Tokoh agama dan ormas masyarakat mengutuk serangan bom tiga gereja di Surabaya

tokoh agama Hak atas foto ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Image caption Ketua GP Ansor Jateng, Sholahudin Aly (kiri), rohaniawan Katolik Romo Aloys Budi Purnomo (kedua kiri), rohaniawan Romo Notowardoyo (ketiga kiri), bersama sejumlah anggota Banser berdoa bersama untuk korban peristiwa bom Surabaya, Minggu (13/5).

Tokoh-tokoh agama, aktivis LSM dan pimpinan ormas keagamaan mengecam dan mengutuk keras serangan bom di tiga gereja di Surabaya, Jatim, yang telah menewaskan sepuluh orang.

Mereka mendukung sepenuhnya langkah aparat keamanan untuk mengusut serangan terorisme ini, namun meminta pemerintah bertindak lebih serius untuk melakukan pencegahan.

"Kami meminta pemerintah serius menangani masalah ini, termasuk upaya pencegahan tumbuhnya gerakan teroris," kata Romo Agus Ulahayanan, Sekretaris eksekutif komisi hubungan agama dan kepercayaan Kantor Waligereja Indonesia (KWI), Romo Agus Ulahayanan, Minggu (13/05) siang.

KWI dan Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menggelar jumpa pers di Jakarta, tidak lama setelah serangan bom di tiga gereja di Surabaya, Jatim, yang telah menewaskan 10 orang dan melukai sedikitnya 41 orang.

Hak atas foto Detikcom/Istimewa
Image caption Tokoh-tokoh agam Kristen meminta agar umat Kristen tetap menjalankan aktivitas ibadah seperti sedia kala, namun dengan tetap bersikap waspada.

Mereka juga meminta agar umat Kristen tetap menjalankan aktivitas ibadah seperti sedia kala, namun dengan tetap bersikap waspada.

"Tetap melakukan kegiatan tetap beribadah, tetapi tetap waspada, dan yang penting koordinasi dengan aparatr keamanan," kata pendeta Gomar Gultom, Sekretaris umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam jumpa pers di Jakarta.

Pendeta Gomar Gultom juga meminta masyarakat Kristen di Indonesia agar tidak melakukan balas dendam.

"Kita semua marah, tetapi kita harus tetap sabar dan serahkan kepada negara dan aparat untuk melakukan tindakan," kata Gomar di hadapan wartawan.

Hak atas foto Kompas.com
Image caption Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, mengecam dan mengutuk keras serangan bom di tiga gereja di Surabaya, Jatim, apapun motif dan latar belakangnya.

"Kita tidak perlu balas dengan kekerasan, tapi sebarkan damai lewat berbagai media, termasuk media sosial," tandasnya.

NU mengutuk keras

Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, mengecam dan mengutuk keras serangan bom di tiga gereja di Surabaya, Jatim, apapun motif dan latar belakangnya.

"Segala macam tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin," kata Ketua umum NU, Said Aqil Siroj, dalam keterangan tertulisnya.

"Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan," tandasnya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Image caption Aparat kepolisian terus melakukan identifikasi di lokasi kejadian di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/05) pagi.

NU kemudian menyatakan dukungan penuh kepada aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut.

"Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan," ujar Aqil Siroj.

Kepada seluruh warga Indonesia, NU meminta semuanya untuk menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan.

Intelijen harus tingkatkan kewaspadaan

Sementara, LSM Setara Institute menyatakan serangan bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya merupakan "aksi biadab dan tidak berperikemanusiaan" yang "tidak pernah bisa dibenarkan dengan alasan apapun."

Setara Institute mendukung langkah kepolisian melakukan penindakan terhadap aksi terorisme, termasuk mendeteksi setiap gejala permulaan yang mencurigakan.

Hak atas foto AFP/JUNI KRISWANTO
Image caption "Tidak perlu ragu mengambil tindakan hukum dan tindakan koersif lainnya, sepanjang secara faktual dan aktual dibutuhkan oleh aparat keamanan," kata pimpinan Setara Institute, Hendardi,

"Tidak perlu ragu mengambil tindakan hukum dan tindakan koersif lainnya, sepanjang secara faktual dan aktual dibutuhkan oleh aparat keamanan," kata pimpinan Setara Institute, Hendardi, dalam keterangan tertulisnya.

Mereka juga menuntut lembaga intelijen meningkatkan kewaspadaan. "Sehingga tindakan preventif bisa dilakukan dengan bekal informasi intelijen yang lebih presisi," ujar Hendardi.

Masyarakat Indonesia juga dihimbau agar tidak terpecah belah oleh upaya-upaya provokasi dengan kekerasan yang menyasar tempat-tempat ibadah.

"Tunjukkan bahwa masyarakat tidak takut dan mampu bergandeng tangan mengatasi aksi intoleransi, radikalisme, dan terorisme," tambahnya.

Berita terkait