NTB berupaya tingkatkan kunjungan turis empat juta orang dengan wisata halal

Lombok Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia

Indonesia berada di urutan keempat dalam Halal Travel Indicator, sebuah sistem peringkat yang diinisiasi Thomson Reuters berkolaborasi dengan DinarStandard memuat daftar 10 negara teratas di dunia yang dianggap memiliki perkembangan perjalanan wisata halal yang baik.

Dalam beberapa tahun terakhir ini pemerintah Indonesia gencar mempromosikan tujuan wisata halal, salah satunya di Lombok, Provinsi NusaTenggara Barat.

Di sentra tenun, Muhammad Adi Farchan pemilik agen tur mengajak tamunya satu keluarga dari Surabaya ke salah satu pengrajin tenun khas Lombok di Desa Sukarara.

Selama dua tahun terakhir dia mendirikan perusahaan perjalanan wisata yang berlabel halal. Ketika memasuki waktu salat, dia pun mengingatkan tamunya dan menunjukkan tempat salat di lokasi tersebut.

Farhan mengatakan wisata halal di Lombok menjadi alternatif bagi turis terutama keluarga yang selama ini hanya berkunjung ke Bali.

"Alternatif wisata selain Bali yang bisa dikenal dengan halalnya makanan dan destinasi yang tidak terlalu banyak mengumbar aurat wisatawannya," kata dia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Destinasi wisata paling halal sedunia ada di Indonesia

Hujan deras yang mengguyur Lombok pada akhir Januari lalu, mengurungkan niat Farchan untuk membawa kliennya ke pantai, dan menggantinya dengan wisata budaya salah satunya ke desa penghasil kain tradisional.

Pantai yang indah dengan pasir putih memang merupakan daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung ke Lombok, atau daerah lain di NTB.

Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia

Bagaimana konsep wisata halal di NTB?

Selain pantai, banyak wisatawan juga memilih Lombok juga karena alasan agama, mereka mencari daerah yang menyediakan makanan halal. Pada 2015 dan 2016 daerah ini dinobatkan sebagai "destinasi wisata halal terbaik di dunia" dalam acara tahunan industri perjalanan Muslim.

"(Sejumlah penghargaan) Itu menjadi tonggak awal bagaimana halal itu menjadi jualan dari pariwisata NTB," jelas Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Mohammad Faozal.

Menurut Faozal, sebelum mendapatkan sejumlah penghargaan tersebut, nuansa Islam sudah melekat dalam wisata Lombok, antara lain daerah berpenduduk lebih dari 90% Muslim ini sudah dikenal dengan sebutan "Pulau dengan 1.000 masjid".

Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia
Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia
Image caption Wisatawan berfoto di depan Islamic Center di Mataram, NTB.

Pada 2016, pemerintah NTB menerbitkan perda mengenai wisata halal yang merupakan pertama di Indonesia. Dalam perda tersebut diatur layanan bagi restoran, spa, hotel dan penyelenggara wisata lainnya yang memiliki sertifikasi halal.

"Semua restoran di hotel itu sudah kita sertifikasi halal secara bertahap, layanan di hotel sudah menggambarkan bagaimana daerah ini sudah menjadi pioneer halal tourism di Indonesia," jelas Faozal.

Salah satu yang diatur antara lain; untuk restoran yang memiliki sertifikasi halal, maka tidak akan menyajikan alkohol dan juga daging babi atau makanan lain yang diharamkan menurut Islam. Untuk spa, dipisahkan layanan laki-laki dan perempuan. Sedangkan untuk hotel dan tempat wisata lain wajib menyediakan ruangan permanen dan perlengkapan untuk salat.

"Ketika (wisatawan) yang muslim check in, maka wajib hotel ini menyediakan fasilitas bagi yang bermalam di hotel ini bisa melaksanakan ibadahnya, ada sajadah, al Qur'an bagi yang mau baca dan ada musala yang secara permanen disediakan," jelas Faozal.

Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia
Image caption Salah satu kamar hotel yang menyediakan perlengkapan ibadah.
Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia
Image caption Mukenah dan al Qur'an disediakan di 'halal room'.

Namun, Faozal mengatakan konsep wisata yang dianut oleh NTB tidak akan memisahkan turis laki-laki dan perempuan secara permanen.

