Bursa cawapres Jokowi dan Prabowo: Dari AHY, Muhaimin, Sri Mulyani, Anies, Gatot, hingga Airlangga

jokowi dan Agus Harimurti Yudhoyono Hak atas foto Biro Pers Istana/Haryanto
Image caption Kubu Jokowi maupun AHY kemudian menepis anggapan jika pertemuan itu nantinya berujung AHY akan menjadi cawapres untuk mendampingi Jokowi.

Sejumlah nama telah disebut akan bersaing menjadi kandidat calon wakil presiden untuk mendampingi Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam pilpres tahun depan, tetapi seberapa penting kehadiran mereka dapat mendongkrak suara?

Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Dodi Ambardi, mengatakan, Joko Widodo dan Prabowo Subianto saat ini terus menjajaki siapa calon wakil presiden yang dianggap dapat bekerja sama dan mampu menguatkan pilihan para pendukungnya saat pilpres nanti.

"Efek elektoral itu salah-satu yang menjadi pertimbangan masing-masing kandidat capres (untuk memilih cawapresnya), meskipun itu bukan satu-satunya pertimbangan," kata Dodi Ambardi kepada BBC Indonesia, Rabu (11/04).

Menurutnya, suara dukungan yang diharapkan dari cawapres definitif nantinya adalah "mempertahankan suara" dari pendukung Jokowi ataupun Prabowo.

Hak atas foto KRIS - BIRO PERS SETPRES
Image caption Prabowo Subianto menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/11) siang.

"Jadi kalau yang sudah memilih (Jokowi atau Prabowo), tidak goyah lagi, karena ada wakil presidennya," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, baik Jokowi maupun Prabowo sengaja "menunda" mengumumkan siapa kandidat calon wakil presidennya.

"Ini masa-masa di mana saling menghitung kekuatan, saling menghitung peluang, dan saling tawar-menawar (dengan pimpinan parpol) apa yang didapatkan jika mereka memberikan dukungan," jelasnya.

Keuntungan lainnya, sambungnya, penundaan penyebutan kandidat cawapres menjadi penting supaya tidak menggoyahkan kekompakan di antara partai pendukungnya.

"Kalau terlalu awal diumumkan, koalisi bisa menjadi tidak solid lagi," tandasnya.

Tapi siapa saja nama-nama yang masuk dalam bursa calon presiden yang akan mendampingi Joko Widodo atau Prabowo Subianto?

Muhaimin Iskandar

Hanya Muhaimin Iskandar, politikus dan ketua umum PKB, yang sejauh ini terang-terangan mengampanyekan dirinya sebagai cawapres untuk mendampingi Jokowi sedang nama lainnya memilih untuk mengungkap ambisinya kepada umum.

"Saya deklarasi maju sebagai cawapres," tegas Muhaimin di hadapan wartawan di Jakarta, pertengahan Maret lalu.

Ucapan ini menguatkan ambisinya untuk mendampingi Joko Widodo yang sudah diusung sejumlah parpol pendukungnya.

Hak atas foto GETTY IMAGES/BIMA SAKTI
Image caption Presiden Joko Widodo berdampingan dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar saat meresmikan kereta Bandara Soekarno-Hatta, awal Januari lalu.

Kehadiran Muhaimin sebagai kandidat cawapres dapat menguntungkan Jokowi secara politik dalam pilpres tahun depan, demikian klaim yang disuarakan pendukung Muhaimin.

"Menurut saya penting bagi Jokowi menggandeng cak Imin (Muhaimin Iskandar). Kalau enggak seperti itu, maka pak Jokowi tidak bisa menjawab persoalan populisme Islam," kata politikus PKB, Lukman Edy, awal Maret lalu.

Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Dodi Ambardi, mengatakan, saat ini yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah sejauhmana efek sentimen agama menjadi faktor penting dalam pilpres 2019.

Walaupun Jokowi didukung oleh pemilih Muslim, menurutnya, dukungan itu akan kokoh bertahan apabila dia didukung cawapres yang memiliki atribut Islam.

"Suaranya akan lebih kokoh kalau kemudian wakilnya (cawapres) memiliki credential Islam yang kuat," kata Dodi. Hal ini juga berlaku untuk capres Prabowo Subianto, tambahnya.

Tentang kritikan yang menyebut ambisi Muhaimin sebagai sikap "terlalu percaya diri", Dodi melihatnya sebagai upaya negosiasi seorang politikus untuk mendapatkan tawaran tertinggi.

