Rusuh Mako Brimob: Akankah polisi persuasif terhadap para napi teroris?

pasukan Brimob Hak atas foto ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Image caption Pasukan kepolisian diperbanyak untuk melakukan pengamanan di rumah tahanan terpidana teroris di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Polisi diminta tetap mengedepankan pendekatan persuasif untuk membebaskan salah-satu anggotanya yang disandera oleh sejumlah terpidana teroris di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Sampai sekitar pukul 21.30, Rabu (09/05), tim negosiasi polisi disebutkan masih melakukan perundingan dengan para penyandera di salah-satu blok di rumah tahanan tersebut, tetapi mereka tetap menyiapkan opsi terakhir.

"Polisi mengedepankan upaya persuasif dan menghargai nyawa manusia. Tetapi akan ada tahapan-tahapan sebagaimana sudah diatur standar operasional kepolisian," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen M Iqbal, dalam jumpa pers sekitar pukul 21.15 WIB di Mako Brimob, Depok.

Dalam kerusuhan di rutan tersebut, lima orang petugas polisi satuan anti teror Densus dipastikan tewas, dan seorang lagi masih disandera sejumlah narapidana terorisme. Sementara, seorang teroris ditembak mati oleh aparat polisi saat kerusuhan.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Tiga anggota polisi terlihat melakukan penjagaan di skeitar Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Polisi tidak menyebutkan apa yang menjadi tuntutan pihak penyandera, tetapi pengamat terorisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Noorhaidi Hasan meminta agar upaya persuasif tetap dikedepankan.

"Polisi yang disandera sebisa mungkin harus diselamatkan. Kemudian terorisnya, meskipun mereka melakukan kejahatan luar biasa, ya, tidak lantas kemudian dengan mudah dibunuhi," kata Noohaidi kepada BBC Indonesia, Rabu malam.

Menurutnya, upaya persuasif merupakan jalan terbaik untuk dapat menyelesaikan persoalan tersebut.

"Kalau ada penyerbuan dari polisi, saya khawatir korbannya terlalu banyak. Kalau bisa negosiasi diutamakan," tegasnya.

'Kekesalan pada polisi'

Sejauh ini masih belum jelas siapa terpidana teroris yang melakukan penyanderaan tersebut.

Saat seorang wartawan bertanya tentang hubungan mereka dengan Aman Abdurrachman, seorang tersangka tokoh ISIS di Indonesia, Setyo Wasisto tak bersedia menjawab.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Rintangan dipasang di sekitar kawasan rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Sebelumnya, ISIS mengklaim berada di belakang aksi kerusuhan di rumah tahanan Mako Brimob, tetapi kepolisian Indonesia menolak klaim tersebut.

Di tempat terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla, saat ditanya wartawan tentang latar belakang kerusuhan tersebut, mengatakan: "Bukan soal terorismenya (ISIS), mungkin ada masalah (di dalam rutan Mako Brimob)."

Menurut pengamat masalah terorisme dari UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, aksi kerusuhan di rutan Mako Brimob tidak terlepas dari berbagai persoalan mulai "kelengahan" aparat di lokasi, "kekesalan" napi teroris serta "ideologi Jihad" napi teroris.

"Saya kira itu sudah menyatulah dalam aksi ini: kekesalan pada polisi, kemudian ideologi jihad, dan lain sebagainya, sehingga mendorong terjadinya tindakan ini," kata Noorhaidi.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Tiga anggota polisi terlihat melakukan penjagaan di skeitar Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

"Itu juga diperparah dengan kelengahan para polisi itu yang mengawal mako Brimob," tambahnya.

"Nah ketika ada kesempatan, sementara mereka sudah 'berkobar' untuk melawan. 'Kan memang legimate bagi teroris untuk melawan aparat polisi yang memang menjadi target utama mereka sekarang."

'Terpaksa kami tembak mati'

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen M Iqbal, mengatakan kepada wartawan di sekitar Mako Brimob, "Jadi kami sampaikan bahwa lima petugas kami gugur, dan seorang masih disandera. Kami masih melakukan berbagai upaya penyelesaian, dan situasinya sudah lebih kondusif."

"Dari pihak teroris, seorang teroris terpaksa kami tembak mati saat melawan dan berusaha merebut senjata dari petugas," tambahnya.

Tentang kabar bahwa ada kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) yang menyebut bahwa para pelaku kerusuhan itu adalah 'tentara' mereka, Iqbal mengatakan, "Itu tidak benar.

