Sudah lima belas orang tewas akibat kapal karam karena kelebihan beban

Sejumlah warga melakukan pencarian korban kapal motor Arista yang tenggelam menggunakan kapal rakyat di Pelabuhan Rakyat Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Keterangan gambar,

Sejumlah warga melakukan pencarian korban kapal motor Arista yang tenggelam menggunakan kapal rakyat di Pelabuhan Rakyat Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6).

Pemilik kapal KM Arista yang tenggelam di perairan Makassar, Sulawesi Tengah, yang menewaskan 15 orang penumpang, sudah ditangkap. Pihak berwenang menyimpulkan, kapal tenggelam karena disalahgunakan fungsinya dan mengalami kelebihan beban.

Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menyebut, pemilik sekaligus nakhoda KM Arista itu sebelumnya sudah ditetapkan sebagai tersangka, karena diduga menyalahi prosedur pengoperasian kapal karena menggunakan kapal nelayan sebagai kapal penumpang.

Kapal Motor (KM) Arista tenggelam akibat diterjang ombak tinggi di Perairan Makassar sesaat setelah meninggalkan Pelabuhan Pautere menuju Pulau Barang Lompo pada Rabu (13/06).

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat 15 orang, termasuk dua anak-anak yang baru saja ditemukan Kamis (14/06), ditemukan tewas dalam kecelakaan in. Sementara 22 orang dalam kondisi selamat.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan evakuasi korban yang hilang masih dilakukan. Kendati begitu, Soerjanto mengatakan pihaknya belum bisa memastikan berapa jumlah penumpang yang hilang.

"Karena itu kan kapal ikan dipakai sebagai (kapal) penumpang. Jadi kita tanya ke penumpang yang selamat berapa jumlah yang naik, nggak ada yang tahu," jelas Soerjanto.

Kepala Syahbandar Utama Makassar Victor Viki Subroto mengakui kapal tersebut merupakan kapal yang biasanya memuat ikan namun pada saat kejadian mengangkut penumpang yang akan berbelanja keperluan Lebaran ke Makassar.

"Tentunya karena KM Arista itu bukan kapal penumpang maka tidak ada manifest penumpang. Sehingga kapal tersebut berangkat tanpa Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dan berangkatnya tanpa sepengetahuan kami selaku regulator di Pelabuhan," ujar Victor dalam keterangan tertulis.

Kapal jenis Jolloro berbahan kayu itu bertolak dari pelabuhan rakyat Paotere pada Rabu (13/06)pukul 12.30 WITA. Sekitar 5 mil dari pelabuhan, kapal dihantam angin dan ombak bear yang mengakibatkan kapal terbalik dan tenggelam.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Keterangan gambar,

Anggota kepolisian mengangkat jenazah salah satu korban kapal motor Arista yang tenggelam di Rumah Sakit Jala Ammari, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6).

Saat tenggelam, KM Arista tengah membawa penumpang yang habis berbelanja untuk keperluan Lebaran. Sebagian besar penumpang merupakan warga Barrang Lompo.

Adapun jumlah penumpang yang diangkut belum dapat dipastikan namun informasi dari pemilik kapal pada saat itu memuat sekitar 30 penumpang."Kami tidak tahu berapa kepastian jumlah penumpang yang diangkut oleh kapal tersebut karena tidak adanya manifest. Namun demikian, kami terus melakukan pencarian korban kapal tersebut yang belum ditemukan," ujar Victor.

Adapun Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Sulawesi Selatan memperkirakan ada 43 penumpang di KM Arista, yang tenggelam di perairan Makassar.

Sumber gambar, Reinhard Soplantila/detikcom

Keterangan gambar,

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Sulawesi Selatan Amiruddin. Basarnas Sulawesi Selatan memperkirakan ada 43 penumpang di KM Arista

Lalu, apa penyebab kecelakaan tersebut?

Soerjanto mengatakan hingga kini pihaknya masih menyelidiki penyebab tenggelamnya kapal itu. Namun, berdasar keterangan penumpang yang selamat, tak lama setelah kapal berlayar dari pelabuhan, kapal berhadapan dengan gelombang laut yang besar dan tiba-tiba terbalik.

Selain karena penyalahgunaan fungsi kapal, kelebihan beban diduga menjadi penyebab utama kecelakaan itu.

"Peruntukkannya kapal ini bukan untuk penumpang, jadi bukan (karena) over capacity saja, tapi memang peruntukkannya tidak bisa untuk penumpang," jelas dia.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Keterangan gambar,

Keluarga korban kapal motor Arista yang tenggelam mencari info di Rumah Sakit Jala Ammari, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6).

Lebih lanjut dia menjelaskan beban dari kapal muatan ikan, biasanya terletak di palka, sementara kapal penumpang biasanya muatan berada di geladak kapal.

"Di samping itu juga banyak barang dan ada sepeda motor di haluannya," imbuh Soerjanto.

Menurut Soerjanto, penyalahgunaan fungsi kapal bukan pertama kalinya terjadi di wilayah itu. Setiap harinya, banyak penumpang yang berlayar menggunakan kapal ikan dari pelabuhan perikanan. Intensitas penumpang bertambah menjelang hari raya keagamaan.

"Kalau kita larang, penduduknya tidak ada transportasi ke pulau-pulau kecil itu," ungkapnya.

"Ini yang mau kita koordinasikan ke depan mau seperti apa. Ini yang kita mau rembukan dengan KSOP (Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan) dan pemda setempat," tegas Soerjanto.

