Banjir di Kabupaten Brebes, petani bawang merah rugi lebih dari Rp 55 milliar

Petani bawang merah Brebes Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Bawang merah dari lahan bekas banjir tampak membusuk

Banjir yang terjadi di Brebes selama hampir sepekan merugikan petani bawang sekitar 55 milliar rupiah. Banyak petani yang tidak dapat mengembalikan utang modal dan meminta agar diberikan bantuan bibit.

Puluhan buruh tani dan petani bawang merah di Desa Pengabean Kramat Kacamatan Losari Kabupaten Brebes, tengah mencabuti tanaman bawang merah di lahan yang terendam banjir pada pekan lalu.

Banjir baru saja surut selama beberapa hari, dan para petani berupaya untuk mencari bawang merah yang masih dapat 'diselamatkan'. Salah satunya Warsah yang memiliki lahan lebih dari setengah hektar.

"Ini mencari yang keras, tapi lebih banyak yang busuknya," kata Warsah.

Warsah, mengatakan pengambilan bawang merah di lahan yang baru terendam banjir lebih sulit dibandingkan panen biasa, karena tanaman terendam lumpur.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Seorang petani Warsah, tengah memilah bawang merah yang busuk dan layak 'dipanen'.

Di Desa Pengabean Kramat ini, saya juga bertemu dengan Masduki, seorang petani bawang merah di lahan seluas tujuh ribu meter. Selama bertani bawang selama lebih dari 20 tahun, Masduki menyebutkan ini banjir terburuk yang pernah dialaminya.

"Paling besar ga pernah seperti ini, semua terendam, ini baru ditengok saya bingung sih," ungkap Masduki.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sejumlah petani dan buruh tani, tengah memilah bawang merah di Desa Pengabean Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes.

Banjir yang menggenangi lahan pertanian di sejumlah kecamatan di kabupaten Brebes ini terjadi akibat curah hujan, meluapnya beberapa sungai dan jebolnya tanggul Cisanggarung.

Abdul Faqih petani bawang yang juga ketua gabungan kelompok tani di Desa Pengabean Kramat Kecamatan Losari Kabupaten Brebes, mengatakan para petani berupaya bergotong royong untuk memompa air dari lahan pertanian namun gagal.

"Kami kerja bakti bagaimana caranya air keluar dengan memasang pompa tiga kerja bakti air datang cepat sekali, luar biasa," kata dia.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Abdul Faqih Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Pengabean tengah mengamati lahan yang terkena banjir selama lima hari.

Kerugian petani

Faqih mengatakan banjir merendam lahan pertanian di sejumlah desa di Kecamatan Losari sekitar lima hari, sehingga menghancurkan tanaman bawang merah seluas 210 hektar.

"Kondisi tanaman tidak dapat diambil sama sekali bahkan busuk sehingga kerugian petani itu mencapai ratusan juta sampai miliaran, dihitung dari bibit, pengolahan dan pengobatan," jelas Faqih.

Salah seorang petani, Masduki mengaku mengalami kerugian Rp 50 juta.

"Bingung kehabisan modal, sampai habis 50 juta, ya utang ga bisa dibayar, "keluh Masduki.

Sebagian besar petani yang mengalami kerugian, meminjam modal dari bank sehingga terancam tak dapat melunasi utang mereka.

"Kami berupaya untuk berbicara dengan bank meminta keringanan, tapi belum ada jawaban, "kata Faqih.

Dia mengatakan ada seorang petani yang mengalami serangan jantung ketika mengetahui lahannya terkena banjir.

"Ada satu orang ya habis melihat lahannya gitu, lalu pulang dan kemudian terkena serangan jantung, jadi sudah memakan korban," kata Faqih.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Selain di Kecamatan Losari, sejumlah kecamatan lain di Kabupaten Brebes juga terkena banjir. Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia, Jauhari menyebutkan empat kecamatan penghasil bawang merah yang tergenang air yaitu Kecamatan Brebes, Wanasari, Songgom dan Jatibarang.

Jauhari mengatakan total lahan pertanian bawang merah yang terendam mencapai 995 hektar, dengan perkiraan total kerugian di empat kecamatan tersebut mencapai Rp 55 milliar.

"Untuk bawang merah itu tidak ada sama sekali yang diselamatkan karena umurnya itu kurang dari satu bulan, kerugiannya sekitar satu hektar mencapai 50 juta rupiah," jelas Jauhari.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Setelah 'dipanen' bawang merah dipisahkan dari daunnya, dan dijual dengan harga rendah

Bantuan bibit

Setelah banjir surut, sejumlah petani di Desa Pangabean tampak tengah membersihkan lahan mereka. Sejumlah petani mengatakan ingin kembali menanam bawang merah, namun terkendala pengadaan bibit.

"Paling tidak kami membutuhkan bantuan bibit, jika tidak ada ya petani tak bisa bangkit dan menanam lagi," ujar Faqih.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto mengatakan belum dapat memastikan apakah akan ada alokasi anggaran bagi para petani bawang merah yang gagal panen.

"Tiap tahun ada alokasi anggaran untuk bantuan, nanti saya cek dulu Brebes dapatnya berapa, nanti kita dorong pada dinas agar diarahkan pada daerah-daerah yang terdampak banjir itu," jelas Prihasto.

Prihasto mendorong petani bawang merah dan petani holtikultura lainnya juga mendapatkan asuransi untuk mencegah kerugian ketika terjadi gagal panen.

"Saat ini memang baru padi, namun saya mendorong untuk tanaman holtikultura juga diasuransikan, sehingga petani tak rugi, apalagi di daerah yang sering banjir," jelas dia.

Dia mengatakan banjir juga tidak terlalu mempengaruhi produksi nasional dan harga bawang di tingkat petani. Prihasto mengakui harga bawang merah sempat naik, tapi tidak terlalu signifikan.

Namun, para petani di kecamatan Losari di kabupaten Brebes mengatakan harga bawang merah dari lahan yang terendam banjir ini hanya dihargai 9.000 rupiah per kilogram atau kurang dari separuh harga di tingkat petani yang mencapai Rp .14.000- Rp 16.000 pada Minggu (04/02).

Topik terkait

Berita terkait