Kematian anak akibat gizi buruk di Asmat berlanjut meski KLB sudah berakhir

Meski KLB sudah berlalu sebulan, korban tewas gizi buruk masih ada di Asmat Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/GETTY IMAGES
Image caption Meski KLB sudah berlalu sebulan, korban tewas gizi buruk masih ada di Asmat.

Sebulan setelah status kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Asmat, Papua dicabut, kematian anak akibat gizi buruk masih terjadi.

Berbagai kondisi, termasuk pemahaman orang tua, menjadi kendala kesehatan di lapangan.

Status KLB akibat gizi buruk dan campak di Asmat dicabut sejak 5 Februari 2018. Tercatat korban meninggal mencapai 72 anak-anak, yakni 66 karena campak, dan enam karena gizi buruk.

Dari jumlah itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sebanyak delapan anak meninggal di rumah sakit, sementara sisanya meninggal di kampung.

Namun pasca-KLB dicabut, masih ada anak-anak yang meninggal dunia akibat gizi buruk. Salah satunya adalah Priskila (5 tahun) yang meninggal pada 4 Maret 2018.

Priskila sebenarnya sudah pulang dan dikembalikan ke keluarga namun kembali kambuh dan sempat dibawa orang tuanya ke RSUD Agats. Oleh dokter dan perawat, Priskila kemudian dirujuk ke RS di Timika.

Namun orang tua korban menolak anaknya dibawa ke Timika. "Hinga akhirnya meninggal keesokan harinya," kata M. Nokir Sandadua, Plt Direktur RSUD Asmat di Agats, Minggu (11/03).

Selain Priskila ada satu lagi korban meninggal dunia pasca-KLB dicabut. "Benar ada juga, tepatnya bulan lalu," kata Kepala Penerangan Kodam Cendrawasih, Kolonel Muhammad Aidi, kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Masih ada anak-anak yang dirawat di RSUD Agats karena gizi buruk.

Kondisi pasca-KLB campak dan gizi buruk di Asmat

Selama KLB, berbagai penanganan kesehatan dilakukan pemerintah Indonesia. Antara lain memberikan vaksinasi terhadap lebih dari 10.000 anak Asmat yang ada di 224 kampung di 23 distrik, dan perawatan para korban di RSUD Agats.

Pasca-KLB, pemerintah juga masih melanjutkan program pemenuhan gizi dan pendampingan bagi keluarga yang anak-anaknya mengalami gizi buruk.

Ketika KLB dihentikan, di RSUD Agats ada 12 pasien yang masih dirawat inap, terdiri dari sembilan anak gizi buruk, dan tiga anak karena campak. "Sekarang juga masih ada beberapa anak," kata Nokir.

Menurut Nokir, para orang tua di Asmat sudah punya sedikit pemahaman soal manfaat pelayanan kesehatan. "Misalnya kalau anaknya sakit sudah langsung dibawa ke puskesmas atau rumah sakit," kata dia.

Hak atas foto KEMENKES
Image caption Kemajuan yang terjadi di Asmat adalah kesadaran orang tua untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Senada dengan Nokir, Kolonel Muhammad Aidi mengatakan secara umum, kondisi di Asmat sudah membaik dan jumlah pasien menurun. "Tinggal pendampingan saja," kata Aidi kepada BBC Indonesia.

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, menyebut campak dan gizi buruk ini disebabkan karena berbagai faktor, 40% disebabkan oleh lingkungan dan perilaku sosial yang berpengaruh pada kesehatan.

"Sosio budaya di sana, kebersihan dan kesehatannya masih rendah. IPM (Indeks Pembangunan Manusia) masih jauh di bawah rata-rata nasional," kata Nila, dalam rapat konsultasi dengan DPR, bulan lalu.

Kendala yang dihadapi pasca-KLB

Salah satu kendala yang dihadapi Asmat pasca dicabutnya status KLB adalah ketersediaan tenaga medis, terutama kedokteran. Dari total 16 puskesmas yang ada, sebagian besar tidak ada dokter.

"Sebagian besar puskesmas tidak ada dokter, cuma mantri dan suster saja," kata Kolonel Aidi.

Alasannya, "Rata-rata dokter tidak mau ditempatkan di pedalaman yang tidak ada infrastrukturnya," kata Aidi. Untuk itu, sementara dikirim tim kesehatan dari TNI dan Kementerian Kesehatan yang berdasarkan penugasan.

Infrastruktur transportasi juga menjadi kendala yang signifikan. Menurut Aidi, meski warga sudah punya kesadaran untuk membawa anaknya ke fasilitas kesehatan, namun mereka terhambat tranportasi.

"Jaraknya terlalu jauh. Butuh perjalanan lebih dari lima jam dengan menggunakan kapal untuk menjangkau mereka," kata Aidi.

Hak atas foto KEMENKES
Image caption Infrastruktur, terutama transportasi, masih menjadi kendala pelayanan kesehatan di Asmat.

Selain dari faktor-faktor eksternal itu, ada juga kendala dari internal warga Asmat sendiri. Kematian Priskila adalah salah satu contoh minimnya pemahaman soal pentingnya tindakan medis.

Kolonel Aidi menyebutkan banyak menemukan kondisi di mana bekal tambahan gizi berupa makanan dan susu buat anak-anak yang dibawa pulang, dihabiskan oleh orang tua atau orang dewasa.

"Kami menemukan beberapa anak yang berat badannya turun secara signifikan. Ternyata bekal yang diberikan dihabiskan bapak dan ibunya," kata Aidi.

"Oleh karena itu, lanjut Aidi, program pendampingan dan edukasi kepada keluarga di Asmat masih perlu terus dilakukan. Harus dilakukan secara manual, setiap hari datangi rumah mereka," ujar Aidi.

Berita terkait