Serangan bersenjata di Nduga, Papua 'terkait Pilkada', KPU minta pengamanan ditingkatkan

pilkada Papua Hak atas foto ANTARA FOTO/Spedy Paereng
Image caption Diawasi oleh aparat Brimob, sejumlah petugas KPU mengangkut logistik Pilkada ke gedung Eme Neme Yauware, Timika, Papua, Sabtu (23/06).

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua mengharapkan keamanan di Kabupaten Nduga, Papua, dapat segera "kondusif" sehingga tidak akan menganggu distribusi logistik ke 32 distrik di wilayah itu.

Hal itu ditegaskan anggota KPU Papua, Izak Hikoyabi, menyusul kasus serangan bersenjata oleh sekelompok orang terhadap pesawat yang membawa belasan anggota polisi di Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, Senin (25/06) pagi.

"KPU minta (pengamanan) logistik untuk enam distrik yang sekarang di Wamena, dan ada logistik untuk 32 distrik di Kenyam," kata Izak Hkoyabi kepada wartawan BBC News Indonesia, Abraham Utama di ibu kota provinsi Papua, Jayapura, Senin (25/06).

"Kami berharap kalau besok kondusif, kami akan distribusikan logistik itu ke distrik," tambahnya.

Dalam keterangan kepada wartawan di Jakarta, Senin, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan serangan bersenjata itu diduga terkait pelaksanaan pilkada di wilayah tersebut.

"Kelompok-kelompok bersenjata ini sering kali juga dimanfaatkan atau juga ikut memanfaatkan situasi pilkada," kata Tito.

Tanpa menyebut nama kelompoknya, Kapolri menegaskan bahwa "ada kecenderungan kelompok tertentu memanfaatkan kelompok-kelompok ini supaya mereka melakukan intimidasi kepada masyarakat untuk memilih pasangan tertentu."

Hak atas foto STR/AFP/Getty
Image caption Seorang warga kota Jayapura, Papua, memberikan suaranya dalam Pemilu Presiden, 7 Juli 2009.

Serangan bersenjata kedua

Insiden penembakan terjadi sekitar pukul 09.35 Waktu Indonesia Timur (WIT), Senin (25/06), ketika pesawat Twin Otter milik maskapai Trigana Air, yang menurut Kapolri, membawa 15 anggota Brimob, mendarat di bandar udara Kenyam, Kabupaten Duga.

Menurut Kapolri, ini merupakan serangan bersenjata kedua yang diarahkan kepada aparat Polri di sekitar Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga.

Hak atas foto Ulet Ifansasti/Getty Images
Image caption Di depan kantor KPU Papua, beberapa personil polisi melakukan penjagaan selama pemilu legislatif, 10 April 2009.

"Dua hari sebelumnya (Jumat, 22 Juni) juga sama ada penembakan juga, tapi dari bawah (darat) dan tidak ada korban."

Pada hari Jumat, kepolisian mengirimkan 30 orang anggota Brimob untuk membantu mengamankan pelaksanaan pilkada di 32 distrik di Kenyam, kata pejabat kepolisian di Papua.

Dalam serangan pada hari Senin pagi, pesawat itu disebutkan baru saja tiba dari penerbangan dari bandara Wamena, Kabupaten Jawawijaya, Papua, dan sedang menuju pemberhentian terakhir di bandara tersebut.

'Ada tiga orang warga yang ditembak'

Orang-orang bersenjata itu, ungkap Kapolri, menembaki pesawat yang sedang memutar menuju pemberhentian akhir. "Kemudian ditembaki dari samping, dan akibatnya pilotnya terkena pada bagian bahu," ungkap Tito.

Walaupun demikian, lanjutnya, tidak ada satu pun anggota Brimob yang menjadi korban dalam serangan tersebut.

Hak atas foto BRAM/AFP/Getty Images
Image caption Salah satu sudut di sebuah gedung di komplek Universitas Cenderawasih, Papua, terlihat terbakar, menjelang pemilu legislatif, 8 April 2009.

Sejumlah laporan yang mengutip seorang pejabat kepolisian di Papua menyebutkan bahwa pelaku penembakan kemudian melepaskan tembakan ke arah orang-orang sipil yang tinggal tidak jauh dari bandara Kenyam.

Kapolri membenarkan adanya serangan tembakan yang diarahkan ke sejumlah anggota masyarakat yang berada tidak jauh dari bandara tersebut, tetapi belum diketahui kondisinya.

"Ada tiga yang saya dengar yang ditembak dan sama ada yang dilukai. Saya belum tahu, apakah lukanya berat, ringan ataukah kemungkinan terburuk," tutur Kapolri.

Sampai pukul 17.00 WIB, BBC News Indonesia telah menghubungi Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal melalui sambungan telepon, namun belum mendapatkan tanggapan.

Kapolri: 'Kita tetap kirim pasukan'

Lebih lanjut Kapolri menyatakan, serangan bersenjata yang "memanfaatkan situasi pilkada" tidak akan menganggu upaya pengamanaan pelaksanaan pilkada di Kabupaten Nduga, Papua.

Hak atas foto AFP/Liva Lazore
Image caption Disaksikan seorang panitia di salah satu TPS di kota Jayapura, Papua, seorang warga memasukkan kertas suara ke kota suara dalam Pemilu Legislatif, 9 April 2014.

"Kita tidak akan mundur, kita akan tetap kirim pasukan. Saya sudah sampaikan ke Pak Kapolda, kalau kurang, kita akan tambah lagi," kata Tito.

"Makin kita 'dikerjain', makin banyak (pasukan polisi) yang kita kirim," tandasnya.

Provinsi Papua sering kali masuk dalam daftar daerah rawan saat penyelenggaraan Pilkada.

Berdasarkan data Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), sejak 2010 sampai 2014, sebanyak 71 warga tewas saat perhelatan pesta demokrasi di berbagai kabupaten di Papua.

Sejumlah laporan menyebutkan, Kepolisian Daerah (Polda) Papua telah meminta bantuan pengamanan 700 personil tambahan dari Polda Papua Barat dan Korps Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok.

Selain itu, sekitar 3.000 personil pasukan TNI juga dilaporkan akan ikut membantu pengaman jalannnya pilkada di Papua.

Berita terkait