Ratusan nelayan Balikpapan terdampak tumpahan minyak menanti kompensasi

Balikpapan Hak atas foto AFP
Image caption Ceceran minyak dari pipa Pertamina di Pantai Benua Patra, Balikpapan, dipotret 2 April 2018. Lokasi pesisir itu kini diklaim telah lebih bersih dari minyak.

Sembilan hari setelah minyak dari pipa PT Pertamina (Persero) diketahui bocor dan mencemari 12 ribu hektare Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, ratusan nelayan di kota itu tak mencari ikan, sementara para peternak kepiting merugi belasan hingga puluhan jutaan rupiah.

Para nelayan dan pemilik keramba itu mengaku belum dijanjikan ganti rugi. Di sisi lain pemerintah menyatakan perlunya kompensasi uang untuk komunitas setempat dari penanggung jawab tumpahan minyak.

Mappaselle, pegiat di Pokja Pesisir dan Nelayan Balikpapan, menyebut hanya segelintir rekannya yang masih dapat melaut usai tumpahan minyak melanda perairan kota tersebut. Ia berkata, mayoritas nelayan Balikpapan kini menganggur.

"Ada yang bisa melaut, tapi jarak jauh, sekitar 40 sampai 70 mil dari pantai. Mereka harus menggunakan kapal di atas empat gross ton karena harus melawan ombak besar," ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (08/04).

Menurut Mappaselle, seorang nelayan sejak pekan lalu setiap hari kehilangan penghasilan antara Rp150.000-200.000 karena tak melaut serta kematian massal sumber daya ikan di Teluk Balikpapan.

Sebagian dari para nelayan itu, merujuk pendataan swadaya yang dilakukan Pokja Pesisir, juga rugi secara material karena alat tangkap mereka terpapar minyak.

"Ketika mereka tidak bisa melaut, sumber keuangan berhenti. Rata-rata mereka cuma terampil mencari ikan. Kalau kondisi ini dibiarkan lama, bisa muncul persoalan sosial," kata Mappalesse.

Tak hanya nelayan, tumpahan minyak dari pipa Pertamina Refinery Unit V Balikpapan juga berdampak pada ratusan lubang keramba para peternak kepiting.

Rustam, anggota kelompok pemilik keramba di Kariangau, Balikpapan, menyebut tumpahan minyak tersebut berdampak fatal pada usahanya. Ia dan 30 koleganya mengelola 40 lubang tambak berisi sekitar satu ton kepiting.

Sebagian kepiting langsung, kata Rustam, langsung mati pada hari-hari pertama pasca-tumpahan minyak meluber. Sementara sisanya, diklaim Rustam, mati satu per satu setiap hari.

"Keramba kami juga tercemar dan tidak layak digunakan lagi. Kami harus buat yang baru dan untuk itu butuh biaya yang lumayan besar," kata Rustam.

Menurutnya, biaya pembuatan 40 lubang keramba akan menyedot anggaran setidaknya Rp20 juta.

Hak atas foto ISTIMEWA
Image caption Sebagian kepiting di Kariangau mati karena terpapar minyak.

Kepada BBC Indonesia, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyebut pelaku pencemaran Teluk Balikpapan harus mengganti kerugian para nelayan dan pemilik keramba tersebut.

Menurut Susi, kerugian itu tidak hanya akan dirasakan nelayan saat ini, tapi hingga perairan itu kembali pulih, setidaknya enam bulan ke depan.

"Sebarusnya ada kompensasi untuk masyarakat yang dirugikan," kata Susi melalui pesan singkat.

Susi mengatakan, pihaknya saat ini masih mendata jumlah nelayan dan peternak kepiting yang terdampak dan kerugian materiil akibat tumpahan minyak Pertamina.

Susi menargetkan kajian itu dapat tuntas pekan ini. "Kami masih investigasi," tuturnya.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP
Image caption Selain tim investigasi yang dibentuk KKP, terdapat pula tim gabungan penghitung kerusakan ekosistem dan penilai kompensasi dari Kementerian Kehutan dan Lingkungan Hidup.

