelaku teror setelah menjalani konseling psikologi selama lima tahun.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Korban Bom JW Marriot 2009, Agus Suaersih.

Bom yang meledak di hotel JW Marriot, Mega Kuningan, Jakarta, menyebabkan Agus gegar otak. Tahun 2012 dan 2014 ia dipertemukan AIDA dengan sejumlah pelaku teror.

"Pertama kali bertemu takut, pikiran saya kotor walaupun mereka bilang sudah insyaf atau bertobat, tapi saya belum percaya. Tapi lama-kelamaan setelah perkenalan dan berkegiatan, kami berbaur, berdoa dan ditemukan dalam satu ruangan."

"Di situ saya mulai membuka mata hati, saya manusia dan dia juga manusia. Mungkin itu tidak 100 persen kemauannya," kata Agus.

Menko Polhukam Wiranto menuturkan, pertemuan korban dan pelaku yang digagas BNPT tidak dapat memenuhi keinginan para pihak. Karena forum pertama, ia menilai korban dan pelaku masih menjajaki komunikasi.

"Ini pertemuan perdana, sesuatu yang dianggap baru, belum pernah ada pertemuan semacam ini. Yang belum hadir mungkin wait and see. Sesuatu yang baru tidak semua langsung setuju," tuturnya.

Wiranto berharap BNPT membuat pertemuan korban dan pelaku lanjutan. Ia yakin, forum tersebut akan diikuti lebih banyak peserta.

"Saya yakin dengan hasil hari ini, kalau ada pertemuan lanjutan, silaturahmi pelaku dan korban, yang hadir akan lebih besar, termasuk korban warga asing," kata Wiranto dalam kesempatan yang sama.

Hak atas foto AFP/Manan Vatsyayana
Image caption Sejumlah individu menggelar aksi keprihatinan di sekitar Gedung Sarinah dan kedai kopi Starbuck setelah serangan teroris di kawasan itu, 15 Januari 2016.

Meminimalisir radikalisme

Adapun, Sofyan Sauri, mantan narapidana kasus penyelundupan senjata untuk kelompok teror, menilai forum tersebut efektif meminimalisir radikalisme rekan-rekannya.

Sofyan menyebut sejumlah pelaku teror meninggalkan jejaring eksremis setelah berhubungah dengan pelaku.

"Ini program deradikalisasi yang paling efektif karena dulu ada beberapa pelaku yang sulit menyadari tindakannya adalah perbuatan salah."

"Tapi ketika korban datang membesuk para pelaku, para pelaku yang dikenal keras, baik dari Bom Bali II dan Bom Kedubes Australia, mereka mengatakan, inilah yang saya tunggu-tunggu," ujarnya.

Menurut Sofyan, deradikalisasi sepatutnya dilakukan dengan pendekatan psikologis. Ceramah keagamaan, kata dia, sulit mengubah pola pikir pelaku teror.

"Kita tidak perlu banyak menangkal mereka, melakukan kontra-radikalisme dengan ayat-ayat, tapi sentuh mereka dengan sisi kemanusiaan. Mereka akan tersadar dan mengevaluasi yang pernah mereka perbuat," kata Sofyan.

Menurur data BNPT, pertemuan di Hotel Borobudur itu diikuti 124 mantan narapidana teror dan 51 korban. Forum itu turut dihadiri Menteri Sosial Idrus Marham dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri.

Berita terkait