Disebutkan oleh Iqbal, pada Selasa (8/5) malam itu, "terjadi keributan, sehingga beberapa petugas kami disandera. (Awalnya) ada enam disandera sejak kemarin."

Hak atas foto ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Di dekat pintu gerbang rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, dua polisi melakukan penjagaan.

"Senjata (para petugas itu) direbut oleh para narapidana teroris," tambahnya.

Iqbal tak menyebut berapa banyak napi teroris yang terlibat dan bagaimana situasinya sehingga enam polisi terlatih bisa disandera.

Situasi berkembang panas, dan lima polisi yang disandera itu kemudian tewas, semantara seorang napi kasus teroris tewas terbunuh.

Sekarang, kata Iqbal, "seorang petugas polisi masih disandera."

Sejak semalam, kata Iqbal, polisi melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan situasi.

"Alhamdulillah situasi sangat terkendali karena kami mengutamakan upaya persuasif yaitu negosiasi kepada beberapa tahanan yang ingin dan mau diajak untuk komunikasi," katanya lagi.

Hak atas foto KOMPAS.COM/ABBA GABRILLIN
Image caption Mabes Poliri mengkaui ada kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua namun tanpa rincian lebih lanjut.

Sebelumnya ia mengatakan, "Memang di media-media maupun media sosial (ceritanya) berkembang. Nah saya, kan, ada di TKP sejak tadi malam. Saya lihat tahap demi tahap bahwa apa yang diklaim oleh si A, B, dan lain-lain itu sama sekali tidak benar," katanya seperti dikutip Kompas.

Penjelasan Iqbal ini mengkahiri teka-teki sejak Selasa tengah malam, saat kejadian itu meletus. Berbagai desas-desus beredar, namun polisi tutup mulut, dan wartawan bahwakan dihalau agar menjauh dari sekitar Mako Brimob.

Rabu pagi, kepada wartawan Iqbal hanya membenarkan bahwa memang terjadi insiden di sana, pada Selasa (8/5) malam, gara-gara urusan remeh temeh.

"Pemicunya adalah hal yang sepele, pemicunya adalah masalah makanan," kata Iqbal kepada para wartawan yang menunggu perkembangan sekitar gerbang Mako Brimob, Rabu (9/5).

"Sesuai SOP (Standar Prosedur Operasional), makanan (dari luar untuk tahanan) diverifikasi oleh (petugas) kami. Untuk memeriksa apakah ada barang-barang lain (yang diselundupkan dalam makanan). Lalu terjadi keributan, cekcok," kata Iqbal pula.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Petugas berjaga ketat sekitar Mako Brimob, menyusul kerusuhan itu.

Namun saat itu ia masih juga tidak bersedia membrikan rincian lebih jauh, memunculkan banyak tanda tanya. Terlebih karena ada apa yang disebut pernyataan dari ISIS bahwa yang melakukan kerusuhan itu adalah anggota mereka. Pernyataan ini belum bisa diverifikasi.

Di berbagai kalangan beredar pula laporan, yang seakan datang dari kalangan polisi, mengenai jumlah senjata yang direbut tahanan, jumlah korban tewas dan luka.

Mako Brimob Kelapa Dua selama ini menjadi tempat tahanan bagi para tersangka hingga narapidana teroris karena memiliki sistem keamanan berlapis.

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, juga ditahan di sini setelah dinyatakan bersalah dalam dakwaan penistaan agama Islam, tahun lalu.

Brigjen M Iqbal mengatakan, "Saat ini kami sedang melakukan tindakan-tindakan kepolisian, baik soft approach (pendekatan lunak) maupun tindakan-tindakan lain. Saat ini sedang berproses."

Dia juga mengimbau masyarakat agar tidak terhasut dengan semua informasi yang ada di media sosial yang sudah beredar, "Foto dan informasi-informasi jangan dipercaya sebelum memvonis itu benar."

Sebuah pesan di Twitter -yang dilengkapi beberapa foto- menulis 'tahanan Anshar Daulah Islamiyyah berhasil merebut senjata dari pasukan Brimob. Menewaskan beberapa personil Brimob'.

Ada juga pesan yang menyebut para napi teroris berhasil merebut senjata dari gudang di sana.

Akhirnya polisi membenarkan sebagian desas-desus itu.

Topik terkait

Berita terkait