Bandara Bali dibuka sesudah ditutup akibat letusan Gunung Agung

Gunung Aung Hak atas foto ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

Lalu lintas penerbangan dari dan ke Bali sudah kembali dipulihkan Jumat (29/6) siang, setelah sebelumnya ditutup akibat debu letusan Gunung Agung.

Komunitas Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai yang dipimpin oleh Kepala Otoritas Bandara Wilayah IV Bali-Nusa Tenggara telah menerbitkan nota pembukaan kembali setelah wilayah udara sekitar bandara dinyatakan bebas debu vulkanik.

"Hasil Aerodrome Observation dalam bentuk paper test menunjukkan NIL (nol) adanya (kehadiran) vulcanic ash (debu gunung berapi) di area Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali," ujar Humas PT Angkasa Pura I Bandara I Gusti Ngurah Rai, Arie Ahsan lewat keterangan tertulis kepada pers.

Disebutkan, aktivitas Gunung Agung saat ini berada di Level III (siaga) dan terdapat kepulan asap putih setinggi 1.500 hingga 2.000 meter dari bibir kawah gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut tersebut, lapor wartawan di Bali, Raiza Andini.

Disebutkan, menurut pengamatan tanggal (29/6), memang terdapat sebaran abu vulkanik dari permukaan hingga ketinggian 16.000 dan 23.000 kaki, namun tidak terdapat debu vulkanik di atas wilayah Bandar Udara I Gusti Ngura Rai-Bali.

Dan pengamatan pada pukul 11.50 WITA menunjukkan sebaran abu vulkanik pada ketinggian tersebut bergerak ke barat dengan kecepatan 15 knot.

"Namun tidak menutupi ruang udara Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai-Bali.

"Dengan pertimbangan air space/ ruang udara bandara sudah tidak terdapat sebaran debu vulkanik dan arah angin cenderung dari arah timur ke barat laut," serta mempertimbangkan perkiraan analisis gunung berapi terbaru, "maka Bandara I Gusti Ngurah Rai dibuka lagi terhitung mulai tanggal 29 Juni 2018 pukul 14.30 WITA," tegasnya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Wira Suryantala
Image caption Para penumpang mencari informasi lebih jauh setelah PT Angkasa Pura I menutup sementara operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selama 16 jam.

Gunung Agung kembali memuntahkan abu vulkanik Kamis (28/6/) malam, kali ini dibarengi dengan keluarnya lava pijar di permukaan kawah gunung.

Kasubdit Mitigasi Bencana Geologi Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM Devy Kamil Syahbana menjelaskan bahwa saat ini lava telah membanjiri kawah Gunung Agung dalam radius 100 meter dari bibir kawah.

"Sekarang starting point-nya di kedalaman kawah 100 meter," katanya. Yang dimaksud adalah titik awal letusan.

"Tahun lalu titik awal letusannya di kedalaman kawah 200 meter. Jadi kalau tampak lebih terang mungkin karena dia lebih tinggi posisinya dari tahun lalu," katanya seperti dilaporkan Raiza Andini. Secara visual, memang letusan itu tampak dari kejauhan.

"Petugas juga menangkap adanya sinar api di atas puncak kawah dan hingga kini masih terjadi" tambah Devy Kamil Syahbana pula.

Ia menyebut juga tentang kondisi kegempaan Gunung Agung: "Saat ini tengah berlangsung tremor menerus dengan model microtremor dengan amplitudo 10-15 milimeter."

Ditegaskannya, masyarakat harus waspada dan menghindari zona bahaya, sekitar 4 km dari kawah gunung dengan tinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu.

Asap dan debu yang membumbung, dicemaskan berpengaruh pada keamanan penerbangan. Akibatnya Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Denpasar, ditutup

Ribuan penumpang terperangkap di Bandara, setelah PT Angkasa Pura I menutup sebagian operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selama 16 jam terkait dampak sebaran debu vulkanik dari erupsi Gunung Agung.

Penutupan berlangsung mulai pukul Jumat (29/6) pukul 03.00 WITA hingga 19.00 WITA, mengakibatkan berbagai penerbangan dari dan menuju Bali tertunda.

Hak atas foto Arief Widodo/SAR

Sementara itu, juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut status Gunung Agung masih pada Siaga Tiga.

"Hasil pantauan visual di Pos Pengamatan Gunung Agung PVMBG di Rendang, hingga Jumat 29/6 pukul 06.00 WITA, Gunung Agung masih mengeluarkan abu vulkanik dan kawah menyala api berwarna kemerahan dengan intensitas stabil dengan tinggi kolom abu mencapai 2.500 meter," katanya dalam pernyataan tertulis kepada wartawan.

"Hingga kini belum dapat diperkirakan hingga berapa lama durasinya efusifnya."

Hak atas foto ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

Ia menyebut, akibat letusan itu terjadi hujan abu antara lain di wilayah Purage, Pempatan Rendang, Keladian, Besakih, Br. Beluhu, Desa Suter.

Gunung Agung sempat sangat aktif tahun lalu selama beberapa waktu lalu, menimbulkan kecemasan akan terjadinya letusan besar. Namun kemudian letusan-letusan mereda. Kendati terjadi letusan-letusan kecil dari waktu ke waktu.

Topik terkait

Berita terkait