'Kenapa saya memutuskan untuk lebaran di Tanah Suci'

lebaran Hak atas foto Didik Imam Waluya
Image caption Suasana di kawasan Masjid Nabawi, Madinah, setelah salat Id, Jumat (15/6).

Bagi kebanyakan orang, Idulfitri adalah momen untuk pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Tapi beberapa orang merayakan lebaran di Arab Saudi.

Didik Imam Waluya, misalnya. Pria yang sedang menunaikan ibadah umrah bersama keluarganya itu berkesempatan menjalani Ramadan dan Idul Fitri di Tanah Suci bagi umat Muslim tersebut.

Pada Jumat (15/6) dini hari waktu Arab Saudi, dia menuturkan tidak bisa masuk ke Masjid Nabawi di Madinah karena jemaah yang bersiap mengikuti salat Id sudah demikian banyak.

"Jamaahnya luar biasa banyaknya, mungkin jutaan orang," ujarnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Jerome Wirawan.

Hak atas foto Didik Imam Waluya
Image caption Suasana di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, sebelum salat Id pada Jumat (15/6).
Hak atas foto Didik Imam Waluya
Image caption Jemaah tidak bisa lagi masuk ke dalam Masjid Nabawi karena masjid itu sudah dipenuhi umat yang bersiap melangsungkan salat Id.

Sehari sebelumnya, Didik merasa gembira karena dapat berbuka puasa pada malam terakhir Ramadan di Masjid Nabawi, Madinah.

"Menjelang berbuka puasa magrib, banyak orang yang berlomba-lomba untuk memberikan makanan tajil maupun untuk berbuka di masjid maupun di halaman. Mereka berusaha menarik kita untuk makan makanan yang mereka sajikan. Dapat dipastikan bahwa seluruh jamaah pasti mendapatkan makanan," tuturnya.

"Sedangkan pada tarawih dan tahajud terakhir sangat luar biasa, jamaah nya membludak sampai di jalan-jalan. Jauh lebih banyak dibanding musim Haji. Saya belum pernah mengalami salat tarawih yang diikuti oleh jutaan jamaah, baik di dalam masjid maupun yang berada di halaman luar masjid. Terharu juga," sambung Didik.

Pria itu membawa serta istri, anak, dan menantunya ke Arab Saudi pada 9 Mei lalu.

Dia mengaku sudah beberapa kali beribadah umrah, namun belum pernah bertepatan dengan Ramadan dan Idul Fitri.

"Saya ingin merasakan bagaimana berlebaran di Tanah Suci. Ini pengalaman pertama bagi saya dan keluarga," ujarnya.

Hak atas foto Didik Imam Waluya
Image caption Buka puasa terakhir di Madinah, Kamis (14/6).
Hak atas foto Didik Imam Waluya
Image caption Sejumlah petugas di Masjid Nabawi membagi-bagikan kotak makanan untuk berbuka puasa, pada Kamis (14/6).
Hak atas foto Didik Imam Waluya
Image caption Didik Imam Waluya pergi menunaikan ibadah umrah beserta istri, anak, dan menantunya. Dia adalah satu dari sekian banyak WNI yang pertama kali mengalami Ramadan di Arab Saudi.

Jemaah asal Indonesia lainnya yang juga pertama kali merayakan Idul Fitri di Tanah Suci adalah Tatin Tansah Prihatin. Dia meninggalkan suami dan anaknya di Indonesia untuk melaksanakan ibadah umrah pada satu pekan terakhir bulan Ramadan.

Ibu tiga anak berusia 53 tahun itu merasa bahwa dengan menjalankan ibadah umrah pada bulan Ramadan, pahalanya akan berlipat ganda.

"Karena ada hadits yang menyebutkan kalau saum (puasa) Ramadan kita sambil umrah, jadi umrah di bulan Ramadan itu pahalanya sama seperti ibadah haji," tuturnya.

Sebelumnya, Tatin sempat tiga kali melakukan perjalanan ke Tanah Suci. Ia melaksanakan umrah, kemudian haji pada 2013 bersama suami; dan pada 2016, kembali umrah bersama seluruh keluarga.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Suasana di Masjidil Haram pada Kamis (14/6).

Kali ini, hal utama yang mendorongnya berangkat ialah rasa penasaran akan suasana Ramadan di sana.

"Kalau bulan Ramadan itu katanya penuh sekali gitu, jadi kita ingin lihat saja gimana ibadah di sana. Segitu hari-hari biasa juga penuh apalagi katanya kalau bulan Ramadan lebih penuh."

Lebih lanjut, ia bercerita bahwa pada awalnya ia berencana untuk berangkat dengan sang suami, namun masalah paspor membuat keberangkatannya diundur sehingga akhirnya ia akan berlebaran di Mekah.

Tatin mengaku bahwa ia merasa lebih rindu justru karena sudah beberapa kali ke Tanah Suci. Ia berkata selalu ingin menyempurnakan ibadah yang dilakukannya di sana.

"Waktu pergi umrah pertama, ada beberapa yang kurang nyunah (sesuai tuntunan Nabi Muhammad -red.). Ternyata waktu ibadah haji kan diperbaiki... ke sini lagi merasa ada yang kurang. Setelah itu terus saja ada yang kurang," ungkapnya.

Cenderung menurun

Syam Resfiadi, pemilik biro perjalanan umrah Patuna, mengatakan jumlah jemaah umrah yang diberangkatkan saat Ramadan tidak banyak.

"Saat Ramadan jemaahnya hanya satu bus saja. Tetapi umrah Syawal lebih banyak, ada lima bus," ujarnya.

Dia mengaku bahwa tarif umrah saat Ramadan memang lebih tinggi dari bulan-bulan biasa. Bahkan, besarannya bisa mencapai 10 kali lipat. "Permintaan tinggi karena nilai ibadahnya juga tinggi sehingga semua jadi berlipat mahalnya," kata Syam.

Sebagai perbandingan, tarif umrah untuk bulan Oktober yang tertera di laman Patuna berkisar antara Rp27 juta hingga Rp54 juta.

Secara terpisah, Muharam Ahmad, selaku direktur biro perjalanan umrah Wahana sekaligus wakil ketua Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji atau Himpuh, mengungkap perjalanan umrah tahun ini cenderung menurun dibanding tahun lalu

"Tahun ini berkurang, diperkirakan karena harga cenderung tinggi akibat penguatan USD yg tembus Rp14.200 saat mendaftar di bulan Mei," sebutnya.

Betapapun, walau tarif umrah tinggi, bagi sebagian orang seperti Didik dan Tatin, ibadah lebih penting dari uang.

"Harga tidak menjadi masalah dibanding ibadah yang kami jalani di Tanah Suci," kata Didik.

Topik terkait

Berita terkait