Operasi razia preman 'tewaskan 11 orang' dalam dua pekan, pegiat HAM protes

Hak atas foto Dasril Roszandi/NurPhoto via Getty Images
Image caption Puluhan orang di kawasan Jatinegara, Jakarta, yang dicurigai preman, dimintai keterangan oleh polisi pada 9 Juli 2018.

Dalam dua pekan terakhir, polisi di Jakarta telah menembak mati 11 orang dan menahan lebih dari 1.000 orang yang disebut sebagai penjambret atau begal.

Ini adalah bagian dari operasi merazia preman yang akan berlangsung hingga menjelang pesta olahraga Asian Games bulan depan di Jakarta dan Palembang, kata pejabat kepolisian di Jakarta.

Tetapi para pegiat HAM mengecam aksi kepolisian ini dan menuntut tindakan kekerasan itu dihentikan karena dianggap sudah "berlebihan".

"Kita cukup belajar dari pengalaman lalu, termasuk penembakan misterius (petrus) tahun 1980-an, dan tak selesai masalah (kriminalitas di jalanan), dan sampai sekarang tetap muncul," kata peneliti senior LSM Human Rights Watch, Andreas Harsono, kepada BBC News Indonesia, Rabu (18/07).

"Kalau shock therapy (terapi kejut) begini, nanti kalau Asian Games selesai, kembali (muncul lagi ada) begal, preman," kata Andreas.

preman Hak atas foto Dasril Roszandi/NurPhoto via Getty Images
Image caption Dua orang anggota polisi memeriksa sejumlah pria di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, yang diduga preman, 9 Juli 2018.

Seharusnya, lanjutnya, polisi tidak menyelesaikan persoalan kriminalitas jalanan ini dengan "pemakaian kekerasan yang berlebihan".

"Itu bukan solusi, dan itu bahkan menciptakan masalah dalam rangka mengatasi masalah," tambahnya. Dia kemudian meminta operasi razia preman dengan pola seperti itu dihentikan.

Menurutnya, polisi harus tetap melakukan "kerja-kerja kepolisian yang tradisional" seperti mengamankan persimpangan jalan, menertibkan trotoar dari pedagang kaki lima, hingga memasang lampu di jembatan penyeberangan.

"Dengan bekerja sama dengan pemerintah DKI Jakarta, polisi bisa menertibkannya dengan cara biasa saja," tandas Andreas. Dia meyakini dengan cara seperti itu akan berdampak baik bagi keamanan Jakarta secara jangka panjang.

'Ngapain orang-orang jahat dikasih hidup'

Kawasan Kota Tua, Jakarta, adalah salah-satu lokasi yang disebut rawan jambret atau begal, dan saya mendatangi salah-satu sudutnya yaitu di depan Museum Bank Indonesia, Rabu (18/07) sore.

Di dekat halte bus "bayangan", saya berjumpa seorang pria bertato di lengannya. Dia mengenakan kaos biru tak berlengan. Kira-kira umurnya 50-an tahun.

preman Hak atas foto Dasril Roszandi/NurPhoto via Getty Images
Image caption Orang-orang ini sempat dikumpulkan dan dimintai keterangan oleh aparat Polsek Jatinegara, Jakarta Timur, pada 9 Juli 2018, sebagian rangkaian operasi razia preman di Jakarta menjelang Asian Games 2018.

"Saya orang 'lapangan' di kawasan ini, tapi saya belum pernah melakukan kriminal," kalimat ini meluncur dari mulutnya saat saya menanyakan komentarnya tentang langkah kepolisian menembak mati 11 terduga preman karena melawan aparat.

Saat saya temui, dia sesekali setengah berteriak mencari penumpang agar naik bus metro mini yang berhenti di depannya. Berdiri di sisinya sopir bus tersebut.

"Saya kagak setuju (terduga preman ditembak). Apa salahnya (dia) diberi peringatan (terlebih dahulu) biar dia bisa baik lagi, sadar dan kembali ke jalan yang benar."

Lalu kalimat selanjutnya meluncur dari mulutnya: "Kalau ditembak mati, kasihan anak-bininya. Siapa yang ngasih nafkah. Apa aparat (polisi)?"

preman Hak atas foto Dasril Roszandi/NurPhoto via Getty Images
Image caption Dalam dua pekan terakhir, polisi di Jakarta telah menembak mati 11 orang dan menahan lebih dari 1.000 orang yang disebut sebagai penjambret atau begal. Foto: Sejumlah pria yang dicurigai preman diperiksa oleh aparat Polsek Jatinegara, Jaktim, 9 Juli 2018.

Tidak jauh dari Iwan berdiri, kira-kira tujuh meter ke arah Museum Fatahillah, saya mewawancarai seorang pedagang kaki lima, sopir ojek motor dan seorang lagi yang melakoni jasa menukar uang.

Si pedagang kaki lima, yang tak mau disebut namanya, menasehati saya agar berhati-hati di kawasan itu. "Sudah banyak kejadian orang dijambret."

Dia langsung mendukung tindakan polisi yang "menghabisi" orang-orang yang disebut sebagai jambret atau begal. "Saya setujulah!"