"Nah posisi cawapres itu tawarannya yang paling tinggi," tandas Dodi.

Agus Harimurti Yudhoyono

Agus Harimurti Yudhoyono, atau AHY, adalah politikus Partai Demokrat putra mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang disebut layak masuk dalam bursa cawapres oleh beberapa lembaga survei, awal April lalu.

Menanggapinya dia hanya berujar: "Kita dengar dan kita berusaha keras memenuhinya..."

Hak atas foto Instagram AHY/Detikcom
Image caption Presiden Joko Widodo menerima kedatangan politkus Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono di Istana Merdeka, awal Maret 2018

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) awal Januari lalu menyimpulkan, AHY berada di posisi teratas, yaitu 71,2%, untuk cawapres berlatar militer, mengungguli mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo (56,5%) dan Moeldoko (18%).

Sementara, hasil simulasi IndoBarometer awal 2018 menempatkan pasangan Jokowi-AHY mendapatkan 38,6% atau di posisi teratas, mengungguli simulasi pasangan Jokowi-Gatot Nurmantyo (38,4%) dan Jokowi-Ridwan Kamil (37,5%).

Dalam tiga bulan terakhir, AHY beberapa kali mengadakan pertemuan dengan Presiden Jokowi dan dua orang putranya di tempat terpisah. Peristiwa ini kemudian melahirkan spekulasi bahwa ini semacam upaya membangun komunikasi demi Pilpres 2019.

Baik kubu Jokowi maupun AHY kemudian menepis anggapan jika pertemuan itu nantinya berujung AHY akan menjadi cawapres untuk mendampingi Jokowi.

"Masih panjang proses pilpres," ujar Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan Syarif, awal Maret lalu.

Dari 15 kandidat cawapres yang beredar, menurut simulasi IndoBarometer pada Januari lalu menujukkan, AHY meraih 8,7% di bawah Anies Baswedan (10,0%) dan Gatot Nurmantyo (9,0%).

Anies Baswedan

Di sisi Prabowo, muncul pula sejumlah nama yang menurut beberapa survei belakangan layak menjadi cawapres untuk Pilpres 2019. Salah-seorang diantaranya adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Hak atas foto Kompas
Image caption Hasil survei Polmark, November tahun lalu menyebut pasangan Prabowo-Anies Baswedan akan memperoleh 17,2%, unggul di atas pasangan lainnya.

"Memang saya tadi diusung kuda, naik kuda. Tidak ada yang lain," ujar Anies Baswedan, Rabu (11/04), seraya tertawa, menjawab pertanyaan wartawan tentang kehadirannya di Rakornas Partai Gerindra dan kemungkinan akan diusung sebagai cawapres oleh Prabowo Subianto.

Hasil survei lembaga polling Polmark pada November tahun lalu menyebut, jika Prabowo berpasangan dengan Anies Baswedan, maka mereka akan memperoleh 17,2%, unggul di atas pasangan lainnya.

Sementara, kesimpulan simulasi IndoBarometer akhir Januari lalu menyatakan, dari 15 cawapres, Anies Baswedan berada di urutan teratas dengan angka 10,0%, di atas Gatot Nurmantyo (9,0%) dan AHY (8,7%).

Sejauh ini Partai Gerindra belum pernah menyebut siapa calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019, walaupun nama-namanya mulai mengerucut, kata pejabat teras partai itu.

"Mengerucut sekarang tinggal tiga hingga lima nama," kata Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, kepada wartawan di Jakarta Selatan, Kamis (05/04).

Ketika ditanya apakah di antara nama-nama tersebut terdapat nama Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, dan Anis Matta, Muzani berkata: "Di antara tiga nama, itu semuanya tokoh nasional dan orang-orang penting."

Sri Mulyani

Nama Sri Mulyani makin santer dimunculkan sebagai kandidat calon wakil presiden untuk mendampingi Joko Widodo setelah dia dinobatkan sebagai menteri terbaik dunia versi World Government Summit, pertengahan Februari lalu.

"Saya menjadi menteri keuangan sajalah," kata Sri Mulyani yang dikonfirmasi Kompas di Madiun, Jawa Timur, akhir Maret lalu.

Hak atas foto Setkab.go.id
Image caption Nama Sri Mulyani makin santer dimunculkan sebagai kandidat calon wakil presiden untuk mendampingi Joko Widodo setelah dia dinobatkan sebagai menteri terbaik dunia versi World Government Summit, pertengahan Februari lalu.

