Dari 1965 hingga slogan 'piye kabare enak jamanku toh': Suharto dibenci, Suharto dirindukan

Presiden Suharto Hak atas foto AFP/JOHN MACDOUGALL
Image caption Presiden Suharto dan pimpinan AD, AL, AU dan kepolisian saat peringatan HUT TNI, 5 Oktober 1995.

Dua puluh tahun sesudah reformasi, dua puluh tahun sudah Suharto jatuh: sosok yang oleh sebagian dicerca sebagai penyebab keterpurukan negeri dan pelanggaran HAM, sementara sebagian lagi menganggapnya sosok yang membawa stabilitas dan kepastian yang kini dirindukan.

Ketika situasi politik nasional makin memanas, yang ditandai perlawanan terhadap rezim Suharto oleh kelompok mahasiswa dan kelompok oposisi pada 1998, pemuda kelahiran 1974 ini berada di pusat perubahan.

Savic Ali, nama mahasiswa ini, bersama aktivis mahasiswa 1998 dan kelompok oposisi lainnya, memilih berada di depan, menentang kekuasaan Suharto hingga akhirnya menumbangkannya.

"Saya pertama kali aktif sebelum Forum Kota (Forkot) terbentuk, hingga terlibat demonstrasi-demonstrasi besar seperti pendudukan DPR dan setelah Suharto jatuh," Savic mengingat lagi peristiwa 20 tahun silam saat berstatus aktivis mahasiswa.

Dua puluh tahun kemudian, Savic terlibat lebih jauh dalam aktivitas mengkampanyekan nilai-nilai Islam moderat untuk menangkis penyebaran nilai-nilai anti toleran dan paham kekerasan yang menyebar melalui media online.

Hak atas foto Rusdi Marpaung/Facebook
Image caption Savic Ali (tengah), salah seorang aktivis mahasiswa 1998 yang ikut memotori perlawanan terhadap rezim Suharto.

Tiga media online yang dipimpinnya, NU online, NUtizen dan Islami.co, merupakan salah-satu pionir yang terus mengkampanyekan Islam moderat.

'Saat ini kita memiliki kebebasan'

"Secara umum saya masih bersyukur dengan Indonesia hari ini," kata Savic ketika ditanya apa yang membedakan Indonesia saat ini dengan situasi ketika Suharto menjadi presiden.

"Karena, kita memiliki kebebasan yang tidak kita miliki saat itu." Dia secara terus terang menyebut Indonesia saat itu adalah negara totaliter. "Ibaratnya kita mau melakukan sesuatu, bisa dianggap salah dan ditangkap oleh negara."

Dia memberikan contoh nasib tapol 1965 yang "dipenjara tanpa pengadilan." Sebuah kenyataan yang tak lagi terlihat di masa sekarang, katanya menekankan.

Secara simbolis, dia mengibaratkan unjuk rasa mahasiswa yang dulu dihadang dihadan aparat TNI dengan senjata lengkapnya. "Sekarang orang bebas demo tanpa dihadang TNI."

Hak atas foto JOHNNY EGGIT/AFP
Image caption Unjuk rasa aktivis di London, Inggris, 20 Mei 1998, menuntut agar Presiden Suharto turun dari kursi presiden.

Atmosfir kebebasan itulah yang membedakan dengan masa-masa ketika Suharto masih berkuasa. "Sekarang kita berdiskusi, mengkritik dan bahkan memaki-maki presiden di sosial media. Dulu memaki Pak Harto, bisa masuk penjara dan bahkan bisa 'dihilangkan'."

Tentu saja, Savic juga mengaku memendam rasa kecewa setelah dua puluh tahun reformasi. Dia dan teman-temannya dulu memimpikan setelah Suharto turun dari kursi presiden, itu bisa menjadi gerbang "tegaknya masyarakat yang adil, makmur dan beradab."

"Ini yang belum terwujud," kata Savic dengan intonasi pelan. Tetapi, sambungnya cepat-cepat, Indonesia sata ini jauh lebih beradab jika dibandingkan jaman Orba.

Hak atas foto Getty Images/Ulet Ifansasti
Image caption Eko Soetikno, 77 tahun, eks tapol 1965 yang pernah dibuang ke Pulau Buru, menunjukkan fotonya dan rekan-rekannya sesama eks tapol yang tak pernah diadili.

