Apakah desain kapal tradisional seperti KM Sinar Bangun sebaiknya diganti?

Berdasarkan sertifikasi, kapal tradisional seharusnya memiliki satu sampai dua lantai dan terbuat dari kayu. Hak atas foto EUROPEAN PHOTOPRESS AGENCY
Image caption Berdasarkan sertifikasi, kapal tradisional seharusnya hanya memiliki satu sampai dua lantai dan terbuat dari kayu.

Sejumlah insiden yang melibatkan kapal tradisional akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, mulai dari KM Sinar Bangun di Danau Toba sampai ke KM Lestari Maju di Kepulauan Selayar. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah desain kapal tradisional aman digunakan?

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa sudah menjadi kebiasaan di antara pemilik kapal di Toba untuk menambahkan berbagai bagian sehingga membahayakan keamanan.

"Bentuk kapal Sinar Bangun sudah tidak jauh berbeda dengan bentuk kapal pada umumnya. Cuman yang jadi masalah adalah general arrangement, lay out dari si kapal itu yang memang tidak diperhitungkan dari segi safety nya, untuk emergency point, ketinggian juga sedikit agak ekstrem," kata Sanlaruska Fathernas direktur perusahaan pembuat kapal, Juragan Kapal.

"Keliling geladak untuk crew bisa lewat itu kan dipenuhi oleh motor-motor, jadi crewnggak bisa lewat untuk bisa melakukan safety, pengamanan, untuk bisa lalu-lalang di sekitaran untuk bisa mengawasi kapalnya itu," Sanlaruska Fathernas.

Perusahaan ini sudah membuat 20-an kapal dengan teknologi baja untuk nelayan membawa ikan selain untuk logistik, penumpang dan penyeberangan.

Mereka fokus kepada kapal nelayan dan kapal nelayan rakyat ukuran 30 gross ton (GT), yang dapat membawa 15 ton muatan, terbuat dari kayu dengan harga Rp2,5 sampai 3 miliar.

Definisi kapal tradisional sendiri mengacu kepada pembuatan bersama-sama berdasarkan teknik yang diwariskan dari generasi ke generasi dan seringkali spesifik pada daerah tertentu.

"Kapal tradisional umumnya dibikin secara gotong-royong oleh satu kelompok. Mereka secara turun-temurun memiliki keahlian bikin kapal. Satu kelompok, di Pulau Jawa dengan di Sulawesi, dengan di Sumatra mereka bisa memiliki bentuk yang berbeda-beda.

"Biasanya juga cara-cara pembentuan dari satu tempat ke tempat lain kadang-kadang ada kemiripan. Semuanya terdiri dari kayu," kata Soeryanto Tjahyono, Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Kementerian Perhubungan.

Hak atas foto Kemenristek
Image caption Apakah bentuk kapal tradisional memang harus diubah secara keseluruhan?

Model W terbalik

Jadi seperti apa desain kapal tradisional yang aman?

Salah satunya adalah mengubah bagian dasar kapal ke bentuk yang lebih stabil saat menghadapi ombak.

"Kami kan mengusung namanya kapal plat datar. Kapal yang kami buat ini terutama dari bentuk, ada namanya di bottom nya kapal ini ... bentuknya itu adalah simetri bahan. (Yaitu) Bentuk kapal yang memudahkan pembuatan, dimana yang biasanya kapal itu lengkung, kami ubah kapalnya itu lurus-lurus semua," kata Sanlaruska Fathernas.

"Cuman di bagian bottom nya itu, kita biasa di lambung kapal itu bentuknya U atau W, kami membuat W terbalik. Bentuk W ini kami lihat adalah yang terbaik karena stabilitasnya yang bagus. Ketika keadaan ombak yang jelek pun, dari riset kami, itu sangat baik," Ruska menambahkan.

Sebagian pihak memperkirakan kecelakaan KM Sinar Bangun, yang mempunyai sertifikasi untuk 45 orang tanpa barang, adalah karena kapal tradisional ini membawa lebih banyak muatan dari seharusnya.

Kapal ini membawa sampai 70 sepeda motor di deck paling bawah, di jalan-jalan samping pintu, di kiri dan kanan, disamping di haluan. Sementara jumlah penumpang keseluruhan adalah 188 orang, 40-an orang di antaranya berada di deck paling atas yang terbuat dari baja.

Jadi apakah bentuk desain W terbalik akan membantu keselamatannya?

"Bagian bentuk lambung bawah itu akan memang berpengaruh pada stability, kecepatan dan teknologi pembuatannya. Yang dikenal oleh masyarakat di Danau Toba bentuknya seperti itu dan itu nggak ada masalah sepanjang disain dan pengoperasiannya sesuai dengan peruntukkannya," kata Soeryanto Tjahyono.

"V model itu akan memecah ombak lebih bagus, tetapi dia perlu kedalaman yang cukup tinggi. Padahal di tempat-tempat sandar di tempat-tempat pedalaman itu kedalamannya sangat rendah," Soeryanto Tjahyono menjelaskan lebih jauh.

Hak atas foto Reuters
Image caption KM Lestari Maju, kapal tradisional yang mengalami kecelakaan di Kepulauan Selayar pada tanggal 3 Juli.

Beralih ke baja?

Peralihan dari kapal kayu menjadi baja dipandang membawa keamanan yang lebih baik karena lebih mudah mendapatkan sertifikasi.

"Kami lebih fokus ke materialnya, yang terutama. Kenapa? Karena yang di Toba ini material dari kayu, kapal dari baja lebih aman, karena baja ini kan secara sertifikasi, legalitas juga, ada lembaga yang menaunginya di Indonesia, namanya Biro Sertifikasi Indonesia. Sertifkasi-sertifikasi inilah yang membuat kapal aman untuk dipakai," kata Sanlaruska Fathernas.

Sebagian besar dari ratusan kapal tradisional yang beroperasi di Danau Toba, memiliki lantai ketiga sehingga mempengaruhi kestabilan. Bagian ini yang diusulkan dihilangkan oleh KNKT.

"Umumnya secara sertifikasi mereka single deck atau satu lantai. Tetapi umumnya mininum mereka dua sampai tiga lantai. Nah lantai yang paling atas ini, itu sangat mempengaruhi stabilitas kapal, sehingga kemarin kami rekomendasikan untuk semua kapal yang di Danau Toba untuk deck ketiganya harus dihilangkan," kata Soeryanto Tjahyono.

Selain desain, pemerintah juga sedang memperbaiki berbagai hal terkait dengan pengoperasian kapal tradisional, mulai dari sisi peraturan, pelatihan sampai ke petugas yang bertanggung jawab.

Topik terkait

Berita terkait