Gunung Merapi: Sesudah letusan beruntun ratusan pengungsi kembali ke desa mereka

Letusan Merapi, 21 Mei 2018 Hak atas foto Tim Palang Merah Indonesia
Image caption Terjadi beberapa letusan di puncak Merapi, yang memancarkan kilatan cahaya.

Ratusan warga lereng Gunung Merapi di Dusun Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali mengungsi sejak Senin petang (21/5), menyusul serangkaian letusan freatik di yang berlangsung sejak Senin (21/5) hingga Selasa dini hari.

Kepala BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo mengatakan, sebanyak 362 orang telah mengungsi ke Tempat Penampungan Pengungsi Sementara (TPPS) Tlogolele. Para pengungsi merupakan warga Stabelan, Tlogolele, Boyolali, sudah mulai meninggalkan kampung mereka sejak terjadinya letusan freatik pada Senin sekitar pukul 17.50 WIB.

"Dusun Stabelan merupakan wilayah yang paling dekat dengan puncak Merapi. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari puncak. Mereka sejak kemarin petang mengungsi," kata dia, Selasa (21/5), kepada Fajar Sodiq, seorang wartawan di Jawa Tengah yang melaporkan untuk BBC News Indonsia.

Sebelumnya, Badan Geologi, PVMBG Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi menyebut, pada 21 Mei 2018 itu, terjadi tiga kali letusan Gunung Merapi, dan satu kali gempa vulkanik, satu kali gempa tremor, dua kali gempa guguran, tiga kali gempa letusan, dan tiga kali gempa tektonik.

"Maka disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi mengalami peningkatan," kata Dr. Agus Budi Santoso, S.Si., M.Sc, direktur lembaga itu dalam sebuah pernyataan.

"Dengan meningkatnya aktivitas tersebut, maka terhitung mulai tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB, status aktivitas Gunung Merapi dinaikkan dari tingkat Normal menjadi Waspada, katanya pula.

Hak atas foto FAJAR SODIQ untuk BBC News Indonesia
Image caption Gimu, seorang warga desa sudah langsung kembali berkegiatan, setelah semalaman mengungsi.

Namun, menurut Kepala BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo, sejak Selasa pagi warga sudah mulai meninggalkan lagi tempat pengungsian untuk kembali ke rumah mereka dan berkegiatan normal.

"Karena situasi dirasa aman dan terkendali, mereka kembali bekerja seperti bertani, berkebun dan beternak," ujar Bambang Sinungharjo pula.

Hak atas foto FAJAR SODIQ untuk BBC News Indonesia
Image caption Dusun Stabelan merupakan wilayah yang paling dekat dengan puncak Merapi. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari puncak. Mereka cepat mengungsi, namun cepat pula kembali.

Hal itu dibenarkan Gimu, seorang warga desa. "Ini saya juga beraktifitas seperti biasa menerima pasokan dagangan sayur dari petani. Selanjutnya nanti akan saya jual di pasar sayur, Soko, Dukun, Magelang," ucapnya.

Gimu, seorang warga Stabelan, mengatakan sejak terjadinya letusan freatik pada Senin petang kemarin warga sempat dicekam ketakutan karena di atas puncak gunung tersebut muncul kilatan cahaya beberapa kali.

"Dulu saat letusan tahun 2010, di puncak mengeluarkan kilatan cahaya terus-terusan seperti itu, sehingga kemarin itu warga masih trauma dengan erupsi yang dulu," kata Ginu yang merupakan pedagang sayuran di Stabelan.

Hak atas foto Tim Palang Merah Indonesia
Image caption Kilatan cahaya dari Merapi mencemskan warga.

Selain kilatan cahaya, saat letusan-letusan freatik kemarin itu Gimu juga mendengar suara gemuruh.

Hal senada juga diungkapkan oleh warga Stabelan lainnya, Sarti. Menurutnya kondisi Gunung Merapi pada Senin petang kemarin memang mengeluarkan suara gemuruh yang cukup kencang.

"Kemarin, saat Magrhib itu suara gemuruh letusan jelas sekali. Terus pada dini hari ada letusan susulan lagi," jelasnya.

Senada dengan Gimu, ia mengungkapkan ketakutannya terkait kenangan buruk letusan tahun 2010. "Kalau di puncak keluar letusan abu yang tinggi itu. warga takut. Kita masih trauma dengan letusan 2010 lalu.," akunya,

Karenanya Sarti, Gimu dan warga Stabelan lainnya memutuskan untuk meninggalkan rumahnya masing-masing menuju tempat pengungsian di Tlogolele.

"Kemarin semuanya langsung mengungsi dengan diangkut mobil milik warga ke tempat pengungsian, karena takut kalau terjadi erupsi seperti 2010 lalu," ujarnya.

"Kampung kami jadi sepi karena semua mengungsi," Sarti menambahkan.

Betapa pun, kendati sempat menginap semalam di tempat pengungsian, usai sahur warga mulai meninggalkan pengungsian untuk kembali.

"Soalnya aktifitas Gunung Merapi berangsur-angsur menurun. Juga biar bisa bekerja seperti biasanya," kata Gimu.

Topik terkait

Berita terkait