Dilatih perang oleh pengebom Bali, Amrozi, tentara anak itu terbuka matanya setelah mendengar kisah seorang ibu

Husen Rumain
Image caption Husen Rumain: Mendengar kisah seorang ibu Katolik yang mengalami nasib serupa dengan keluarganya, pengalaman yang menjadi titik balik baginya.

Ketika konflik berdarah Maluku, yang bermula di Ambon pada awal 1999, menyebar ke satu desa terpencil di Seram, seorang anak muda merasa "kiamat" dan bertekad untuk balas dendam. Keinginan ini tersalur dengan langkahnya bergabung sebagai mujahid muda yang dilatih Amrozi, otak pengeboman Bali.

Peringatan: Artikel ini berisi unsurkekerasan

Presentational grey line

Desanya, Laala di Seram bagian barat, binasa oleh api. Mayat-mayat tanpa kepala berserakan. Darah berceceran dan mereka yang sekarat ada di depan matanya. Mimpi-mimpi yang telah ia rajut hancur seketika.

Hanya dengan baju yang dikenakan, ia bersama ibu dan adik-adik lari menyelamatkan diri. Ayahnya telah berada di medan konflik.

Berhari-hari mereka menyusuri hutan. Ibunya melahirkan pada hari mereka mengungsi, dan harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan air guna membasuh darah melahirkan.

Banyak hal "di luar kemanusiaan" membuatnya "bengis" dan semua ia tuangkan di buku hariannya.

Hanya ada satu tekad. "Balas!" "Bakar desa" lokasi tempat tinggal komunitas yang menjadi pelaku serangan itu.

Dendam untuk membalas tersalur saat ia bergabung sebagai Mujahid Muda, kelompok yang dilatih oleh Amrozi, orang yang diketahuinya belakangan sebagai otak pengeboman Bali pada 2002.

Selama enam tahun ia terlibat konflik, di Seram dan kemudian di Ambon.

Sampai, satu ketika, di kampusnya di Ambon, ia mendengar tentang seorang ibu Katolik, "bercerita dengan jujur" pengalaman serupa seperti yang ia dan keluarganya alami.

Sejak itu, berbagai buku teologi Islam ia baca, dengan sejumlah nama yang ia sebut termasuk Nurcholis Madjid dan Dawam Raharjo.

Sampai ia menemukan apa yang ia sebut "kasih sayang dalam Islam" dan bahwa "Islam mengajarkan untuk memaafkan."

Sampai ia menemukan bahwa "imannya semakin kokoh" bila ia merangkul dan bergaul serta mendengar cerita dari semua orang termasuk mereka yang memiliki iman berbeda.

Husen Rumain Hak atas foto Husen Rumain
Image caption Suasana buka puasa di Laala, sepulang dari pengungsian.

Ia kemudian kembali ke pulau asalnya beberapa kali, kali ini sebagai "mediator" kelompok yang berkonfik.

Saat hari yang disebutnya kiamat terjadi pada 20 Agustus 1999, usianya baru 15 tahun.

Pemuda itu bernama Husen Rumain. Inilah perjalanannya menemukan "kasih sayang dalam Islam."

Mimpi terkubur pada Agustus 1999

Husen Rumain
Image caption 20 Agustus 1999, hari yang disebut Husen hari kematian pertamanya setelah menyaksikan desanya terbakar habis.

BBC Indonesia bertemu dengannya dalam acara pembacaan puisi di kampus Institut Agama Islam Negeri, IAIN, Ambon. Mahasiswa, mahasiswi, ustaz dan pendeta ikut membaca berbagai puisi, sebagian dengan alunan seruling dan gitar pada satu sore Februari 2018 lalu.

Husen kemudian mengajak kami ke depan masjid kampus tempat ia bercerita tentang pengalamannya pada awal tahun 2000, lokasi yang pernah menjadi markasnya untuk berlatih saat kerusuhan terjadi.

