Terduga teroris yang tewas di Manukan adalah adik kandung pelaku di Sidoarjo

Para petugas Densus 88 menggrebek dan mengeledah rumah terduga pelaku serangan bom bunuh diri polrestabes Surabaya. Hak atas foto JUNI KRISWANTO/AFP/Getty Images
Image caption Para petugas Densus 88 menggrebek dan mengeledah rumah terduga pelaku serangan bom bunuh diri polrestabes Surabaya.

Seorang terduga teroris tewas dalam baku tembak dengan tim Densus 88 yang melakukan penggrebekan di kawasan Manukan Kulon, Surabaya.

"Dia adik kandung dari yang di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo," kata walikota Surabaya, Tri Rismaharini kepada wartawan usai meninjau rumah terduga teroris yang tewas ditembak itu.

Yang dimaksud adalah Anton Febrianto (47) yang tewas dengan keadaan memegang sakelar bom yang meledak secara tak sengaja, Minggu (13/5) malam.

Tri Rismaharini mengatakan ia sempat melihat pemeriksaan awal yang dilakukan seorang polisi perempuan terhadap isteri terduga teroris yang tewas.

"Dia mempelajari semua itu dari internet," kata Tri, namun kemudian meminta wartawan untuk bertanya lebih jauh soal hal ini kepada polisi.

Sebelumnya, jubir Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera, membenarkan tewasnya terduga teroris itu.

"Petugas melakukan tindakan tegas, dengan melakukan pelumpuhan. Itu karena dia melawan, dan lokasinya di wilayah pemukiman, yang bisa membahayakan warga setempat," katanya kepada wartawan di Media Center Polda Jatim.

Frans Barung mengatakan bahwa terduga teroris itu tewas di dalam rumahnya di sebuah gang, dalam baku tembak sekitar pukul 17:15, Selasa (15/5).

Namun empat anggota keluarganya, selamat. "Isterinya dan tiga orang anaknya, sudah diamankan semua," kata kata Frans Barung pula.

Sejumlah sumber menyebut, tiga anak itu tidak bersama kedua orang itu ketika terjadi baku tembak, karena sudah dititipkan sebelumnya kepada tetangga mereka tak jauh dari rumah itu.

Disebutkan, beberapa jam sebelumnya ketiga anak itu pergi mengaji, namun pulang ke rumah tetangga yang dititipi. Untung, penggrebekan terjadi sebelum ketiga anak itu diantar pulang.

Hak atas foto Handout
Image caption Keluarga suami istri Dita Oepriarto dan Puji Kuswati, pelaku serangan bom bunuh diri tiga gereja Surabaya, yang membawa serta seluruh empat anak mereka dalam kematian itu.

Masih belum jelas, bagaimana keadaan ibu mereka.

Namun Densus bersiap meledakkan benda-benda di rumah itu yang diduga sebagai bahan peledak. Warga yang sejak Magrib brgerombol, diminta untuk menjauh.

Identifikasi jenazah

Dalam jumpa pers beberapa jam sebelumnya, Frans barung Mangera mengatakan bahwa kendati sebagian besar nama terduga pelaku serangan bom Surabaya dan Sidoarjo yang tewas sudah diumumkan, namun belum ada keluarga yang datang untuk mengidentifikasi jenazah dan mengurus pemakaman.

"Hingga jam 14:00 Selasa (15/5) ini, belum satu pun keluarga dari pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, yang datang untuk mengidentifikasi jenazah," kata Frans Barung Mangera dalam jumpa pers di Media Center Polda Jatim, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, Mehulika Sitepu dan Oki Budhi.

Karenanya, kata Frans Barung pula, "kami mengundang keluarga dari yang nama-namanya sudah kami umumkan untuk datang, agar bisa dilakukan identifikasi secara saintifik dengan kedokteran forensik."

Terutama, ada mayat yang karena keadaannya yang hancur oleh bom yang mereka bawa, "yang perlu diidentifikasi DNA-nya, dicocokan dengan keluarga," tambahnya.

Sejauh ini, baru dua keluarga terduga pelaku yang sudah diumumkan nama-nama lengkapnya. Yakni untuk serangan tiga gereja Surabaya, dan ledakan di Rumah Susun Wonocolo, Sidoarjo.

Terduga pelaku serangan tiga gereja, adalah suami istri Dita Oepriarto dan Puji Kuswati, yang membawa serta empat anak mereka dalam kematian itu.