"Konsepnya lebih pada penyediaan kebutuhan dasar para turis Muslim saja, makanan halal dan beribadah, dan tidak secara permanen memisahkan laki-laki dan perempuan, dan tidak mendikotomikan ini layanan halal dan tidak halal, ini adalah pilihan bagi wisatawan," jelas dia.

Dia mengaku konsep wisata halal ini tidak membatasi cara berpakaian para turis di tempat-tempat wisata.

Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia

Studi Mastercard-cresent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2016 lalu menyebutkanpada 2015 lalu jumlah wisatawan Muslim dunia mencapai 117 juta.

Bagaimana tanggapan penyelenggaran wisata?

Dinas Pariwisata NTB menyebutkan konsep wisata halal ini mendapatkan dukungan dari penyelenggara wisata karena terbukti minat hotel ataupun restoran untuk mendapatkan sertifikasi halal semakin meningkat.

Marti yang merupakan marketing and public relation executive Hotel Novotel di Lombok melihat turis Muslim sebagai pasar yang potensial, dan menyediakan fasilitas bagi mereka yaitu restoran bersertifikat halal dan juga kamar yang dilengkapi sarana ibadah.

"Untuk memperluas segmen pasar kita, jadi ke Timur Tengah dan tamu-tamu dari domestik juga karena di Indonesia mayoritas Muslim jadi (dengan sertifikat halal) tak ada keraguan lagi tamu-tamu kita untuk makan di restoran kita," jelas Marti.

Meski begitu, dia mengatakan masih menyediakan minuman beralkohol di bar hotel, untuk tamu-tamu yang menginginkannya.

"Menu mereka kita sediakan, minuman berakohol masih ada," kata Marti.

Dia mengatakan sertifkat halal pada restoran itu secara signifikan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Muslim.

Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia
Image caption Semakin banyak restoran yang bersertifikat halal.

Sementara, Belo pemilik toko tenun mengatakan kedatangan wisatawan Muslim juga meningkatkan penjualan kain tenun dengan nuansa Islam.

"Ada motif yang terkenal di desa kami ini namanya motif subhanale, itu kan diambil dari kata berbau religi Subhanallah," kata Belo.

Wisata halal ini menjadi juga berkah untuk Anas, mantan TKI di Arab Saudi ini mengaku sering menjadi pemandu tamu dari negara Timur Tengah karena kemampuannya berbahasa Arab.

"Alhamdulillah meningkat jumlahnya, mereka tertarik dengan alamnya, jalanan ga macet, mayoritas muslim di sini, katanya di sini di mana-mana kita dengar adzan dan kalau mau makan tidak was-was," kata Anas.

Hak atas foto Haryo Wirawan/BBC Indonesia
Image caption Pemda NTB targetkan empat juta orang wisatawan pada 2018.

Bagaimana dengan wisatawan?

Dinas Pariwisata NTB menargetkan empat juta kunjungan turis pada 2018, meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 3,5 juta orang. Dua juta orang diantaranya, menurut Faozal merupakan wisatawan mancanegara, sebagian dari Malaysia dan juga Timur Tengah.

Dia optimstis, kunjungan wisatawan akan meningkat setelah adanya penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Lombok.

Pemilik agen perjalanan wisata, Farchan mengatakan seringkali menerima tamu dari wisatawan Malaysia. "Mereka senang karena adanya layanan halal, " kata dia.

Tak hanya bagi wisatawan mancanegara dari negara Muslim, bagi wisatawan domestik label wisata halal juga sama pentingnya. Setidaknya bagi Bayu Pujo Prasetyo, turis dari Surabaya yang ditemui di sentra tenun Desa Sukarara.

"Saya juga Muslim jadi wajib makan makanan halal dan memilih Lombok karena daerah ini banyak Muslimnya," kata Bayu.

Sementara itu, John Lucas, wisatawan dari Irlandia mengaku tidak mempermasalahkan jika restoran atau hotel tidak menyediakan alkohol atau babi.

"Saya pikir Lombok lebih dari sekedar makanan dan minuman, tapi orang-orang dan pemandangannya, jadi saya akan tetap datang ke Lombok meski saya tidak dapat makan babi dan minum, meski mungkin itu mengurangi kesenangan," kata dia sambil tertawa.

Berita terkait