"20 Agustus 1999. Mimpi saya terkubur. Inilah hari yang menurut saya kiamat bagi saya. Seluruh desa saya terbakar habis. Keluarga saya banyak yang meninggal dan mayat berserakan di mana-mana tanpa kepala, rumah kami dibakar, masjid kami juga dibakar."

"Tragisnya lagi, ibu saya melahirkan di hari yang sama, bersamaan dengan kejadian yang menimpa negeri kami."

Hari-hari gelap ini diceritakannya dengan tenang. Semuanya mengalir.

"Ibu melahirkan, di tempat itu, (di sekitar ada) yang terluka, sekarat tanpa pertolongan. Ada yang orang tuanya meninggal dan dia meratapi. Kejadian itu saya saksikan dengan penuh rasa tidak menentu sebenarnya."

"Ini apa kesalahan kami, sehingga kejadian ini terjadi pada keluarga dan kampung saya?", beberapa kali ceritanya diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terbersit saat itu.

"Saya berpikir inilah hari terakhir bagi saya untuk melihat masa depan. Semuanya sirna, harta benda habis, ibu dan adik-adik saya keluar dari rumah dengan pakaian yang kami kenakan di badan, sementara papa saya lagi berperang."

"Selaku laki-laki dewasa sudah harus berperang. Kami yang di bawah umur yang diungsikan."

Perjalanan jauh dalam pengungsian, melewati pegunungan, pantai yang curam sejauh sekitar 50 kilometer dengan berjalan kaki.

"Sementara itu ibu saya sejak melahirkan adik saya tak pernah mandi. Ibu berjalan dengan darah melahirkan. Tiga sampai empat hari baru beliau dapat air untuk mandi."

Harus terbalaskan: Kematian pertama saya

Saat bercerita tentang tindakan apa yang akan dilakukan untuk membalas apa yang menimpanya, Husen tetap menyampaikannya dengan tenang.

Berbagai buku dan pendalaman kitab suci tampaknya sangat membantunya mengatasi apa yang ia gambarkan sebagai "pergolakan batin luar biasa".

"Sebagai seorang manusia yang tak punya apa-apa lagi, timbul dalam diri saya, bahwa semua kejadian ini harus terbalaskan. Apa yang menimpa saya, masyarakat saya, kampung saya, harus saya balas," kata Husen.

"Sesungguhnya hari itu adalah kiamat. Sepanjang mata memandang hanya orang terluka. Hari itu adalah kematian pertama saya. Hanya orang terluka, orang menangis, orang yang meninggal, dan keadaan itu luar biasa membekas di pikiran saya sampai detik ini."

"Proses itu yang membuat saya berpikiran bahwa hidup saya tak bermakna jika saya, tak bisa membalas dendam."

Ia ikut berperang di Seram sebelum pindah ke Ambon pada 2003, dan masih memanggul senjata sampai 2005.

"Saat konflik, ada bala bantuan mujahidin dari tanah Jawa. Di Ambon, dikoordinir oleh Laskar Jihad, sementara di Seram di bawah kendali Mujahidin."

"Pimpinannya adalah Amrozi, kita dilatih berperang, kita direkrut, itu adalah kesempatan untuk melampiaskan cita-cita kita. Mulailah peperangan panjang dimulai.

Peran Husen dalam konflik paling berdarah di Indonesia ini, "Mulai dari sekedar membawa minyak, menyiapkan senjata untuk beperang sampai kita jadi pelakunya."

"Tugas kita membumihanguskan yang kita lihat. Sudah tak terhitung lagi, berapa rumah, berapa bangunan yang kami bakar. Hobi saya menenteng jerigen dan membawa bom. Itu pekerjaan saya," ceritanya.

"Kadang-kadang rumah yang kami bakar, penduduknya masih ada di dalam… Tak terhitung lagi berapa bangunan dan korban jiwa yang ditimbulkan oleh pekerjaan saya. Tapi saya cukup bangga saat itu dengan pekerjaan itu."

"Awalnya kita menyiapkan panah, perang, ketika perang terjadi, pertempuran makin dasyat, kita punya banyak peluru yang tak tahu dari mana asalnya dan kita membuat senjata rakitan."

