Popularitas dan medsos 'antarkan' kemenangan Ridwan Kamil di Pilkada Jawa Barat

Ridwan Kamil Hak atas foto BBC News Indonesia/Julia Alazka
Image caption Ridwan Kamil akan menjadi gubernur Jawa Barat untuk lima tahun mendatang menggantikan Ahmad Heryawan yang sudah dua kali menjabat.

Pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum resmi dinyatakan sebagai pemenang pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat.

Penghitungan resmi kartu suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat, hari Minggu (08/07), menunjukkan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum meraih suara sebanyak 7.226.254 atau 32,88%.

Keduanya mengungguli pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang meraih 6.317.465 suara atau 28,74%.

Pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi meraih 5.663.198 suara atau 25,77% dan pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan meraih 2.773.078 suara atau 12,62%.

Hitung cepat lembaga surevi dan penghitungan yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu partai yang mendukung Sudrajat-Syaikhu juga menunjukkan bahwa Ridwan-Uu menang.

Dari awal, Ridwan-Uu dijagokan memenangkan Pilgub Jabar 2018, kata wartawan di Bandung, Julia Alazka. Hal itu didukung tingkat elektabilitas pasangan duet yang sebelumnya menjabat wali kota dan bupati ini.

Namun pengalaman Pilgub Jabar sebelumnya yang selalu mementahkan hasil lembaga survei, membuat Ridwan-Uu tidak mau terbuai hasil survei.

"Hasil survei harus membuat kita lebih greget, serta memaksimalkan upaya di sektor-sektor di mana kita lemah," kata Ridwan saat masa kampanye.

Sejumlah strategi dijalankan pasangan yang biasa disapa Rindu ini untuk meraih dukungan, seperti merekrut banyak relawan hingga menyebarkan video dukungan dari para artis.

Ridwan Kamil juga diuntungkan dengan popularitasnya yang cukup tinggi, serta aktivitasnya di media sosial dengan jutaan pengikut.

Media Kernels Indonesia yang memantau Pilkada jawa Barat dengan menggunakan Drone Emprit, perangkat yang memonitor dan menganalisis media daring dan media sosial berbasis teknologi big data, menunjukkan popularitas Ridwan Kamil yang cukup tinggi di dunia maya.

Selama periode satu bulan sebelum pencoblosan, 1 Juni hingga 26 Juni, percakapan tentang Rindu di media online mencapai 2.100 mention.

"Hal ini menunjukkan media online lebih banyak memberi exposure pada pasangan Rindu dan tentunya akan memberi keuntungan bagi popularitas mereka," kata Ismail Fahmi, pendiri Media Kernels Indonesia, membeberkan analisisnya.

Sementara di media sosial, tren dari tanggal 1-17 Juni 2018, Rindu mendapat mention yang hampir sama dengan pasangan Sudrajat-Saikhu (Asyik).

Peran media sosial

Hak atas foto BBC News Indonesia/Julia Alazka
Image caption KPU Jabar mengatakan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum meraih suara sebanyak 7.226.254 atau 32,88%.

Namun esoknya, pada 18 Juni 2018, percakapan tentang Asyik melejit meninggalkan Rindu. Total percakapan dari 1-26 Juni untuk Asyik sebanyak 45.500 mention dan Rindu hanya 10.700 mention.

"Hal ini memperlihatkan memang ada pergerakan kampanye yang luar biasa untuk pasangan Asyik pada hari-hari menjelang pencoblosan," katanya.

Di H-7 sebelum pencoblosan, percakapan di media online masih dikuasai oleh Rindu dengan total 1.100 mention. Sedangkan untuk Asyik hanya 791 mention.

Meski Asyik gencar berkampanye di media online dan media sosial, Rindu tetap berhasil memenangkan Pilgub Jabar.

"Tetap tingginya pemilih Rindu, meski kampanyenya relatif lebih kecil volumenya, menunjukkan bahwa faktor keterkenalan tokoh (Ridwan Kamil) sebelumnya menjadi faktor penting bagi pemilih yang sudah menentukan pilihannya sebelum H-7," kata Ismail menyimpulkan.

Bagaimana dengan pasangan Asyik yang sebelumnya tidak terdeteksi survei, tapi kemudian suaranya melejit menyalip pasangan Deddy-Dedi?

Tingkat elektabilitas Asyik selalu berada di bawah 10%, tapi tiba-tiba melejit usai pencoblosan, baik quick count maupun real count, hingga ke angka di atas 20%, menyalip pasangan Deddy-Dedi.

Ismail menjelaskan, dari tren data dan volume bisa disimpulkan bahwa sebelum H-7, kampanye tim Asyik memang belum masif, setara dengan volume kampanye Rindu.

Di media online, pemberitaan lebih banyak tentang Rindu sehingga secara popularitas pasangan ini mendapat hasil survei lebih tinggi.

"Kondisi di atas sangat mungkin menjadi sebab rendahnya popularitas Asyik dibanding Rindu sebelum H-7. Saat disurvei, tentu ini memberi dampak rendahnya persentase yang didapat Asyik," kata Ismail.

Siapa meraup swing voter?

Tapi mulai H-7, Asyik mulai berkampanye di media sosial secara masif, jauh meninggalkan kampanye Rindu.

Hak atas foto Antara
Image caption Ridwan Kamil diuntungkan dengan popularitasnya yang cukup tinggi, serta aktivitasnya di media sosial dengan jutaan pengikut.

Tokoh dan influencers yang mendukung Asyik dinilai Ismail jauh lebih besar jumlahnya, lebih kompak, dengan pengikut yang saling meretweet dan mengamplifikasi.

Apalagi, lanjut Ismail, tingginya kampanye di media sosial Twitter biasanya dibarengi dengan tingginya kampanye di kanal lain seperti Facebook, WA, Instagram, dan jalur offline.

"Jika itu dilakukan, bukan tidak mungkin dalam waktu yang singkat dalam lingkup Jawa Barat saja, popularitas Asyik juga meningkat pesat. Para calon pemilih yang biasanya pada H-7 sibuk menentukan pilihannya, akan menggunakan masukan dari sekitarnya, dari orang-orang yang mereka kenal, untuk memfinalkan pilihan," papar Ismail.

"Pada saat ini, pemilih yang sebelumnya belum yakin, akan dengan mudah menjadi tambahan suara bagi pasangan yang paling aktif melakukan kampanye. Dan dari tren data dan volume di atas, pasangan yang kemungkinan besar berhasil menggaet suara swing voter ini adalah pasangan Asyik," katanya.

Kondisi itu diperkuat dengan lemahnya interaksi Deddy-Dedi dan Hasanuddin-Anton.

Meski sudah Ridwan-Uu oleh KPU sudah dinyatakan sebagai pemenang Pilgub Jabar 2018, tim Asyik belum akan mengeluarkan ucapan selamat.

"Setelah rekapitulasi ini kan diberi waktu tujuh hari, kemungkinan tanggal 15 Juli, di situlah paslon (pasangan calon) dan ketua tim kampanye akan menyatakan menerima atau tidak," kata wakil tim Asyik, Otang Suparlan.

Dalam Pilkada Jabar, Ridwan-Uu dicalonkan oleh PKB, PPP, Nasdem dan Hanura sementara pasangan Asyik didukung oleh Gerindra, PKS, dan PAN.

Pasangan Deddy-Dedi disokong oleh Partai Demokrat dan Golkar sedangkan pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan didukung oleh PDI Perjuangan.

Berita terkait