"Karena ada koridor hukum yang membatasi aparat negara. Kita juga lebih adil dibanding Orba. Karena di jaman itu, kalau ambil tanah, diambil saja dan rakyat diusir begitu saja."

"Sekarang, kalau ada pembebasan lahan, warga bisa negosiasi," tandasnya. Meskipun dia mengakui bahwa hukum belum bisa menjangkau para pihak yang memiliki kekuasaan lebih.

Savic juga mengakui saat ini ada masalah yang disebutnya "agak menganggu" adalah muncul dan menguatnya kelompok intoleran terhadap kelompok-kelompok minoritas.

"Yang ini di jaman Orba tidak terjadi, karena negaranya sangat kuat dan otoriter. Ngomong SARA sedikit ditangkap. Sekarang orang SARA di mana-mana."

Melihat kondisi seperti itu, pria yang memiliki latar organisasi Nahdlatul Ulama (NU) memilih tidak berpangku tangan. Bersama rekan-rekannya, dia terus mengkampanyekan nilai-nilai Islam moderat untuk menangkis penyebaran nilai-nilai anti toleran dan kekerasan.

'Kejahatan terbesar Suharto: Tragedi 1965'

Dua puluh tahun setelah Suharto dipaksa turun dari kursi kekuasaan, Bedjo Untung, kini berusia 70 tahun, terus bersuara lantang menuntut agar pemerintah menuntaskan tragedi 1965.

Bersama Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, Bedjo Untung - yang dihukum penjara selama sembilan tahun, plus siksaan, tanpa melalui proses peradilan oleh Rezim Orde Baru - berkampanye terus-menerus agar tragedi itu diselesaikan melalui proses hukum.

Hak atas foto AFP
Image caption Tuntutan agar pemerintah mengungkap kasus pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh simpatisan atau anggota PKI telah disuarakan secara terbuka sejak berakhirnya rezim Orde Baru pada 1998.

Namun usahanya itu belum juga membuahkan hasil. Walaupun sudah menjadi sudah agenda reformasi, tuntutan peradilan HAM atas tragedi itu hilang disapu waktu, sementara penyelesaian secara rekonsiliasi tak juga menemukan bentuknya.

"Reformasi 1998 mengalami kegagalan," pekik Bedjo Untung, agak kesal, menanggapi belum diselesaikannya juga tragedi 1965 yang mengakibatkan lebih dari 500 ribu orang yang dikategorikan "kiri" saat itu dibunuh dan dibuang ke Pulau Buru.

Usianya Bedjo Untung belum genap 17 tahun ketika kasus pelanggaran hak asasi manusia dalam tragedi 1965 itu terjadi.

Ketika itu, keluarganya menjadi berantakan, ketika ayahnya dicap anggota Partai Komunis Indonesia, PKI, dan dibuang ke Pulau Buru, tanpa diadili, bersama ribuan orang-orang senasib seperti ayahnya.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Usianya Bedjo Untung belum genap 17 tahun ketika kasus pelanggaran hak asasi manusia dalam tragedi 1965 itu terjadi. "Masa muda saya hilang percuma," katanya mengenang saat dirinya dipenjara tanpa diadili.

Bedjo Untung kemudian dikejar-kejar oleh aparat Orde Baru, sebelum akhirnya tertangkap lima tahun kemudian.

"Masa muda saya hilang percuma," kata Bedjo. Dia kemudian dihukum penjara selama sembilan tahun, plus siksaan, tanpa melalui proses peradilan. "Dan saya tidak tahu berapa lama di dalam tahanan."

Meskipun akhirnya dia dibebaskan pada 1976, pria kelahiran 14 Maret 1948 ini menyatakan, tidak dapat memaafkan Presiden Suharto, yang dianggapnya bertanggungjawab atas tragedi 1965 tersebut.

"Itulah kejahatan paling besar terhadap kami para korban. Ini yang belum dipertanggungjawabkan," katanya.

Karena itulah, Bedjo merasa heran ketika belakangan muncul pendapat di kalangan masyarakat yang memunculkan bahwa seolah-solah Pak Harto adalah pahlawan.

Dia menyebut gejala ini sebagai "kebangkitan rezim otoriter Orde Baru".

