Sulitnya Ujian Nasional: Melanggar hak atau meningkatkan kemampuan nalar?

SISWA SMA Hak atas foto ROMEO GACAD/AFP/GETTY IMAGES
Image caption Siswa berpendapat soal yang diuji berbeda dengan yang dipelajari.

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang dilaksanakan awal bulan ini menuai keluhan dari para siswa karena dianggap terlalu sulit.

Mereka mengatakan soal yang diuji sangat sulit dan jauh berbeda dari yang diajarkan di sekolah sebelum ujian.

"Materinya beda banget, menyimpang jauh soalnya. Basanya yang ke luar kalau di Ujian Nasional kan mirip sama tryout sebelumnya," kata Faithfullah Siar, siswa SMA Negri 5 Magelang.

"Gurunya juga, papa kan juga guru, papa juga bilang memang soalnya susah."

Bagi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), perdebatannya bukan lagi sekedar sulit atau tidak tapi sudah dianggap melanggar hak anak.

"Ini kan seperti mal praktek saja ketika orang diuji untuk sesuatu yang tidak pernah diajarkan kan dia tidak akan bisa jawab. Jadi ini pelanggaran hak anak," kata Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti.

"Anak sudah capai belajar, sudah tiga tahun mempersiapkan segala sesuatu menjelang ujian tapi ternyata soalnya di luar perkiraan mereka, bahkan tidak pernah diajarkan."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Retno Listyarti (kiri): "Ini kan seperti mal praktek saja ketika orang diuji untuk sesuatu yang tidak pernah diajarkan..."

Namun penyelenggara UN membantah karena -menurut Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Bambang Suryadi- soal yang sulit justru untuk menguji dan mendorong siswa untuk berpikir dengan nalar atau kemampuan tinggi.

"Selama ini kita selalu ketinggalan dengan siswa-siswa di negara lain. Kalau kita pakai tolak ukurnya nilai PISA, posisi kita selalu rendah dibandingkan dengan negara yang lain."

"Kalau anak-anak tidak dibiasakan berpikir tingkat tinggi, hanya sekedar menghafal, mengingat, menyebut, maka tidak akan membuat lulusan kita kompetitif dibandingkan dengan siswa-siswa di negara yang lain," tambahnya.


Apa itu PISA?

PISA (Programme for International Student Assessment, Program Penilaian Pelajar Internasional ) adalah membandingkan prestasi anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun di seluruh dunia untuk tujuan meningkatkan metode-metode pendidikan dan hasil-hasilnya.

Dalam penilaian PISA terakhir pada tahun 2015, kemampuan siswa Indonesia untuk sains, membaca, dan matematika berada di bawah rata-rata.

Meski begitu, dalam laporan PISA tersebut, jika siswa Indonesia mampu mempertahankan laju peningkatan kemampuan siswa yang sudah terjadi sejak tahun 2000, maka tahun 2030 para siswa Indonesia dapat menyamai kemampuan sains siswa dari negara-negara maju.


Soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills)

Menurut Bambang Suryadi, salah satu cara untuk mengejar ketertinggalan siswa Indonesia adalah melalui ujian nasional yang mencakup soal-soal yang mengarah pada HOTS (Higher Order Thinking Skills).

Sesuai namanya, model soal HOTS adalah yang mendorong siswa untuk berpikir dengan nalar tinggi yang mengarah pada berpikir kritis dan berpikir analisis.

Namun jika selama proses pembelajaran, siswa tidak pernah diajarkan berpikir dengan menganalisa, mengapa justru di Ujian Nasional diberikan soal ujian dengan analisa?

"Ini akan menjadi evaluasi kami juga bahwa penerapan akan diimbangi proses pembelajaran yang bagus di sekolah-sekolah dan kemampuan guru-guru. Tapi kalau kita tidak mencoba dari sekarang maka kita akan ketinggalan," jawab Bambang.

Hak atas foto ED WRAY/GETTY IMAGES
Image caption Memperbaiki kemampuan nalar siswa: soal sulit dulu atau proses pembelajaran dulu?

KPAI pun mengkritisi keputusan itu karena melakukannya tanpa meningkatkan proses pembelajaran terlebih dahulu.

"Proses pembelajaran tidak dipahami oleh banyak pendidik, berarti kan anak-anak 'gak dapat'. Dalam hal ini, siapa yang bertanggung jawab? Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama," kata Retno Listyarti.

Ujian Nasional kali ini tidak menentukan kelulusan siswa sehingga meskipun sulit tidak membuat siswa stress seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Meski begitu, soal UN yang sulit menurut para siswa itu tetap menimbulkan keresahan.

"Tapi kan tetap saja nilainya tercantum di ijazah. Kan rada-rada gimana juga kalau nilainya kecil semua," kata Orion Lazuardi, siswa SMA Negri 3 Cirebon.

Berita terkait