Bagaimana kekuatan JAD saat ini setelah pemburuan masif oleh polisi

Densus 88 Hak atas foto AFP
Image caption Lebih dari dua ratus terduga teroris dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditangkap Densus 88 sejak serangkaian aksi teror di Surabaya.

Lebih dari 200 terduga teroris dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditangkap sejak serangkaian aksi teror di Surabaya.

Namun, beberapa kalangan menilai penangkapan masif dalam tempo dua bulan ini tak akan menyurutkan aksi teror.

Pemburuan masif terhadap terduga teroris dilakukan polisi menyusul serangkaian aksi teror di Surabaya, dua bulan lalu. Lebih dari 200 terduga teroris berhasil ditangkap. Termutakhir, tiga terduga teroris tewas di Yogyakarta dan sebelas ditangkap di Indramayu.

Pengamat Terorisme dari Certified Counter Terrorism Practioner Board, Rakyan Adibrata mengungkapkan penangkapan masif ini membuat jaringan teroris itu tertekan, namun bukan berarti mereka dengan mudah dibabat habis.

"(Mereka) terluka parah, tapi tidak mati," ujar Rakyan kepada BBC Indonesia, Senin (16/07).

Yang harus kemudian diawasi, imbuhnya, dalam kondisi terhimpit mereka akan melakukan segala cara untuk melakukan aksinya.

"Orang yang cenderung nothing to lose (pasrah) itu lebih berbahaya daripada orang yang punya pikiran panjang, bisa dilihat aksi-aksi yang kemudian terkesan sangat amatir, dan unprepared (tanpa persiapan)," kata dia.

"Tapi memang itu kenyataannya, mereka dalam posisi yang sangat tertekan," imbuhnya.

Hak atas foto Andreas Fitri Atmoko/ANTARA foto
Image caption Polisi mengamankan seseorang saat penangkapan terduga teroris di Jl. Kaliurang, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (14/07).

Penangkapan ratusan terduga teroris, justru akan mendorong mereka untuk melakukan serangan-serangan. Diperkirakan, aksi teroris serupa - yang sporadis, tak terencana, perhitungan tidak matang dan terkesan amatir - akan tetap terjadi.

Berdasar pantauannya terhadap grup percakapan di telegram -media sosial yang digunakan mereka untuk berinteraksi- mereka didorong untuk melakukan aksi amaliyah sebelum tertangkap.

"Mereka mengatakan, mengingat bahwa jumlah penangkapan sangat tinggi, setiap hari ada penangkapan, maka kalau anda siap, lakukanlah segera, nggak usah ditunda," kata dia.

Hak atas foto Antara Foto/Dedhez Anggara
Image caption Polisi melakukan pengamanan di gerbang Mapolres Indramayu, Jawa Barat, Minggu (15/07) pascapenyerangan yang dilakukan dua orang terduga jaringan teroris.

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menuturkan, baku tembak antara Densus 88 dengan terduga teroris di Yogyakarta dan pelemparan bom panci di Mapolres Indramayu, Jawa Barat, oleh sepasang suami istri merupakan reaksi karena jaringannya ditangkap polisi.

"Ini bukan serangan terorisme yang diinisiasi, diinspirasi, inisiatif mereka. Tapi ini operasi surveillance, operasi penjejakan, dan operasi hunting (perburuan) dalam rangka penangkapan jaringan terorisme," ujar Tito kepada wartawan di Mako Brimob, Senin (16/07) pagi.

Namun, Tito tak memungkiri aksi teror di Surabaya, beberapa waktu lalu menjadi pintu gerbang polisi menangkapi para terduga teroris. Polisi pun mengembangkan operasi untuk mengejar seluruh pihak yang terlibat dan mendukung aksi teror.

Hak atas foto Tubagus Aditya Irawan/Pacific Press/Getty Images
Image caption Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menuturkan aksi teror di Surabaya menjadi pintu gerbang polisi menangkapi para terduga teroris.

