Piala Dunia 2018: Polisi tangkap terduga judi sepak bola online di Aceh

judi sepak bola Hak atas foto Getty Images
Image caption Terungkapnya kasus dugaan perjudian online di Lhokseumawe ini sepertinya merupakan kasus judi sepak bola pertama di Indonesia yang terungkap selama perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Foto: ilustrasi.

Seorang pria di kota Lhokseumawe, Aceh, ditangkap polisi karena diduga menjadi agen judi sepak bola online terkait piala dunia.

Pria berinisial J, yang berumur 31 tahun, diringkus pada Senin (25/06), karena diduga melakukan perjudian yang merupakan tindakan ilegal menurut peraturan daerah atau qanun syariat Islam yang berlaku di Aceh.

Laporan media atas kasus dugaan perjudian online di Lhokseumawe ini merupakan kasus judi sepak bola pertama di Indonesia yang terungkap selama perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia.

"Masyarakat memberitahu kita ada perjudian jenis bola yang dikoordinir oleh terduga," kata Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Budi Nasuha Waruwu, kepada BBC Indonesia, Selasa (26/06).

Terduga merupakan agen atau perantara antara masyarakat dengan bandar judi berinisial P yang saat ini menjadi buronan kepolisian setempat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Terduga merupakan agen atau perantara antara masyarakat dengan bandar judi berinisial P yang saat ini menjadi buronan kepolisian setempat. Foto: ilustrasi.

"Kita saat ini mengejar P untuk mengetahui ke mana uang itu disetorkan," tambah Budi Nasuha. Diduga P yang berhubungan langsung secara online dengan jaringannya.

Dari terdakwa, polisi menyatakan telah menyita antara lain uang sebesar Rp1,6 juta, dua unit telepon genggam, serta nama orang-orang yang diduga terlibat dalam praktek ilegal di Indonesia ini.

Hasil pemeriksaan tim penyidik menyebutkan terduga pelaku mengaku dapat mendapatkan keuntungan sebesar Rp5 juta setiap malam.

"Itu tidak dari satu orang, tapi dari banyak orang. Ada yang pasang Rp1 juta, ada yang pasang Rp100 ribu, dan jika dikumpulkan, omzetnya dapat sekitar Rp5 juta," ungkapnya.

Menurut Budi Nasuha, pelaku juga mengaku pola perjudian itu didasarkan siapa yang menang dan skor akhir beberapa laga Piala Dunia 2018. "Setiap ada pertandingan, dia buka taruhannya."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kemenangan timnas Meksiko 1-0 atas juara bertahan Jerman menjadi salah-satu laga yang menjadi taruhan bagi para penjudi di Indonesia.

Ditanya apakah praktik judi sepak bola ini sering ditemukan di Lhokseumawe, Budi mengaku "tidak bisa memastikan". "Tapi, pelaku mengaku sejak Piala Dunia 2018 bergulir, baru mulai kegiatan ini."

'Selalu ada perjudian saat Piala Dunia'

Setiap Piala Dunia digelar, selalu muncul laporan tentang penggebrekan polisi terhadap operasi perjudian ilegal di Indonesia, kata seorang pengamat.

"Selalu ada (perjudian ilegal di Indonesia), dan momen piala dunia itu pasti banyak," kata Muhamad Hasan Buralam, mantan manajer klub sepak bola Arema, Malang, yang sejak lama mengamati persoalan judi sepak bola di Indonesia, kepada BBC News Indonesia, Selasa (26/06).

Empat tahun lalu, menjelang dan saat digelarnya Piala Dunia 2014 di Brasil, sejumlah penggerebekan oleh kepolisian Indonesia atas perjudian sepak bola telah dilaporkan media massa.

Sebagian besar orang yang ditangkap dalam penggerebekan empat tahun lalu di sejumlah kota di Indonesia melakukan sesuatu yang sah-sah saja di banyak negara lain di dunia, tetapi dilarang di Indonesia.

