Mereka yang menjadi korban bom Surabaya: 'Surga bagi Evan dan Nathan'

Wenny Hudojo Hak atas foto BBC NEWS INDONESIA/OKI BUDHI
Image caption Wenny Hudojo yang masih harus menggunakan infus dan duduk di kursi roda, memeluk baju putranya sebelum prosesi penghormatan terakhir penutupan peti.

Wenny Angelina Hudojo melepas kepergian kedua buah hatinya, Vincencius Evan (11) dan Nathanael Ethan (8), yang menjadi korban bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, dalam ibadah tutup peti.

Wenny Angelina Hudojo hanya bisa memeluk dan mencium baju serta mainan kedua anaknya. Air mata terus mengalir di wajahnya.

Sesekali dia terisak.

Doa tak putus terlantun dari bibirnya, kendati infus masih terpasang di tangannya dan dia harus duduk di kursi roda.

Meski tubuhnya penuh luka dan lebam usai terkena ledakan bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel, Surabaya, Minggu (13/05), Wenny tetap menguatkan diri menghadiri ibadah tutup peti kedua putranya, Vincencius Evan (11) dan Nathanael Ethan (8).

Prosesi penghormatan terakhir bagi dua bocah yang menjadi korban bom bunuh diri itu dihadiri ratusan pelayat. Suasana haru sangat kental terasa.

Rangkaian ibadah tutup peti dibuka dengan sambutan keluarga dan doa bersama yang dipimpin para Romo dari berbagai gereja.

Selanjutnya, keluarga bergantian memberikan wewangian kepada mendiang Evan dan Nathan, disusul dengan doa di depan foto mendiang sebelum meletakkan barang kesayangan milik Evan dan Nathan ke dalam peti.

Wenny memilih sendiri pakaian, buku, sepatu, mainan mainan mobil, dan pistol air yang akan dimasukkan ke dalam peti walau sambil berlinang air mata.

Hak atas foto BBC NEWS INDONESIA/OKI BUDHI
Image caption Erry dan Wenny Hudojo memberikan penghormatan terakhir kepada dua buah hati mereka, Evan dan Nathan, yang meninggal akibat bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya.

Wenny, dengan bantuan suami dan keluarga, berdiri di antara kedua peti, mengucapkan doa sekaligus pengampunan bagi pelaku serangan yang merenggut nyawa kedua putranya.

Ini akan menjadi kali terakhir Wenny bisa melihat kedua buah hatinya.

"Wenny akhirnya bisa mengampuni penjahat itu. Dengan hati yang rela dia menyerahkan Evan dan Nathan ke pangkuan Tuhan," ujar Ratna Handayani, perwakilan keluarga, saat prosesi ibadah di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya, Rabu (16/05).

Sorakan dukungan atas pernyataan Wenny memenuhi rumah duka. Namun, ujian bagi Wenny belumlah usai. Dia harus kembali ke rumah sakit dan menjalani operasi lanjutan untuk menyembuhkan lukanya.

Suka menolong

Evan dikenal sebagai anak yang suka menolong. Hal itu diungkapkan guru dan teman sekolah yang hadir untuk memberi penghormatan terakhir.

"(Evan) suka menolong, terutama bagi temannya yang kurang dalam pelajaran. Evan juga anak yang bertanggung jawab," sebut Yani Hastianty, wali kelas Evan.

Jeremy Christopher, teman sekolah Evan, mengungkapkan hal serupa. "Evan itu baik dan rajin," ujarnya dan menambahkan Evan tidak pernah menolak saat dimintai bantuan mengerjakan tugas.

"Tugas apapun kalau bareng dia, pasti selesai."

Hak atas foto BBC NEWS INDONESIA/OKI BUDHI
Image caption Mainan mobil-mobilan dan pistol air yang dipilih Wenny untuk ibadah tutup peti yang merupakan penghormatan terakhir bagi Evan dan Nathan.

Tapi kini kebaikan Evan hanya tinggal kenangan.

Dia dan adiknya, Nathan, menjadi korban ledakan bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/05) lalu.

Bom meledak ketika Evan dan adiknya hendak memasuki gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, Surabaya.

Evan menggandeng adiknya setelah turun dari mobil. Di sisi lain, Firman (15) dan kakaknya, Yusuf (17) memasuki lingkungan gereja menggunakan sepeda motor dengan membawa bom.

Firman dan Yusuf meledakkan diri.

Evan dan Nathan terhempas karena ledakan.

Saat ledakan terjadi, Evan sempat berusaha melindungi Nathan dari serpihan. Keduanya sempat di bawa ke rumah sakit, namun nyawa mereka tidak tertolong.

Evan meninggal di rumah sakit setelah menderita luka bakar karena serpihan logam, pendarahan dalam, dan benturan.

Sementara Nathan sempat bertahan kendati kehilangan banyak darah namun akhirnya dia meninggal hari Selasa (15/05) malam setelah operasi amputasi kaki kanannya.

Selamat jalan Evan dan Nathan...

Ucapan belasungkawa, selamat jalan, dan doa bagi Evan dan Nathan bertaburan di media sosial.

Di Facebook BBC News Indonesia, video penghormatan terakhir bagi kedua bocah itu telah ditonton 945.000 orang dan dibagikan hampir 29.000 kali. Sementara di kolom komentar, ucapan duka cita serta kata-kata penghiburan yang menguatkan bagi Wenny, sang ibu, terus mengalir.

Hak atas foto BBC NEWS INDONESIA/OKI BUDHI
Image caption Orang tua, keluarga, guru dan teman memberikan penghormatan terakhir pada Evan dan Nathan, korban bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya.

"Ikut berduka cita... seandainya terjadi padaku, anak-anakku diambil dengan cara yang sadis mungkin aku tak sekuat ibu, walau saya Muslim, GBU ibu Wenny. Surga tempat terindah untuk anak-anakmu," tulis Liez Agustina.

"Saya seorang Muslim dan saya juga seorang ibu, berurai airmata saya melihat postingan ini, insya Allah surga menanti kalian ananda Nathan dan ananda Evan. Duka ini bukan hanya duka bagi ibu Wenny dan keluarga besar atau duka warga Surabaya, tapi duka ini duka seluruh bangsa. Mari kita berpegangan tangan tanpa melihat agama, suku, status, kita lawan teroris di bumi kita tercinta Indonesia, aamiin YRA," sebut Sandra Sofia.

Adapun Ana Yunita Masura menulis, "Ironi seorang ibu, yang satu mengantar dua anaknya dengan rompi bom, yang satu di tengah sakitnya memilihkan baju kesayangan anaknya untuk terakhir kalinya sebelum dua anaknya dimakamkan. Selamat jalan dek Nathan dan Evan, selamat berbahagia di surga bersama Bapa."

Ucapan selamat jalan juga disampaikan salah satu teman sekolah Evan, Michael Jordan. "Selamat jalan Evan, semoga bahagia selalu dengan Tuhan."

Berita terkait