Aparat Indonesia-Australia gagalkan modus baru pengiriman bahan narkotika di Bali

bali, narkoba Hak atas foto Anton Muhajir
Image caption Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi (kedua kanan) bersama perwakilan Australia Border Force, Chris Waters (kedua kiri) memeriksa barang bukti hasil penyitaan barang kiriman berupa botol kemasan berisi bahan pembuatan sabu-sabu (prekursor), saat konferensi pers di Kantor Bea Cukai Ngurah Rai, Denpasar, Senin (16/7).

Petugas gabungan dari Bea Cukai Ngurah Rai dan Australian Border Force (ABF) menggagalkan modus baru pengiriman 600.000 butir pil bahan pembuatan narkotika (prekursor) di Bali yang melibatkan jaringan narkotika internasional.

Bahan pembuatan narkotika itu dikirim dari Seoul, Korea dengan tujuan Australia.

Pil-pil itu terbagi dalam enam kotak dari satu orang dengan tujuan tiga orang di alamat berbeda. Pengirimnya bernama Dong Bang sementara penerima yang dituju atas nama Jay Chae, Hongwon Lee, dan Yeonkyeong Won.

Obat yang dikirim itu menggunakan botol dengan nama merek Codana. Dari enam kotak yang dikirim, setiap kotak terdapat 100 botol dan setiap botol berisi 1.000 butir.

Dalam dokumennya, obat itu disebut sebagai pangan sehat (health food) tetapi berdasarkan uji lab di Surabaya pada 14 Januari 2018, ternyata mengandung prekursor.

"Hasil uji lab mengonfirmasi bahwa kandungan tablet terdiri dari Pseudoephedrine HCL sebesar 60 mg dan Tripolidine HCL sebesar 2,5 mg. Keduanya biasanya dijadikan bahan baku pembuatan ekstasi maupun shabu-shabu," ujar Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi, sebagaimana dilaporkan wartawan di Bali, Anton Muhajir.

Heru mengungkap bahwa pencegatan penyelundupan melalui kantor pos dilakukan saat barang transit di Bandara Ngurah Rai, Bali, pada 13 Januari 2018. Tetapi baru diungkap saat jumpa pers di Kantor Bea Cuka Ngurah Rai di Badung, Bali pada Senin (16/7).

"Kami baru mengungkapkan karena selama ini masih dalam penyelidikan di Australia," ujar Heru.

Dari penyelidikan di Australia, ABF menangkap satu orang yang saat ini sedang dalam pengadilan.

"Kami tidak bisa menyebutkan identitas lebih lengkap karena saat ini masih dalam investigasi dan proses pengadilan," kata Chris Waters, Direktur Regional Asia Tenggara ABF, yang turut hadir dalam jumpa pers.

Menurut Heru keberhasilan ini membuktikan sinergi bagus untuk memerangi narkoba yang melibatkan jaringan internasional.

"Tidak hanya di level nasional tetapi juga sinergi antarnegara, terutama Indonesia dan Australia," lanjutnya.

Chris Waters, dari ABF, mengatakan keberhasilan kerja sama antara badan di Australia dan Indonesia dilakukan demi memerangi penyelundupan lintas laut dari Asia menuju Australia.

"Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama intensif antara Indonesia dan Australia. Bersama jaringan lain di kawasan ini, kita berhasil mencegat dan menyelidiki kasus ini," kata Waters.

Selama 16 tahun terakhir, Indonesia dan Australia telah memiliki kerja sama khusus dalam memerangi kejahatan transnasional yang terorganisir (organized transnational crime), termasuk pertukaran informasi. Dalam kasus yang baru terungkap, pihak Bea dan Cukai Indonesia mendapatkan informasi dari ABF yang kemudian dikembangkan untuk mencegat pengiriman itu saat melalui Bali.

Hak atas foto Anton Muhajir
Image caption Resi pengiriman 600.000 pil mengandung Pseudoephedrine dari Korea Selatan yang transit di Bali dan rencananya menuju Australia.

Bali jadi tujuan utama

Menurut Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali, I Ketut Arta, pengungkapan pengiriman bahan baku narkotika ini termasuk modus baru di Bali.

"Bahan ini untuk mengelabui agar bisa masuk dulu. Setelah berhasil masuk barulah dia dicampur dengan prekursor lainnya untuk menjadi narkoba," katanya.

Arta mengatakan bahan yang dicegat ini bisa menjadi 80% dari keseluruhan bahan yang dipakai untuk membuat shabu-shabu atau esktasi.

Namun, Arta mengaku belum pernah menemukan bahan dengan merek serupa di Bali, yang digunakan sebagai bahan pembuatan narkotika.

"Bahan-bahan pembuatan narkotika di Indonesia sangat banyak. Bahkan ada kasus, air aki pun bisa dipakai," katanya.

Arta menambahkan sebagai daerah pariwisata internasional, Bali memang menjadi salah satu tujuan akhir pemasaran narkoba maupun tempat transit sebagaimana kasus yang saat ini terungkap.

Dari sisi jumlah barang bukti penangkapan, Bali memang tidak sebanyak daerah lain, seperti Sumatera, tetapi Bali tetap jadi tujuan utama pemasaran narkoba.

Berdasarkan catatan Kantor Bea Cukai Ngurah Rai, dalam enam bulan terakhir tahun ini terdapat 30 kasus narkotika yang berhasil diungkap di Bandara Internasional Ngurah Rai. Jenis narkobanya antara lain ganja, heroin, hasis, dan kokain.

Para pelaku penyelundupan itu berasal dari Inggris, Jerman, Malaysia, ataupun Indonesia sendiri. Selain untuk dipakai sendiri, sebagian pelaku yang tertangkap juga mau menjual di Bali.

"Karena Bali menjadi destinasi wisata nomor satu dunia, maka Bali juga menjadi tujuan utama pasar narkoba di Indonesia," ujar Arta.

Berita terkait