Terkait bantuan maupun ganti rugi, Rustam menyebut pihaknya belum menerima janji apapun. Begitu pula tentang program pemulihan mangrove yang tercemar minyak.

"Dari pemerintah ada yang datang, tapi belum ada solusi. Dari Pertamina belum ada sama sekali," tuturnya.

Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan mencatat, jumlah nelayan di kota itu pada tahun 2017 mencapai setidaknya 3.000 orang. Mereka rata-rata memiliki kapal berukuran dua sampai tiga GT.

Sebelum kebocoran pipa Pertamina, kualitas Teluk Balikpapan telah mengalami degradasi akibat industri. Hingga 2015, Badan Lingkungan Hidup Kota Balikpapan mencatat terdapat 21 perusahaan yang beraktivitas di kawasan itu.

Mengutip laporan Mongabay, jumlah tangkapan ikan para nelayan terus menurun dari tahun ke tahun. Temuan itu dibenarkan Mappasalle.

"Ketidakpatuhan industri pada AMDAL berdampak pada Teluk Balikpapan, tapi tumpahan minyak membuat mangrove terpapar dan sebagian besar ikan berpotensi mati."

"Butuh waktu bukan hanya dalam hitungan bulan, tapi tahun untuk memulihkannya," kata Mappasalle.

Hak atas foto ARIDJWANA/AFP
Image caption Pertamina menerjunkan ratusan pegawainya untuk membersihkan Teluk Balikpapan dari minyak.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rasio Ridho Sani, sebelumnya menyebut ceceran minyak di Teluk Balikpapan terus berkurang.

Ridho mendasarkan pernyataannya pada data visual dan pemantauan satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Di sisi lain, Manajer Komunikasi dan CSR Pertamina Wilayah Kalimantan, Yudy Nugraha, menyebut pihaknya telah mengoperasikan 21 kapal dan lebih dari 200 orang untuk membersihkan tumpahan minyak.

Meski begitu, menurut Rustam, limbah minyak sudah kadung menempel di mangrove. Menurutnya ceceran minyak itu sulit dibersihkan dan akan berdampak pada keramba kepitingnya.

"Yang menempel ke lumpur dan mangrove efeknya bisa bertahun-tahun," kata Rustam.

Hak atas foto AFP
Image caption Berbagai institusi telah mengambil sampel air Teluk Balikpapan yang tercemar minyak.

Kepada pers di Jakarta, hari Ahad (08/04), Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Pandjaitan, meminta seluruh pihak menunggu hasil investigasi kepolisian terkait pertanggung jawaban pidana pencemaran Teluk Balikpapan.

"Nanti kita lihat siapa yang salah. Kalau memang dibutuhkan, tindakan hukum tentu akan dilakukan," kata Luhut.

Saat dihubungi BBC Indonesia, Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Timur, Kombes Ade Yahya, menyebut penyidikan masih terus berlangsung. Sejauh ini, kata dia, polisi telah memeriksa 22 saksi dari beragam latar belakang.

Ade mengatakan, dalam satu pekan ke depan kepolisian akan fokus mengambil pipa Pertamina yang bocor, sebagai barang bukti utama. Namun upaya itu menurutnya sulit dikerjakan.

"Bisa dibayangkan di kedalaman 22 meter, pasti gelap. Untuk menyelam 22 meter, tidak semua orang bisa, perlu ahli dan keterampilan," tuturnya.

Ade mengatakan kepolisian bekerja sama dengan para ahli yang ditunjuk Pertamina. Mereka berencana memotong pipa bocor itu didasar laut untuk melengkapi penyidikan.

"Saya pikir hasilnya perlu menunggu sidang pengadilan. Polisi menyidik, putusan inkraht nanti akan ditentukan oleh dihakim," kata Ade.

Topik terkait

Berita terkait