"Peristiwa bom Surabaya bagi Polri di satu sisi adalah tragedi, dan juga bersedih karena ada korban, tapi di sisi lain, memberikan peluang yang sangat besar kepada Polri untuk masuk ke jaringan ini dan menangkap mereka," akunya.

Masih kuat meski terus diburu

Kendati terus diburu, pengamat terorisme yang pernah bergabung dengan organisasi radikal Darul Islam, Al-Chaidar, meyakini kekuatan kelompok ini masih besar.

"Jumlah kombatan mereka 1.800 orang yang sudah mendeklarasikan diri," kata dia.

Sementara simpatisannya, berdasar survei yang dilakukan 2016, berjumlah sekitar 12 juta orang.

"Dan terus bertambah. Tahun 2018 tentu jumlah mereka mengalami proliferasi yang cukup banyak. Jadi cukup banyak dari mereka yang kemudian ikut bergabung dengan JAD," ujar Al Chaidar.

Lalu, mengapa meski sudah diburu polisi, jaringan ini masih bisa bertahan dan melakukan serangan balik?

Menurut Al-Chaidar, hal itu tak lepas dari indoktrinasi yang dilakukan oleh jaringan itu.

"Indoktrinasi mereka itu yang membuat mereka bertahan dan mereka menggunakan fatwa-fatwa ulama yang lebih simpel ketimbang kelompok-kelompok teroris lainnya."

"Kelompok-kelompok teroris JAD ini, mereka menggunakan penafsiran tekstual dari Al Quran dan hadis-hadis nabi. Dengan menggunakan cara tersebut itu lebih cepat indoktrinasinya," jelas Al Chaidar.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Pemimpin ideologis JAD, Aman Abdurrahman, divonis hukuman mati pada bulan lalu atas keterlibatannya dalam beberapa aksi bom di Indonesia.

Maka dari itu, ia meyakini penangkapan masif yang dilakukan oleh polisi tak akan menyurutkan niat mereka untuk kembali melakukan serangan teror.

Bagi mereka, gerakan keagamaan yang benar ini adalah gerakan yang benar adalah gerakan yang dikejar-kejar oleh aparat keamanan.

"Mereka menggunakan kriteria tersebut untuk menyatakan gerakan mereka adalah gerakan yang benar, " katanya.

Penerapan Undang-Undang Baru

Hingga kini, lebih dari 200 terduga teroris sudah ditangkap, 50 di antaranya sudah diproses hukum sesuai revisi UU Terorisme yang baru saja disahkan Mei lalu, tak lama setelah aksi teror di Surabaya.

"Kami gunakan undang-undang yang baru, Nomor 5 Tahun 2018. Kalau dulu, ada perencana atau baru membuat (baru bisa ditindak). Tapi sekarang itu sudah bisa kita proses, cukup menjadi anggota jaringan terorisme bisa kami tahan 200 hari dan kami akan lakukan itu," ujar Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian.

Hak atas foto ULET IFANSASTI/GETTY IMAGES
Image caption Kerusakan di luar Gereja Pantekosta Surabaya, akibat serangan bom pada hari Selasa (08/05) membuat berbagai pihak menyerukan pengesahan RUU Pemberantasan terorisme secepatnya.

Ini untuk kali pertama undang-undang tersebut diterapkan kepada orang yang diyakini anggota jaringan teroris.

Namun, Ali Fauzi, mantan teroris yang pernah tergabung dalam Jamaah Islamiyah dan kini membantu pemerintah dalam upaya deradikalisasi, menganggap penerapan undang-undang yang baru ini tak akan efektif jika tak dibarengi pendekatan yang halus.

"Meskipun ditangkap, meskipun dipenjara, mereka itu tidak takut. Artinya, rancangan undang-undang yang baru saja disahkan, itu bukan salah satu faktor membuat mereka takut atau tidak bereaksi. Karena ini, sekali lagi, ada ideologi di sini, harus ada pendekatan yang sifatnya soft approach," jelas Ali Fauzi.

Topik terkait

Berita terkait