Kisah pengagum Suharto

Di ruangan seluas sekitar 500 meter persegi itu bertebaran wajah Suharto. Ia dilukis dalam berbagai gaya, momen, dan mimik. Mulai dari yang berpakaian militer dengan tangan menghormat, bersama Soekarno, dan juga yang bersisi-sisian dengan Jenderal Sudirman.

Semua imaji itu tersaji dalam kanvas berbagai ukuran, hasil lukisan Djoko Timun. Pria bernama asli Djoko Mursabdo itu adalah seniman pengagum Suharto yang tinggal di Yogyakarta. Kecintaannya terhadap Suharto diwujudkan dalam bentuk karya lukis.

Hak atas foto Switzy Sabandar
Image caption Masih banyak masyarakat Indonesia yang merindukan dan mengagumi Suharto

Selain mencintai Suharto, Djoko juga kagum pada Presiden kedua Indonesia itu. "Saya hanya mengekspresikan kekaguman saya, terlepas baik dan dan buruknya, beliau adalah bagian dari sejarah bangsa," kata Djoko kepada wartawan di Yogyakarta Switzy Sabandar.

Beberapa hal yang dipuji Djoko dari Suharto antara lain gaya kepemimpinan, pembangunan semasa pemerintahannya, karisma, hingga gaya hidup Jawa dan nilai-nilai kejawen yang dianutnya.

Di luar hal-hal itu, Djoko sejatinya punya pengalaman tak terlupakan yang membuat pria 58 tahun itu semakin membanggakan Suharto. Peristiwa itu terjadi pada pertengahan 1990 silam.

Ketika itu Suharto berkunjung ke Yogyakarta guna meresmikan Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia. Kebetulan rumah Djoko berdekatan dengan kampus dan rombongan presiden akan melewatinya.

Hak atas foto Switzy Sabandar
Image caption Djoko menunjukkan kecintaannya terhadap Suharto dengan karya lukis

Ia menyiapkan anak-anak untuk mengayunkan bendera kecil di tangan ketika Suharto melintas. Tak disangka, mobil kepresidenan berisi Suharto dan ibu negara Tien Suharto, berhenti di depannya.

Dengan jendela terbuka, Suharto dan Ibu Tien melambaikan tangan ke arah Djoko dan anak-anak. Ia membalas dengan membungkukkan badan ke arah mereka. Air mata haru menetes di pipinya. "Saya tak menyangka. Takjub," ujar Djoko.

Kejadian itu membuat lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu semakin kagum dan menuangkan kekagumannya dalam karya lukis. Total ia sudah melukis lebih dari 70 karya bertema Suharto dan ada karyanya yang dibeli oleh putri Suharto, Titiek.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/Getty Images
Image caption Salah satu yang dikagumi dari Suharto adalah gaya kepemimpinannya yang tegas

Bentuk-bentuk kecintaan terhadap Suharto lainnya

Selain Djoko, para pecinta dan pengagum Suharto masih banyak. Bahkan sebagian bisa dijumpai di jalanan, yakni truk yang bergambar Suharto dengan tulisan 'Piye kabare, iseh penak jamanku to...'

Selain dalam bentuk karya, ada juga yang menunjukkan kecintaannya terhadap Suharto dengan mengunjungi Museum Suharto di Yogyakarta dan makamnya di Astana Giribangun, Solo, Jawa Tengah.

Pengunjung kedua situs yang merupakan bentuk penghormatan terhadap Suharto itu, ramai dikunjungi orang. Rata-rata pengunjung museum tiap hari 500 orang, sementara makamnya 300 orang. Angka itu akan melonjak di hari-hari libur dan hari besar lainnya.

"Peziarahnya memang beraneka ragam. Saya beberapa kali melihat peziarah yang begitu tiba di dalam makam terus menangis, ingat almarhum," kata juru kunci Makam Astana Giribangun, Sukirno kepada kontributor BBC Indonesia Fajar Sodiq.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Para pengagum Suharto kerap datang ke makamnya untuk memanjatkan doa

Sukirno mencatat ragam pengunjung makam Suharto membentang dari warga biasa, pengurus Partai Berkarya, hingga jenderal yang menjadi panglima salah satu Kodam. "Dari Sabang sampai Merauke," ujarnya.