Adapun Victor mengatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan pengawasan terhadap aspek keselamatan kapal-kapal di Pelabuhan Makassar dan tidak ada toleransi terhadap kekurangan dalam pemenuhan aspek keselamatan pelayaran sebelum berangkat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Keterangan gambar,

Untuk mengantisipasi kecelakaan laut selama musim lebaran, syahbandar dan otoritas pelabuhan dituntut untuk merencanakan kebutuhan dan kapasitas kapal penumpang

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Pada hari yang sama, kapal penumpang KM Albert juga mengalami kecelakaan di Pulau Maspari, Sumatra Selatan, 2 orang meninggal akibat kecelakaan itu.

Kapal speedboat itu mengangkut 30 orang, termasuk nahkoda dan dua awak kapal bertolak dari dermaga speedboad Kampung Suka Damain, Tabaoali, Kabupaten Bangka Selatan, dengan tujuan Dusun Sungai Pasir, Ogan Sumatra Selatan.

"Adapun 25 orang penumpang berhasil dievakuasi dengan selamat, Nakhoda berserta 2 orang awak kapal juga berhasil diselamatkan dan 2 orang penumpang meninggal dunia," ujar Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Junaidi dalam keterangan tertulis.

Mereka diselamatkan oleh para nelayan Sungai Kong, Sumatra Selatan.

Berbeda dengan kecelakaan yang dialami oleh KM Arista, kecelakaan yang dialami KM Albert tlantaran kondisi cuaca yang buruk serta gelombang tinggi yang terjadi di perairan tersebut.

Oleh karena itu, Junaidi mengingatkan agar Nakhoda kapal harus memperhatikan cuaca sebelum berangkat."Ditjen Perhubungan Laut rutin mengeluarkan maklumat pelayaran tentang cuaca. Oleh karena itu, kami meminta semua pihak terutama Nakhoda kapal agar memperhatikan cuaca sebelum berangkat agar kejadian serupa dapat dihindari dikemudian hari," kata dia.

Pengamat transportasi Danang Parikesit pun mengungkapkan kecelakaan kapal yang kerap terjadi pada masa periode libur lebaran, ketika mobilitas penumpang lebih banyak ketimbang hari biasa.

Biasanya, fatalitas terjadi karena muatan melebih kapasitas dan perubahan fungsi kapal tersebut, dari kapal barang menjadi kapal penumpang, menjadi penyebab kecelakaan transportasi air menjelang hari raya.

"Ini harus menjadi catatan bagi syahbandar dan otoritas pelabuhan yang memungkinkan kapal berlayar. Karena secara default yang membolehkan kapal berlayar atau tidak adalah syahbandar, yang memiliki otoritas penuh dari Kementerian Perhubungan untuk go or no go-nya itu," jelas Danang.

Dia pula menyoroti minimnya persiapan dari Kementarian Perhubungan dalam menyiapkan distribusi transportasi laut menjelang lebaran. Padahal, biasanya jumlah penumpang selama periode lebaran mengalami peningkatan sekitar 10%.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Keterangan gambar,

Sejumlah penumpang kapal Pelni Nggapulu asal Makassar, Sulawesi Selatan, tiba di Terminal Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Senin (4/6). Sebagian warga memilih mudik menggunakan kapal untuk menghindari kemacetan arus mudik, yang lain lantaran terbatasnya moda transportasi.

"Yang namanya angkutan lebaran kan setiap tahun sudah bisa diantisipasi, berapa banyak sebenarnya kebutuhannya. Kalau kita lihat secara natural pertumbuhan dari pemudik atau pelaku perjalanan selama periode lebaran ini kan naiknya antara 8% -12% tiap tahun," ungkap Danang.

"Jadi tahun depan sebenarnya sudah bisa dilakukan perencanaan dari sekarang, dan kebutuhan kapal, kondisi kapal, dan persyaratan kapal itu sudah bisa direncanakan jauh hari sebetulnya," imbuh dia.

Dalam hal ini pula KNKT semestinya tidak hanya menyelidiki soal penyebab terjadinya kecelakaan tapi juga proses tata kelola boleh tidaknya sebuah kapal itu berlayar atau tidak.

Sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran, otoritas pelabuhan dan syahbandar mengemban fungsi tersebut.

Ketua Posko Angkutan Laut Lebaran 2018, Ferdy Trisanto mengimbau agar para penumpang harus tetap mentaati peraturan, menggunakan operator kapal yang kredibel dan memperhatikan faktor keselamatan serta tidak memaksakan diri naik ke atas kapal bila kapal sudah terisi penuh, tunggulah jadwal kapal beriku

Merujuk data Posko Angkutan Laut Lebaran tahun 2018 berdasar pada 52 pelabuhan pantau, jumlah penumpang angkutan laut Lebaran 2018 justru menurun dibanding tahun sebelumnya.

Jumlah penumpang yang naik angkutan laut sejak Kamis (31/05) atau H-15 Lebaran sampai dengan Kamis (14/06) atau H -1 pukul 08.00 WIB sebanyak 748.031 orang dan penumpang turun sebanyak 717.577 orang.

"Perbandingan penumpang naik dari H-15 sampai dengan H-1 tahun 2017 dibandingkan tahun 2018 mengalami penurunan -4.52 persen dan penumpang turun mengalami penurunan sebesar -6.69 persen," kata Ferdy.Adapun pelabuhan terpadat secara berturut-turut adalah pelabuhan Batam dengan total jumlah sebanyak 167.041 orang, Tanjung Balai Karimun (119.248 orang), Tanjung Pinang (88.566 orang), Tanjung Perak (75.099 orang) dan Ternate (70.606 orang)