Sebagai teknokrat, nama Sri Mulyani termasuk dari beberapa nama yang dijaring oleh tim internal PDI-P dalam bursa cawapres yang akan mendampingi Jokowi.

Ada sejumlah nama di dalamnya, termasuk Sri Mulyani dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

"Bu Sri Mulyani yang kurang apa sih ya... Ini semua akan jadi bagian dari pertimbangan," kata politikus PDIP, Arteria Dahlan di Jakarta, akhir Maret lalu.

Di sejumlah hasil survei berbagai lembaga poling, nama Sri Mulyani juga masuk dalam bursa cawapres. IndoBarometer dalam survei awal Januari lalu mengungkapkan, Sri Mulyani berada di posisi enam dengan angka 1,8% dari simulasi 15 nama cawapres.

Posisinya di bawah Anies Baswedan (10,0%), Gatot Nurmantyo (9,0%), AHY (8,7%) dan Ridwan Kamil (6,7%).

Adapun jika dia dipasangkan Jokowi, posisinya berada di urutan lima dari 11 pasangan lainnya, menurut IndoBarometer dalam survei awal tahun ini.

Gatot Nurmantyo

Walaupun nama Gatot Nurmantyo sudah masuk dalam bursa calon wakil presiden di sejumlah lembaga survei, tetapi para pendukungnya justru mendeklarasikannya sebagai calon presiden.

Hak atas foto Facebook/Prabowo Subianto
Image caption Prabowo Subianto, Try Sutrisno, dan Gatot Nurmantyo dalam sebuah acara di Jakarta pada 2017 lalu.

"Kami menyatakan siap memperjuangkan dan memenangkan Bapak Gatot Nurmantyo sebagai Presiden," ungkap Dondi Rivaldi, pimpinan kelompok Gatot Nurmantyo untuk Rakyat (GNR), Jumat (06/04).

Usai pensiun sebagai Panglima TNI awal April lalu, Gatot Nurmanto tidak pernah secara terbuka untuk maju sebagai cawapres atau capres, tetapi beberapa survei memasukkannya dalam bursa cawapres.

"Pada akhirnya sejalan dengan jiwa keprajuritan yang akan terus melekat erat, apabila Republik memanggil dengan semangat patriotisme, saya akan selalu siap memberikan yang terbaik bagi NKRI," tulis Gatot dalam akun Tweeter-nya, awal April lalu.

Survei LSI awal Januari lalu menyimpulkan bahwa Gatot Nurmantyo berada di posisi dua cawapres berlatar belakang militer, yaitu 56,5%, di bawah AHY (71,2%) namun di atas Moeldoko (18%).

Sementara, menurut Polmark, berdasarkan surveinya November tahun lalu, jika dipasangkan dengan Jokowi, maka cawapres Gatot berada di urutan ketiga, di bawah Jokowi-Prabowo dan Jokowi-Anies Baswedan.

Adapun jika dipasangkan Prabowo, menurut Polmark, posisinya di urutan kedua di bawah pasangan Prabowo-Anies Baswedan.

Airlangga Hartarto

Kendatipun namanya jarang disebut dalam bursa cawapres, namun nama Ketua umum Partai Golkar ini mulai didorong untuk maju dalam bursa cawapres.

Hak atas foto Tribunnews/istimewa
Image caption Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian (yang juga Ketua umum Partai Golkar) Airlangga Hartarto saat olahraga bersama di sekitar Istana Bogor, akhir Maret lalu.

"Kita harus berjuang untuk mendapatkan posisi (wapres) itu," kata politikus senior Partai Golkar, Bambang Soesatyo, Sabtu (07/04) lalu.

Partai Golkar merupakan satu dari sekian parpol yang mendukung pencalonan Jokowi sebagai capres dalam pemilu tahun depan.

Politikus senior Partai Golkar, Fahmi Idris, membenarkan pihaknya sudah membahas kemungkinan Airlangga Hartarto dimajukan sebagai cawapres mendampingi Jokowi.

"Kemarin pada waktu raker juga, diangkat juga mencalonkan Ketua umum sebagai Cawapres," ungkapnya, akhir Maret lalu.

Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Dodi Ambardi, mengatakan langkah Golkar untuk menggolkan Airlangga menjadi cawapres merupakan suatu yang wajar.

"Nah, kalau belum-belum (partai politik) sudah loyo, tidak mau tawar-menawar, ya bukan politikus," kata Dodi.

Berita terkait