Hal yang sama juga didapati di Museum Suharto yang ada di Dusun Kemusuk, Bantul. Variasi orang yang berkunjung mulai dari yang hendak bernostalgia jaman Suharto, hingga yang masih muda dan tak mengalami pemerintahan jaman Suharto.

Beberapa tokoh yang pernah mengunjungi museum itu antara lain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Gerindra Prabowo, hingga keturunan Suharto. "Yang lumayan sering Mbak Titiek dan Mbak Tutut," kata Gatot Nugroho, wakil kepala museum.

Pardiono, 64 tahun, adalah salah satu contoh yang merindukan jaman Suharto. Pria pensiunan Dinas Dinas Pekerjaan Umum DIY itu datang bersama kelompok lanjut usianya yang berasal dari Baturetno, Bantul.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Suprobo, seorang pengagum Suharto, menilai ketegasan ala Suharto dibutuhkan untuk stabilitas politik

Mereka khusus berkunjung ke museum itu untuk mengenang kepemimpinan Suharto, sekaligus merayakan ulang tahun paguyubannya. "Saya tidak mau membandingkan pemerintahan beliau dengan yang sekarang," kata Pardiono.

Menurut dia, setiap pemerintahan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ditanya soal tudingan pelanggaran HAM dan korupsi yang melekat pada Suharto, Pardiono menjawab, "Itu politik, saya tidak tahu.

Seribu satu alasan untuk mencintai Suharto

Orang-orang seperti Pardiono biasanya mendambakan kepemimpinan Suharto yang dinilai tegas dan keamanan terjamin. "Mereka membandingkan Orde Baru dan jaman pasca reformasi," kata Wakil Kepala Museum Suharto, Gatot Nugroho.

Menurut Gatot, era reformasi pasca Suharto belum memenuhi keinginan rakyat. Pasalnya, masih banyak yang merindukan kepemimpinan Suharto. "Jika reformasi berhasil, nama Suharto pasti tenggelam," kata dia.

Bahkan, lanjut Gatot, ada juga pengunjung yang datang dan menangis merindukan jaman Suharto. "Ada yang sampai pelataran Gedung Atmosudiro saja, sudah menangis karena teringat jaman dia bekerja dulu," ujarnya.

Hak atas foto Paula Bronstein/Getty Images
Image caption Selain ketegasan dan stabilitas politik, pembangunan Suharto juga dipuji penggemarnya

Ketegasan Suharto dalam memimpin, pemenuhan kebutuhan ekonomi, hingga jaminan keamanan menjadi hal-hal yang didambakan penggemarnya. Seperti yang diungkapkan Suprobo, 63 tahun, penggemar Suharto asal Solo.

Menurut Suprobo, ketegasan ala Suharto bermanfaat menghadapi ancaman kestabilan politik. "Dulu keamanan terjamin. Dulu tidak ada yang namanya peristiwa bom," kata Suprobo yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang pakaian di Coyudan, Solo itu.

Hal yang kurang lebih sama yang menjadi alasan didirikannya Partai Berkarya, yang dipimpin putra bungsu Suharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Suharto. Nama besar keluarga Cendana menjadi jualan utama Partai Berkarya ini.

Hak atas foto KOMPAS/KRISTIANTO PURNOMO
Image caption Partai Berkarya pimpinan Tommy Suharto mengusung program Suharto yang belum selesai

"Di era Suharto, punya sejarah bagus untuk swasembada pangan dan keamanan terjamin. Pak Tommy ingin meneruskan kinerja ayahnya yang belum terselesaikan," fungsionaris sekaligus mantan Ketua Umum Partai Berkarya, Neneng A. Tuty saat ditemui di Astana Giribangun.

Salah satu program partai ini adalah trilogi pembangunan yang terdiri dari stabilitas nasional dinamis, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pemerataan pembangunan. Di Komisi Pemilihan Umum, partai ini tercatat memiliki lebih dari 400 ribu anggota.

Dalam rapat pimpinan nasional Partai Berkarya di Karanganyar, pertengahan Maret lalu, Tommy menyebutkan target pencapaian, yakni meraup 18 juta suara dan 80 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. "Untuk Indonesia yang lebih maju, lebih sejahtera, lebih adil dan makmur," kata Tommy.

Berita terkait