Ketika penyelam Inggris berenang menembus lautan sampah di Nusa Penida

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Pria Inggris ini menyelam dengan banyak sampah plastik.

Seorang penyelam Inggris, Rich Horner merekam kondisi laut di dekat Nusa Penida, Bali yang dipenuhi oleh sampah plastik dan videonya tersebar luas.

Kepada BBC Indonesia, pemerintah Indonesia mengakui bahwa kondisi sampah di lautan memang sudah mencemaskan.

Dalam video yang disebar lewat internet, Rich tampak berenang dan menyelam dengan ditemani oleh sampah-sampah plastik. Bahkan pada satu bagian, ia berenang di bawah sampah-sampah yang terapung.

"Saya pikir sampah-sampah ini berasal dari Indonesia. Tapi dengan banyaknya arus yang melintas di perairan ini, bisa saja sampah ini berasal dari utara, yakni Asia Tenggara," kata Rich.

Terlihat juga sampah-sampah tersebut bergerak terbawa arus yang ada di sekitar Rich dengan ikan-ikan yang ikut berenang bersama sampah-sampah plastik tersebut.

"Kita melihat kadang membentuk awan mengapung dan kemudian pergi dibawa arus dalam hitungan jam," kata Rich. "Jumlahnya mengerikan."

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyampaikan rasa sedihnya melihat kondisi laut yang dipenuhi sampah plastik tersebut.

"Ini bukan yang pertama kali," tegasnya.

Susi kembali menekankan pesan yang selalu diulang-ulang untuk seluruh masyarakat agar tidak membuang sampah ke laut: "Kita harus menjadikan laut sebagai beranda depan rumah, bukan di belakang."

Hak atas foto Rich Horner
Image caption Rich Horner berenang dan menyelam di antara sampah-sampah plastik.

Konfirmasi dari Nusa Penida

Kondisi banyaknya sampah plastik yang tergambar dalam video Rich Horner diakui oleh salah satu pengusaha penyelaman di Nusa Penida, Andri Yusuf.

Menurut Andri, kejadian sampah-sampah itu berkumpul di satu tempat biasanya dipengaruhi oleh air hujan dan arus laut: "Tapi tidak selamanya seperti itu."

Andri menambahkan, sejatinya sampah plastik di lautan sudah banyak, sehingga pada saat-saat tertentu mereka berkumpul di satu titik. "Pada musim tertentu, sampah di laut tiba-tiba berkumpul," ujarnya.

Berkumpulnya sampah di satu titik sebenarnya tidak hanya terjadi di Bali, tambah Andri, karena tempat usaha penyelamannya di Sulawesi juga pernah mengalami hal serupa.

Hak atas foto Dan Kitwood/Getty Images
Image caption Sampah plastik di lautan bisa menyeberang batas negara terbawa arus.

Dan para wisatawan terutama yang berasal dari mancanegara kerap menanyakan hal tersebut kepada Andri.

"Kenapa Indonesia tidak bisa mengurus sampah seperti ini?" kata Andri menirukan pertanyaan tamunya.

Menjawab itu, Andri mengatakan hanya bisa melakukan hal-hal skala kecil atau lokal tempat dia berada: "Misalnya mendidik warga sekitar, mengumpulkan sampah di pantai, dan sebagainya."

Hak atas foto Dan Kitwood/Getty Images
Image caption Sampah plastik di lautan sudah pada kondisi mencemaskan.

"Untuk skala yang lebih besar, saya sudah tidak punya kemampuan," kata Andri dan mendorong pemerintah untuk segera melakukan sesuatu terhadap kondisi sampah-sampah plastik.

Yang dilakukan pemerintah untuk sampah plastik laut

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan sampah plastik di lautan adalah tanggung jawab bersama.

"Karena sampah plastik yang dibawa oleh arus laut yang secara periodik (musim tertentu) muncul di pesisir Bali," kata Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah dan Bahan Beracun Berbahaya, kepada BBC Indonesia.

Seperti dugaan Rich Horner dan Andri Yusuf, Rosa menyebut sampah-sampah dalam video itu dibawa arus laut dari tempat lain, bahkan negara lain: "Bukan dari Pulau Bali dan masyarakat Bali."

Hak atas foto Dan Kitwood/Getty Images
Image caption Jenis sampah plastik yang banyak ditemui di perairan dunia selain kantong plastik.

Sampah plastik yang ada di lautan saat ini sudah pada taraf mencemaskan dengan perkirakan setidaknya delapan juta ton sampah plastik mengalir ke laut setiap tahunnya di seluruh dunia.

Jumlah plastik di lautan itu bisa menutupi area seluas 700.000 hingga 15 juta kilometer persegi. Bahkan penelitian Our Ocean 2017, memperlihatkan jumlah sampah mikro plastik sudah melebihi jumlah plankton yakni hingga 6:1.

Sampah plastik dalam ukuran mini dan mirip plankton dimakan oleh ikan dan biota laut sehingga sampah-sampah mikro pada gilirannya pula menjadi santapan manusia lewat hidangan laut.

Dalam sebuah studi oleh Universitas Hasanuddin Makassar di Pasar Taotere, di dalam 28% ikan dari 55 spesies yang menjadi sampel, bisa ditemukan kandungan plastik antara 0,1 sampai 1,6 mm di perutnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, pernah membenarkan kondisi darurat sampah di Indonesia: "Pada 2005 timbunan sampah 11 persen, naik jadi 15 persen pada 2015."

Indonesia menduduki posisi kedua sebagai penghasil sampah plastik dunia, setelah Cina, dengan data Kementerian LHK menyebutkan sampah plastik adalah 14% dari total sampah Indonesia, sekaligus sampah padat kedua setelah sampah organik.

Sampah padat lainnya di bawah plastik adalah kertas (9%), karet (5,5%), logam (4,3%), kain (3,5%), kaca (1,7%), dan lainnya (2,4%).

Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan juga mengatakan perlu kerja sama internasional untuk menangani sampah plastik di laut dan meminta agar tidak saling menyalahkan satu sama lain.

"Terkadang orang melihat Indonesia sebagai korban (sampah plastik di laut) karena posisi yang strategis," kata Luhut di Konferensi Kelautan Dunia PBB di New York, pada pertengahan tahun lalu.

Selain sampah, tambah Luhut saat itu, ada juga masalah kelautan lainnya seperti illegal fishing dan kerusakan alam laut: "Yang utama adalah bagaimana mengatasi masalah sampah, illegal fishing, lalu mengimplementasikannya."

Hak atas foto Paula Bronstein/Getty Images
Image caption Daur ulang dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan jadi salah satu solusi.

Untuk itu, pemerintah merencanakan untuk memasukkan masalah sampah kelautan dalam kurikulum sekolah, bersamaan dengan upaya meminimalkan pembuangan sampah ke laut.

Pemerintah Indonesia juga menyatakan komitmennya dalam mengurangi sampah plastik pantai hingga 70% pada 2025, yang disampaikan dalam konferensi COP 23 UNFCCC di Bonn, Jerman, akhir tahun lalu.

"Dalam arti lain, pada tahun 2025 sudah zero waste (nol sampah). Tidak ada lagi sampah yang dibuang ke media lingkungan, apalagi laut," pungkas Roza Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah dan Bahan Beracun Berbahaya.

Berita terkait