Tragedi Danau Toba: Enam anggota keluarga masih hilang, Didin berharap ada 'mukjizat'

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Tragedi KM Sinar Bangun: Fandi masih menanti 'mukjizat'

Hingga Rabu (20/06) sore, total lima korban tewas tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba telah ditemukan.

Namun, nasib 178 penumpang lainnya masih belum diketahui, lebih dari 48 jam sejak kapal tenggelam.

Salah satu korban tewas yang ditemukan adalah Yanti, asal Binjai, Sumatera Utara. Namun, bagi keluarganya penemuan jenazah Yanti bukan berarti pula harap-harap cemas penantian mereka berakhir.

Enam orang anggota keluarga Yanti yang terdiri dari sang suami, empat anak dan seorang menantu masih dinyatakan hilang.

"Ini satu keluarga habis sama sekali," tutur Didin, paman Yanti, kepada wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, Rabu (20/06).

"Yang baru ditemukan si ibunya (Yanti). Sudah dikebumikan tadi, langsung."

Hak atas foto Reuters
Image caption Harap-harap cemas penantian keluarga korban.

Kakak ipar Yanti, Sudjana mengungkapkan bahwa Yanti sekeluarga memang sering berlibur mengendarai sepeda motor. Kali ini mereka bertujuh berkendara menggunakan tiga sepeda motor.

Namun, berbeda dengan Lebaran-Lebaran sebelumnya, mereka tahun ini tidak berkunjung ke saudara tertua mereka.

"Biasanya kita kumpul di rumah kakak. Untuk silaturahmi dan sungkeman, tetapi kenapa kemarin dia tidak datang, ternyata pergi liburan satu keluarga," Ujar Sudjana sambil meneteskan air mata.

Didin berharap enam anggota keluarganya yang masih hilang, segera ditemukan.

"Meskipun harapan hidup mereka itu sudah tipis banget, tetapi kami masih berharap ada mukjizat, ada yang bisa ditemukan (dalam keadaan) hidup," ujar Didin.

Arus bawah dan vegetasi jadi kendala

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara mengungkapkan salah satu alasan sulitnya menemukan korban dan bangkai kapal, adalah karena adanya arus bawah dan rimbunnya vegetasi di sejumlah titik Danau Toba.

"Menurut pengetahuan masyarakat airnya juga mengalir di bawah danau... Dan sehari setelah tenggelamnya kapal, ombak sangat besar, jadi memungkinkan sekali (korban) terbawa arus ke sana kemari," kata Kepala BPBD Sumatera Utara, Riadil Lubis, kepada wartawan BBC News Indonesia, Rafki Hidayat, Rabu (20/06).

Selain itu, Riadil menambahkan, lekukan-lekukan dan sejumlah tanaman di dalam danau dikhawatirkan membuat 'korban tersangkut atau tersembunyi' sehingga sulit terapung.

Hak atas foto AFP
Image caption Keluarga menunggu dengan harap-harap cemas di posko informasi.

Sepanjang Rabu, Tim SAR telah menemukan empat jenazah.

"Penemuan pada pukul 08:00, 10:40 dan 15:00. Sehingga total ada lima jenazah. Sementara korban selamat berjumlah 18 orang," tutur Riadil.

Hak atas foto AFP
Image caption Berdasarkan informasi dari keluarga yang kehilangan, terdapat 178 korban KM Sinar Bangun yang masih dinyatakan hilang.

KM Sinar Bangun tenggelam pada Senin (18/06) sekitar pukul 17:15 WIB, saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Pulau Samosir, menuju ke Tigaras, Kabupaten Simalungun.

Sejumlah korban yang menaiki kapal sedang berwisata menikmati libur Lebaran.

Pencarian diperluas ketiga zona

Khawatir korban dan kapal terbawa arus bawah, tim SAR pun mulai Rabu pagi telah memperluas pencarian menjadi tiga zona.

"Zona satu itu di TKP lokasi tenggelamnya kapal. Di sana tim menyelam hingga kedalaman 25 meter. Zona dua itu terletak 100 meter di sebelah kanan TKP. Sementara zona tiga berlokasi 100 meter di sebelah kiri TKP," ungkap Riadil.

Hak atas foto AFP
Image caption Pencarian diperluas menjadi tiga zona.

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, Selasa (20/06), Riadil mengungkapkan bahwa pencarian korban dan kapal akan menantang, karena Danau Toba memiliki kedalaman 900 meter.

Lalu apakah penyelaman sampai kedalaman 25 meter efektif untuk mencari korban?

"Kedalaman 900 meter itu kan yang paling dalam. Di sana-sini tidak sampai segitu. Nah, sekarang cuaca agak cerah, bagus, gelombang danau agak baik, tenang, semoga pencarian bisa ada hasil," jawab Riadil.

Hak atas foto AFP
Image caption Ada lebih 180 orang yang menjadi penumpang KM Sinar Bangun.

Namun, hingga Rabu sore dan setelah zona pencarian diperluas, tanda-tanda keberadaan kapal dan korban tetap belum diketahui.

Kapasitas kapal hanya 43 penumpang

Hak atas foto EPA

Di tempat terpisah, Kementerian Perhubungan mengonfirmasi bahwa KM Sinar Bangun kelebihan muatan.

"Kapal (ini) berukuran 35 GT (gross tonage) berkapasitas 43 orang. Kapal kecil," kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, dalam konferensi pers di kantornya di Jakarta, Rabu (20/06).

Budi pun mengilustrasikan bahwa untuk kapal dengan ukuran tersebut, sebanyak 80 penumpang masih bisa diangkut, "tetapi kalau 200 (penumpang) mungkin tidak cukup".

Dipaparkannya, ketika berlayar dari Pulau Samosir ke Simalungun, KM Sinar Bangun, dihadang cuaca buruk; hujan deras dan angin kencang. Tidak hanya itu, gelombang danau disebut Budi mencapai dua meter.

Hak atas foto AFP
Image caption Pencarian akan dilakukan sampai tujuh hari ke depan.

Kondisi tersebut diperburuk dengan kurangnya jaket pelampung yang "jumlahnya hanya 45 buah. Bayangkan penumpang sebanyak itu (lebih 180 orang), banyak yang tidak pakai life jacket," tutur Menhub.

Budi mengungkapkan pencarian korban akan dilakukan sampai tujuh hari ke depan dan apabila diperlukan akan ditambah tiga hari.

Berita terkait