Adapun suami isteri Anton Febrianto dan Puspita Sari, tewas ketika bom mereka secara tak sengaja meledak di rumah susun mereka, yang menewaskan juga anak pertama mereka, yang berusia 17 tahun. Sementara tiga anak lainnya, berusia 15, 11, dan 11, mengalami luka-luka dan dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jubir Polda Jatim, Frans Barung Mangera, mengundang keluarga terduga pelaku untuk datang.

Sementara pelaku serangan Mapolrestabes Surabaya, sejauh ini baru disebutkan inisial TM. Nama isteri dan dua anak yang mereka bawa serta dan tewas, belum disebutkan, sementara anak usia delapan tahun yang selamat, disebutkan inisialnya AIS.

Yang juga tewas, adalah Budi Satrio tokoh nomor dua di JAD Surabaya, dan tiga terduga teroris lain yang ditembak mati dalam sebuah penggrebekan terkait serangan-serangan itu.

Frans Barung menyebutkan, kedatangan keluarga itu juga diperlukan untuk keperluan pengurusan penguburan.

Apabila dalam jangka waktu tertentu, tak ada juga yang datang, bisa jadi kami akan menguburkan sendiri mereka, sesuai dengan agama mereka."

Lima ledakan bom Surabaya dan Sidoarjo itu diyakini melibatkan tiga keluarga berbeda: satu keluarga dalam setiap serangan.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Image caption Penggrebekan oleh polisi di rumah terduga teroris di Kepuharjo, Karangploso, Malang, Jawa Timur. Tiga terduga teroris ditangkap di dua tempat di Malang.

Frans Barung juga mengumumkan bahwa sejak operasi polisi hari Senin (14/5), telah dilakukan penangkapan terhadap 13 orang di Malang, Pasuruan, Sidoarjo dan Surabaya

"Mereka sudah merencanakan penyerangan terhadap beberapa sasaran, yang kemudian digagalkan," kata Frans dalam jumpa pers. Namun ia tidak mengungkap tempat yang menjadi sasaran itu.

Penggeledahan rumah pelaku serangan Mapolrestabes

Dalam perkembangan lain, polisi melakukan penggeledahan terhadap rumah keluarga TM, terduga pelaku serangan bom Polrestabes Surabaya.

Aparat kepolisian yang terdiri dari Brimob dan Gegana melakukan sterilisasi dan penyisiran di rumah pelaku, dibantu oleh petugas dari Linmas, Satpol PP, dan Dinas Pemadam Kebakaran Pemkot Surabaya.

Hak atas foto Rony Fauzan untuk BBC News Indonesia
Image caption Warga setempat mendengar desas-desaus masih ada sisa bomn di rumah TM, namun polisi yang melakukan penggeledahan tak berkomentar.

Garis Polisi dipasang dengan radius 100 meter, untuk menghalau warga setempat yang berkerumun, agar tidak mendekati lokasi penyisiran. Muncul desas-desus bahwa polisi menemukan sisa-sisa bom di dalam rumah itu, namun belum ada keterangan dari petugas di lokasi.

Bertemu pagi sebelum pergi untuk meledakkan diri

Salah satu tetangganya Kasida, yang berjualan air mineral galon, menuturkan bahwa ia bertemu TM, persis di pagi sebelum TM dan istrinya membawa tiga anak mereka dalam misi bom bunuh diri itu.

"Setelah saya mengantar pesanan segalon air di depan pagar rumahnya jam 6 pagi, dan ngobrol beberapa menit," tutur Kasida, Selasa (15/5) siang, kepada Roni Fauzan, seorang wartawan Surabaya yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Lalu dia pamit, katanya berangkat kerja. Tidak tahunya ada peristiwa pengeboman di kantor polisi (Mapolrestabes Surabaya)," dan ia adalah pelakunya tambah Kasida.

Hak atas foto Rony Fauzan untuk BBC Indonesia
Image caption Kasida hanya bisa mengantar pesanan air mineral galon di sampai depan pagar rumah.

Lelaki setengah baya itu menyebut, pertemuan itu merupakan yang kedua. Karena TM merupakan warga baru di kampung tersebut.

"Masih belum setahun disini. Tatap muka (dengan TM) baru dua kali: kemarin pagi (sebelum melancarakan pemboman) itu sama satu minggu yang lalu."

"Orangnya sopan dan lemah-lembut. Saya dinasehati dengan ayat-ayat Al Quran," kata Kasida.

"Saya awam tentang itu, tapi saya merasa ada yang beda dengannya (TM). Karena orangnya kesannya kurang terbuka tentang keluarganya. Saya mengantar air, saya disuruh meletakkan air di luar pagar rumahnya," ungkap Kasida.

Topik terkait

Berita terkait