Mujahid muda yang dipimpin Amrozi

Husein Rumain Hak atas foto Husen Rumain
Image caption Husen direkrut dan dilatih oleh Amrozi, yang diketahui belakangan sebagai pengebom Bali 2002.

'Tak dapat dihitung berapa orang yang sudah mati tertembak dengan senjata rakitan yang saya buat."

"Saya punya berkarung-karung bom TNT saya bisa membuat basoka. Kita pergunakan itu semua."

"Kita istilahkan diri kita sebagai mujahid muda, yang dididik oleh Amrozi yang pada 2005 baru saya tahu bahwa ustad saya adalah pelaku bom Bali."

"Dia pernah mendidik kita di pulau Seram, bagaimana merakit bom, membuat senjata. Bagaimana cara berperang."

Arus balik dan pergumulan luar biasa

Husen menyebutkan ada beberapa hal "yang menimbulkan arus balik dalam perjalanan hidupnya."

Saat kuliah di IAIN Ambon ia bergabung dengan organisasi kemanusiaan, kesempatan yang ia banyak gunakan untuk berdiskusi tentang berbagai isu daerah.

Baru pada 2005, ia mengikuti kegiatan dari Lembaga Antar Iman, badan yang didirikan oleh pendeta Jacky Manuputty dan ustad Abidin Wakano, sebagai wadah anak-anak muda yang terlibat atau yang menyaksikan konflik, untuk bertemu dan berdikusi.

Di tempat inilah, Husen menceritakan tentang trauma-trauma konflik dan mendengar cerita dari orang lain.

"Saya tersadar ketika mendengar peserta yang beragama Kristen dan kami yang beragama Islam, bahwa kita berada dalam kondisi yang sama," ceritanya.

"Satu ibu yang menurut saya sangat menyentuh, ibu Katolik di Ahuru yang berbatasan dengan daerah Muslim juga. Dia bercerita proses saat mengungsi. Ketika tempat tinggalnya terbakar dan dia melakukan perjalanan panjang hampir tiap hari, lewat pegunungan".

Wajah Islam yang mengajarkan kasih sayang

Husen Rumain
Image caption Menemukan kasih sayang dalam Islam setelah terjun dalam konflik.

"Di bawah tekanan dan kejaran dengan membawa anaknya sampai ke daerah Kristen yang aman."

"Dia cerita dengan jujur. Apa yang mereka alami ternyata sama dengan yang kita alami. Kita berada di satu titik yang sama. Saya mulai baca buku dan teologi-teologi dalam Islam. Di situ saya mulai terbuka. Dalam proses perjalanan itu, pergumulan yang saya hadapi luar biasa.

"Saya mengalami pergolakan batin yang sangat luar biasa."

Selama ini saya "dianjurkan untuk melakukan kekerasan, ketika kita dizalimi maka kita harus membalas dengan kezaliman, mengajarkan kita saling membunuh, saling menumpahkan darah,"

"Ternyata dalam Islam mengajarkan tentang kasih sayang, tentang perdamaian. Memberi maaf sangat dianjurkan dalam Islam… Dari situ, ada rasa bahwa wajah Islam yang selama ini saya kenal ternyata berbeda dengan wajah Islam yang sesungguhnya."

"Pemikiran saya tentang kehidupan sosial beralih sedikit demi sedikit. Saya dapat kesimpulkan bahwa kita sebagai orang Maluku, kita hanya dijadikan sebagai alat oleh orang-orang yang memiliki kepentingan besar di republik ini."

Dialog dengan komunitas di luar Islam menjadi titik tolak Husen berikutnya untuk belajar, dengan diskusi yang semakin intens.

"Saya menemukan sesuatu yang baru, di luar yang selama ini saya tahu tentang orang Kristen. Ternyata perjumpaan-perjumpaan makin memperkuat iman saya."

Sebelumnya, kata Husen, bertemu dengan orang-orang Kristen membuatnya khawatir akan mempengaruhi imannya.

