Korban selamat KM Sinar Bangun: 'Walau kapal penuh, kami tetap bisa naik ke kapal'

pencarian terus dilakukan di danau Toba Hak atas foto RAHMAD SURYADI/AFP/Getty Images
Image caption Memasuki hari keenam semenjak tenggelamnya kapal motor (KM) Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatra Utara, upaya pencarian korban meninggal atau selamat masih nihil.

Salah-seorang korban selamat dari ternggelamnya KM Sinar Bangun mengaku dirinya dan dua orang lainnya tetap bisa naik ke kapal tersebut walaupun muatannya sudah penuh.

Jamuda Parmonangan Sinaga, 17 tahun, mengaku petugas di Dermaga Tigaras telah menolak rencananya untuk menaiki kapal itu karena dinyatakan "sudah penuh", tetapi pemilik kapal tidak menolak dia dkk naik ke atasnya.

"Penumpang sudah padat di dalam, tidak bisa bergerak sama sekali. Kondisi penumpang sesak," ungkap Jamuda kepada wartawan BBC Dwiki Anugerah dan wartawan setempat, Sulaiman Achmad, Sabtu (16/06) saat ditemui di Simpang Gereja Jalan Tigaras, Kabupaten Simalungun.

"Kakak dan teman saya disuruh masuk ke dalam kapal. Sepeda motor kami juga disusun... Jumlahnya (sepeda motor) puluhan. Kalau penumpang itu, kondisinya sekitar hampir 200 orang," tambahnya.

Hak atas foto SULAIMAN AHMAD/BBC NEWS INDONESIA
Image caption Jamuda Parmonangan Sinaga, 17 tahun, mengaku petugas di Dermaga Tigaras telah menolak rencananya untuk menaiki kapal itu karena dinyatakan "sudah penuh", tetapi pemilik kapal tidak menolak dia dkk naik ke atasnya.

Ketika kapal berjalan sekitar 20 menit lebih, sambung Jamuda, tiba-tiba kapal oleng. "Saya tidak ingat berapa lama oleng, saya loncat ke danau, kapal sudah tenggelam," ujar siswa kelas 2 di SMA Negeri 1 Dolok Pardamean ini.

"Kejadiannya begitu cepat. Kapal oleng ke kiri lalu kanan, beberapa saat kemudian sudah tenggelam. Ketika kapal mau tenggelam itu saya loncat tercebur ke danau," katanya.

'Teman saya menarik kaki saya'

Saat berenang untuk menyelamatkan diri, Jamuda sempat berupaya menolong kerabatnya. "Teman saya menarik-narik kaki saya, karena situasi panik dan saya juga hampir tenggelam."

Tetapi, "Saya lepaskan dan saya naik ke permukaan danau. Setelah itu, tidak ada lagi saya lihat mereka dimana," ujarnya perlahan.

Hak atas foto Kiki Cahyadi/Anadolu Agency/Getty Images
Image caption Tim SAR menemukan barang-barang yang diduga milik korban tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Hingga akhirnya dia dan sebagian korban lainnya diselamatkan oleh kapal KMP II Sumut, Jamuda mengaku tidak ingat lagi kejadian selanjutnya.

Jamuda mengaku hingga kini harus bolak balik rumah ke Posko Bencana di Dermaga Tigaras yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari rumahnya. Dia merupakan warga Kampung Sibungabunga, Desa Togudomu Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumut.

"Mau cek korban lain apakah sudah ditemukan atau belum. Karena kakak dan adik saya dan teman saya belum ditemukan juga. Saya berharap secepatnya bisa ditemukan," katanya, masih dengan nada lirih.

Bagaimanapun, dia mengharapkan agar kerabatnya yang masih hilang dapat ditemukan. "Setiap hari, kami keluarga menanti," ungkapnya.

Upaya pencarian korban masih nihil

Memasuki hari keenam semenjak tenggelamnya kapal motor (KM) Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatra Utara, upaya pencarian korban meninggal atau selamat masih nihil.

Hak atas foto Sulaiman Achmad/BBC News Indonesia
Image caption Kondisi cuaca di kawasan Danau Toba yang sempat digujur sejak Jumat dan kabut tebal, menjadi kendala proses pencarian, terutama pencarian dari helikopter. "Sudah stand by tapi belum bisa datang karena faktor cuaca," ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syaugi.

Sampai Sabtu (23/06) sore, tim Basarnas sudah melakukan pencarian dengan tiga sistem, yaitu permukaan air, dalam air dan penyisiran di bibir Danau Toba, tetapi belum menemukan korban yang meninggal atau selamat.

Tim SAR juga telah memperluas pencarian sampai radius 30km untuk terus mencari korban, kata pejabat terkait.

"Tim kita bergerak 100 orang dengan 18 perahu karet," kata Kepala Kantor SAR Medan, yang juga SAR Mission Coordinator tenggelamnya KM Sinar Bangun, Budiawan, Sabtu (23/6/2018).

Hak atas foto Kiki Cahyadi/Anadolu Agency/Getty Images
Image caption Keluarga korban KM Sinar Bangun masih menunggu di pinggir danau dan berharap keluarganya yang menjadi korban dapat ditemukan dalam kondisi hidup atau meninggal dunia.

Tim SAR juga sudah menggunakan peralatan multibeam side scan sonar yang mampu mendeteksi dan mengetahui kondisi dasar perairan hingga kedalaman 2.000 meter.

"Sudah datang (alatnya), sedang dipakai," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syaugi kepada wartawan, Sabtu (23/06).

Namun demikian, seperti dilaporkan Sulaiman Achmad untuk BBC News Indonesia, kondisi cuaca di kawasan Danau Toba yang sempat digujur sejak Jumat dan kabut tebal, menjadi kendala proses pencarian, terutama pencarian dari helikopter.

"Sudah stand by tapi belum bisa datang karena faktor cuaca," ujar M Syaugi.

KM Sinar Bangun tenggelam saat berlayar dari Simanindo di Pulau Samosir ke Tiga Ras di Pulau Sumatera, Senin (16/060 lalu), dengan perkiraan terakhir membawa 192 penumpang walau -menurut Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi- kapasitasnya hanya sekitar 43 orang.

Hampir bisa dipastikan sekitar 170 penumpang yang hilang sudah meninggal dunia dan ada perkiraan bahwa jenazah bisa jadi akan mulai mengapung ke permukaan.

Berita terkait