Sedikitnya 2.000 orang berunjuk rasa tuntut pemidanaan Sukmawati Soekarnoputri

aksi anti sukma Hak atas foto BBC Indonesia

Ketua MUI sudah menyerukan penghentian pelaporan dan pembatalan unjuk rasa, namun Persaudaraan Alumni 212 tetap menggelar protes terhadap puisi Sukmawati Soekarnoputri, yang diikuti sedikitnya 2.000 orang.

Massa yang memakai atribut baju koko dan peci putih berjalan kaki dari Masjid Istiqlal ke Bareskrim Polri di kawasan Gambir yang berjarak kurang dari dua kilometer

Mereka menamakan unjuk rasa itu Aksi Bela Islam -nama aksi yang dulu digunakan untuk menuntut pemenjaraan Ahok.

Seraya melantunkan shalawat, mereka sesekali meneriakkan yel-yel Aksi Bela Islam yang dicetuskan orator dari atas sebuah truk yang berhiaskan spanduk tuntutan pemidanaan terhadap Sukmawati Soekarnoputri

Pengurus Persaudaraan Alumni 212 menyatakan, aksi digelar untuk memberikan dukungan kepada Polri untuk mengusut kasus penodaan agama yang diduga dilakukan oleh Sukmawati.

Walau Sukmawati telah memohon maaf kepada seluruh umat Islam dan Ketua MUI, KH Maruf Amin, mengajak semua umat Islam untuk juga menerima permohonan maaf itu, Persaudaraan Alumni 212 tetap mendesak aparat memproses hukum Sukmawati.

Hak atas foto BBC Indonesia

Sekretaris Persaudaraan Alumni 212, Bernard Abdul Jabbar, kepada Detik.com, mengatakan permintaan maaf Sukmawati diterima, namun bukan berarti putri mantan Presiden Soekarno itu bisa lolos dari jerat hukum.

"Kalau memaafkan, kita sebagai umat Islam, sebagai orang Muslim, ya kita wal 'afina 'anin nas. Selalu memaafkan siapa pun yang meminta maaf, juga dalam hal lain ini tidak begitu saja selesai. Kalau begitu saja, dikhawatirkan minta maaf nanti akan bergulir, terjadi lagi kasus-kasus yang serupa," ujar Bernard.

Dia kemudian membandingkan kasus Sukmawati dengan kasus yang dialami Alfian Tanjung, Jonru Ginting hingga Buni Yani yang tetap diproses oleh polisi.

Hak atas foto BBC Indonesia

Beberapa peserta aksi datang dari daerah. Ujang, misalnya, sengaja bertolak dari Cianjur, Jawa Barat

"Saudara-saudara sekalian kita semua datang dari berbagai pelosok negeri, datang ke Bareskrim untuk mendukung penangkapan Sukmawati Soekarnoputri," kata seorang orator, dilanjutkan dengan gurauan: "Kalau Sukmawati tidak ditangkap, Ahok nanti ngiri!"

Aksi di Solo

Di Solo, Jawa Tengah, ratusan umat Islam dari berbagai elemen menggelar aksi serupa di depan Mapolresta Solo.

Massa yang berasal dari Laskar Umat Islam Surakarta, Jamaah Anshorut Tauhid, Front Pembela Islam, Laskar Hizbullah, dan lainnya membentangkan spanduk bertuliskan 'Sukmawati sombong, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.'

Divisi Advokasi Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Endro Sudarsono, mengatakan aksi unjuk rasa ini dilakukan untuk memberikan dukungan kepada polisi agar segera memproses hukum Sukmawati Soekarnoputri.

"Kita duga apa yang disampaikan Ibu Sukmawati itu melanggar Pasal 156a KUHP, terkait penodaan agama," kata Endro di sela-sela aksi, sebagaimana dilaporkan wartawan Fajar Sodiq untuk BBC Indonesia.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Ratusan orang yang tergabung dari berbagai elemen berkumpul di depan Mapolresta Solo guna mendesak kepolisian memproses hukum Sukmawati Soekarnoputri.

Untuk memberikan dukungan penanganan kasus itu, lanjut dia, pihaknya mengirimkan surat kepada Kapolri Tito Karnavian yang diserahkan melalui Polresta Solo. Dalam surat itu, DSKS meminta kepada Kapolri untuk melakukan pemeriksaan kepada semua pelapor dan memeriksa semua saksi-saksi yang ada di lokasi saat pembacaan puisi itu.

Meskipun Sukmawati telah meminta maaf, namun Endro menegaskan, bagi umat Islam bahwa permintaan maaf terbuka untuk siapapun yang telah mengakui kesalahannya. Hanya saja secara hukum bahwa permintaan maaf itu tidak menggugurkan proses pidananya dan tetap harus berjalan.

"Meskipun Ibu Sukmawati telah meminta maaf, tapi kita tetap jalan terus untuk proses hukumnya," kata dia.

Sebelumnya, Ketua MUI KH Maruf Amin menyerukan massa untuk membatalkan aksi unjuk rasa terhadap Sukmawati dan mencabut berbagai pelaporan polisi.

"Kalau bisa menghentikan upaya di pengadilan, Bareskrim. Dan kita kembali membangun keutuhan bangsa dan negara," kata Maruf Amin, usai menerima kunjungan Sukmawati, Kamis (5/4).

Hak atas foto BBC Indonesia

Kepada wartawan, ia menyatakan bahwa MUI menerima permintaan maaf Sukmawati.

"Saya meminta sebaiknya (tidak unjuk rasa) karena dia sudah minta maaf, sudah mengakui kesalahannya, tidak mengulang lagi. Jadi sebaiknya tidak perlu diteruskan daripada membuang energi, menimbulkan kegaduhan," kata Maruf Amin pula.

Putri mendiang Presiden Sukarno itu membacakan puisi karyanya sendiri berjudul Ibu Indonesia dalam acara "29 Tahun Anne Avantie Berkarya" di Indonesia Fashion Week, Kamis (29/3) lalu.

Ada dua hal yang dipermasalahkan dari puisi Sukmawati. Pertama, saat puisi Sukmawati menyatakan bahwa konde ibu Indonesia lebih cantik dari cadar, dan kidung lebih merdu dari alunan azan.

Berita terkait