Serang Megawati, Prabowo hingga Rizieq Shihab, penyebar hoaks 'dapat ribuan dolar dari iklan'

hoaks Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption KB, pria yang diduga menyebar hoaks selama setahun, diduga meraih ribuan dolar AS dari pemasangan iklan di blog miliknya.

Kepolisian menangkap pria berinisial KB, tengah pekan ini, yang diduga memproduksi berita bohong alias hoaks tentang sejumlah figur, dari Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, hingga Rizieq Shihab.

Berbeda dengan kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang dituding menyebar hoaks berbasis ideologi, KB diduga melakukan perbuatan pidana dengan motif ekonomi, meski muncul dugaan ingin balas dendam karena agamanya kerap didiskreditkan.

"Dia dapat keuntungan secara finansial. Terakhir dia tercatat punya US$900 dari Google adsense," kata Kepala Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber Polri, Kombes Irwan Anwar, di Jakarta, Kamis (08/03).

Irwan berkata, KB diduga mengunggah berbagai berita bohong bernuansa SARA dan ujaran kebencian tersebut ke suatu blog.

KB, kata Irwan, lalu mengambil alih setidaknya 1.000 akun Facebook secara ilegal dan melalui akun itu pula dia menyebarkan tautan berbagai berita bohong yang telah diunggah ke blog.

Irwan meminta pers tidak menayangkan beberapa bukti artikel berita bohong yang diproduksi KB karena berisi kata-kata kasar dan vulgar.

Selain hoaks tentang sejumlah figur, KB disebut juga menyebar isu Yahudi-Palestina dan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Saat dikonfirmasi, KB mengaku tidak berjeraring dengan kelompok manapun dan memproduksi berita bohong dengan inisiatif pribadi.

"Tidak ada unsur dibayar siapapun. Tujuannya untuk cari makan saja. Seratus-dua ratus ribu rupiah saja (per hari)," tegas KB.

Menurut koordinator gerakan #BijakBersosmed, Enda Nasution, pemilik blog yang ramai dikunjungi pengguna internet memang dapat meraih penghasilan dari iklan.

Penghasilan itu berasal dari sejumlah penyedia layanan iklan di internet, antara lain Google Adsense dan Google Adwords.

"Jumlah penghasilan lumayan besar, bisa sampai ribuan dolar AS per bulan, tergantung traffic (lalu lintas pembaca blog). Tapi itu bukan penghasilan yang sifatnya tetap, terutama kalau konten blog dilaporkan atau melanggar syarat dari penyedia layanan," ujar Enda kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto DETIKCOM/Hilda Meilisa
Image caption Kelompok yang menamakan diri Muslim Cyber Army diduga menyebarkan berita bohong tentang penyerangan pemuka agama.

Lebih dari itu, Enda menilai KB merupakan produsen berita bohong dalam kategori yang paling rendah mengingat penyebaran hoaks bermotif ekonomi relatif mudah dihentikan melalui pengaduan kepada penyedia layanan media sosial.

Enda menyebut kelompok Saracen dan Muslim Cyber Army lebih gencar dan terorganisasi dalam membuat dan menyebar hoaks.

Menurut Enda, Saracen bertindak atas dasar ekonomi, walau setiap anggotanya memiliki kecenderungan politik tertentu sedangkan Muslim Cyber Army -merujuk pernyataan kepolisian- bertindak berdasarkan ideologi.

"Yang saya takutkan justru penyebar hoaks dengan basis ideologi. Mereka tidak dibayar atau secara sukarela menyebarkan berita bohong."

"Mereka menghalalkan segala cara dengan tujuan menimbulkan keresahan atau ketakutan. Menggabung kejadian yang ada dengan berita bohong di media sosial," tutur Enda.

Hak atas foto Detikcom/Deden Rahadian
Image caption Tak hanya Jakarta, penindakan terhadap penyebar hoaks dilakukan pula di berbagai daerah, seperti Surabaya, Tasikmalaya, dan Medan.

Melalui gerakan bijaksana bermedia sosial, Enda mendorong warganet giat memverifikasi berita yang beredar di internet.

"Jika fabrikasi atau yang sama sekali fitnah, tidak ada gabungan kejadian atau fakta, itu hoaks yang paling gampang diverifikasi," ujarnya.

Pada 2016, kepolisian di Jakarta menindak setidaknya 300 media sosial dan media online yang menyebar berita palsu sementara sepanjang tahun 2017, Polri menerima setidaknya 4000 laporan terkait hoaks.

Setelah tahun lalu menindak Saracen, Februari lalu kepolisian membongkar jejaring hoaks bernama Muslim Cyber Army.

Delapan admin kelompok itu yang diduga mengelola berbagai akun penyebar hoaks telah ditetapkan menjadi tersangka namun kepolisian sampai saat ini masih mencari otak intelektual di baliknya.

Topik terkait

Berita terkait