"Praktek seperti itu selalu ada dari piala dunia ke piala dunia. Hampir di semua peristiwa sepak bola, apalagi piala dunia," kata Hasan.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Empat tahun lalu, menjelang dan saat digelarnya Piala Dunia 2014 di Brasil, sejumlah penggerebekan oleh kepolisian Indonesia atas perjudian sepak bola telah dilaporkan media massa. Foto: Ilustrasi.

Mereka biasanya melakukan perjudian kecil dengan menebak hasil satu pertandingan sepak bola.

"Di media sosial, itu ada, dengan cara menebak skor. Bisa langsung diberi nomor kontak via whatsapp. Dasarnya kepercayaan, dan sekarang ditambah semacam garansi," papar pria yang akrab dipanggil Mathasan.

Yang tampak di permukaan memang adalah orang-orang kaya, namun di bawah mereka adalah satu jaringan bandar judi dan agen yang bersedia turun sampai ke kios-kios di desa dan rumah-rumah susun di perkotaan, jelasnya.

"Apalagi di kampung-kampung kan banyak juga taruhan kayak begitu yang tidak melalui online," katanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Praktek ilegal perjudian sulit dihilangkan, meskipun setiap empat tahun ada laporan tentang penggerebekan perjudian di berbagai kota di Indonesia, kata seorang pengamat. Foto: laga Inggris lawan Panama di Piala Dunia 2018.

Menurutnya, praktek ilegal perjudian seperti itu sulit dihilangkan, meskipun setiap empat tahun ada laporan tentang penggerebekan perjudian di berbagai kota di Indonesia.

"Kalau saya usul lebih baik dilegalkan, sehingga pengawasannya lebih terbuka," kata Muhammad Hasan.

'Saya sering kalah bertaruh'

Bagaimanapun, diluar memasang taruhan yang melibatkan bandar judi, sebagian masyarakat Indonesia biasanya bertaruh kecil-kecilan, ketika tim kesayangan mereka sedang berlaga.

Tumpal H, 46 tahun, seorang karyawan swasta yang tinggal di Tangerang Selatan, mengaku dulu beberapa kali bertaruh dengan sesama rekannya di kompleks rumah atau kantor.

"Kita bertaruh siapa yang menang saja," ungkap penggemar timnas Brasil dan Belanda ini. Dan, Anda sering menang taruhan? "Banyak kalahnya."

Tumpal kemudian tertawa terbahak. Brasil terakhir menjadi juara dunia pada Piala Dunia 2002, sementara Belanda terakhir menjadi runner-up pada Piala Dunia 2010.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Piala Dunia 2018 masih berlangsung hingga pertengahan Juli nanti, dan kemungkinan pertaruhan kecil-kecilan dan yang melibatkan bandar besar akan terus berlanjut.

"Paling besar dulu aku taruhan Rp500 ribu. Lebih dari itu belum pernah," akunya.

Menurutnya, praktek taruhan di antara teman-temannya ini lebih didasari kesenangan semata yaitu agar ajang kejuaraan sepak bola itu lebih semarak. "Biasanya kalau sudah masuk sistem gugur," tambahnya.

Namun semenjak dirinya berkeluarga, kesenangan seperti itu tidak lagi dia lakoni. "Di piala dunia, sekarang saya lebih banyak menonton pertandingan di rumah."

Lain lagi kisah Imam, 49 tahun, pria asal kota Malang yang kini menjadi pengacara di Jakarta. Dia mengaku bertaruh dengan sesama temannya terkait piala dunia, tetapi "hukumannya kalau kalah" yaitu mentraktir makan kepada pemenang.

"Kalau taruhan (uang), enggak, kecuali traktiran kecil-kecilan, makan di restoran, misalnya," akunya. Dan hasilnya? "Kok selama ini saya yang sering ditraktir..." Imam tertawa lepas.

Piala Dunia 2018 masih berlangsung hingga pertengahan Juli nanti, dan dipastikan taruhan kecil-kecilan - untuk kesenangan semata seperti dilakukan Tumpal dan Imam - akan terus berlanjut.

Sebaliknya, pertaruhan yang melibatkan bandar judi dengan jaringan yang luas dan nilai yang fantastis, mungkin saja akan terus bergulir dalam pasar gelap yang barangkali sulit terjamah hukum.

Berita terkait