Salah seorang yang pernah dijumpainya untuk berbagi pengalaman dan bersama-sama menyebar pesan positif adalah wartawan dan seniman setempat Rudi Fofid.

Husen Rumain Hak atas foto Husen Rumain
Image caption Acara lintas iman di Ambon, Januari 2018

Orang tua dan adik Rudi, termasuk yang menjadi korban pembunuhan di tempat asalnya, Kei.

"Saat saya dengar berita orang tua saya dibunuh, saya tinggal di keluarga Muslim di Ambon," kata Rudi. "Apakah saya harus membalas dengan membunuh mereka?"

Sebelum, sesudah dan selama konflik, Rudi memang memiliki banyak sahabat dari semua kalangan.

Husen mengatakan ia "banyak belajar" dari Rudi untuk "membangun perdamaian setelah mengalami kekerasan."

"Beliau sering juga menceritakan soal keluarganya yang terkena konflik, sempat mengungsi juga, sampai pada mengambil jalan menjadi pekerja perdamaian," tambahnya,

Namun bagi Husen pertemuan dan upayanya menjadi jembatan juga tak mudah.

Dituduh tak beriman

Husen Rumain, Ronald Regang
Image caption Bersama Ronald Regang, salah seorang mantan tentara anak yang ia temui dalam acara pembacaan puisi di IAIN.

"Berjumpa dengan orang-orang Kristen itu membuat keimanan saya semakin kuat, dan saya semakin beribadah secara tenang dan tidak berada dalam ruang serba tegang."

"Dalam pergumulan batin, saya mencoba untuk tahajud, karena realitas di sekeliling berbeda, karena kita terlibat dalam membuka dialog dengan teman-teman Kristen yang beda agama."

"(Namun) saya dianggap sebagai orang yang tidak benar, tapi saya pribadi merasa nyaman dengan kondisi saya."

"Dalam keluarga juga begitu, maklumlah kondisi keluarga mereka juga menghadapi kekerasan. Saat saya membuka tali yang terputus, saya dianggap sebagai orang yang telah berkhianat."

"Saya alami bahkan di lingkungan kerja, disampaikan begitu ke saya. Saya terima dengan senyum," cerita Husen mengacu pada awal-awal ia sering ikut dalam dialog perdamaian.

"Kita yang memilih jalan lain untuk mencoba berdamai dan berdialog melakukan perjumpaan, melepaskan segregasi yang membelenggu, justru dianggap sebagai pengkhianat... sebagai pekerja perdamaian kita harus siap dengan konsekuensi itu."

Tak diceritakan pada anak cucu

buku harian Husen Rumain Hak atas foto Husen Rumain
Image caption Buku harian yang mencatat banyak hal "di luar peri kemanusiaan."

Sebelum bertemu dengan BBC Indonesia, Husen sempat membuka kembali buku hariannya, catatan yang mulai ia tulis pada 2000 sampai kerusuhan mereda.

Saat membuka buku itu kembali, ia menyatakan "kaget" atas kejadian yang ia sebut berada "di luar peri kemanusiaan."

"Saya kaget kalau kondisi saat itu, begitu luar biasa sadisnya. Kejadian 1999 dan saya tulis tahun 2000 dan perjalanan konflik sampai 2003."

"Tak mungkin kita ceritakan, karena itu adalah beban sejarah. Generasi muda tak usah memikirkan dan mengetahui apa yang kita alami pada zaman kita. Terlalu berat bagi mereka untuk memikul atau minimal mengetahui bahwa zaman orang tua saya, kakak-kakak saya pernah mengalami beban yang sedemikian luar biasa beratnya."

"Saya bersumpah… luar biasa ngerinya kisah-kisah yang tragis itu, tak harus diwariskan untuk generasi di belakang kita," kata Husen menutup.

Produksi visual oleh Haryo Wirawan

Artikel ini merupakan bagian dari Program BBC #MelintasiPerbedaan #CrossingDivides

Crossing Divides: Berbagai cerita tentang bagaimana orang berinteraksi dalam dunia yang terpolarisasi.

Berita terkait