Dan, "ngapain orang-orang jahat dikasih hidup. Orang pun enggak aman, apalagi negara kita mau Asian Games. Orang banyak datang, 'kan memalukan (kalau dijambret)," timpal perempuan setengah baya yang melakoni jasa menukar uang kecil.

Kapolda Metro: 'Tidak usah ragu lakukan tindakan tegas'

Operasi merazia pelaku jambret, begal serta kriminalitas jalanan lainnya di Jakarta sudah berlangsung sejak awal Juli lalu hingga sampai awal Agustus nanti.

Polda Metro Jaya telah menerjunkan sekitar seribu personel untuk merazia orang-orang yang disebut sebagai pelaku begal dan jambret di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Kapolda Metro Jaya Hak atas foto Kompas.com/Akhdi Martin Pratama
Image caption "Tidak usah ragu-ragu melakukan tindakan tegas, apabila para pelaku membahayakan masyarakat dan membahayakan mengancam jiwa petugas," tandas Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis.

"Masalah kriminalitas jalanan, sejak kemarin saya sudah perintahkan Operasi Mandiri Kewilayahan selama satu bulan," kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis saat apel siaga di Mapolda Metro Jaya, Rabu (04/07) lalu.

Menurutnya, sasaran utama dalam operasi itu adalah jalan raya, stasiun, terminal serta pusat perbelanjaan.

Dia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menembak pelaku jika dinilai membahayakan masyarakat.

"Tidak usah ragu-ragu melakukan tindakan tegas, apabila para pelaku membahayakan masyarakat dan membahayakan mengancam jiwa petugas," tandas Idham Azis.

'Ada parameter polisi melakukan tindakan tegas'

Dan hasilnya? Dalam dua pekan terakhir, lebih dari 1,200 orang ditangkap dan 11 orang mati ditembak serta 41 lainnya terluka, ungkap pejabat penerangan Polda Metro Jaya.

Namun Kepolisian Jakarta menolak tuduhan yang menyebut kepolisian di Jakarta melakukan kekerasan yang berlebihan dalam operasi merazia preman jalanan dalam dua pekan terakhir.

preman Hak atas foto Dasril Roszandi/NurPhoto via Getty Images
Image caption Belasan pria yang diduga preman di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, dimintai keterangan oleh Polsek Jatinegara, Jaktim, pada 9 Juli 2018.

"Dari 1.400-an (yang ditangkap), yang ditembak hanya 27 orang, kemudian 11 orang mati. Tentu ada parameter polisi mengapa kita melakukan tindakan tegas," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Polisi Argo Yuwono kepada wartawan di Jakarta, Rabu (18/07).

Argo menuturkan, ada empat alasan yang membuat aparat polisi melakukan tindakan tegas terhadap orang-orang yang dianggap melakukan kejahatan jalanan, misalnya begal dan jambret.

"Pertama, saat pelaku akan ditangkap pelaku membahayakan jiwa polisi atau masyarakat; kemudian pelaku menabrak dengan sengaja anggota; dan, ketiga pelaku sengaja merampas senjata api, dan keempat pelaku membawa senjata tajam atau senpi kemudian saat ditangkap ada perlawanan," paparnya

Dia juga berulang kali menegaskan pihaknya tidak sembarangan menembak mati orang-orang yang disebut sebagai pelaku.

Pengamat: 'Apakah polisi yang menembak akan diperiksa?"

Dihubungi secara terpisah, kriminolog dari Universitas Indonesia, Purnianti, mengatakan, tindakan kepolisian Jakarta melakukan razia terhadap preman jalanan harus dibarengi dengan upaya pencegahan.

Sebagai terapi kejut, menurutnya, operasi preman selama sebulan itu akan membuat pelaku untuk "berpikir 10 kali untuk melakukan kriminalitas".

"Tapi tetap harus dibarengi upaya pencegahan," kata Purnianti saat dihubungi BBC News Indonesia, Rabu (18/07) malam.

Ditanya apakah langkah polisi menembak mati 11 orang yang diduga preman, Purnianti justru bertanya, "Mengapa ditembak sampai mati? Bukankah dengan ditembak mati, tidak bisa diusut lagi (komplotannya)?"

"Dan polisi yang menembak akan diperiksa lagi? Itu yang menjadi masalah sekarang," katanya.

preman Hak atas foto Dasril Roszandi/NurPhoto via Getty Images
Image caption Para pria ini dikumpulkan dan dimintai keterangan di Polsek Jatinegara, 9 Juli 2018, sebagian rangkaian operasi merazia preman jalanan di Jakarta sejak awal Juli lalu.

Menurutnya, tindakan seperti ini harus dicegah oleh pimpinan kepolisian.

"Pimpinan polisi harus cepat turun tangan untuk mencegah tindakan personilnya."

Purnianti juga tidak yakin bahwa tindakan kepolisian menembak mati belasan orang-orang yang dituduh preman akan membuat Jakarta akan lebih aman.

"Masalahnya multikomplek. Masalah ini akan terus berlangsung. Penduduk makin padat, personil polisi makin tidak memadai lagi," ujarnya.

Di sinilah, menurutnya, pemerintah harus bisa memastikan kehadiran anggota kepolisian di masyarakat di tengah kenyataan bahwa kejahatan akan lebih meningkat.

"Harus ada penguatan polisi, karena polisi tidak seharusnya menembak kan, tapi harus melakukan pencegahan".

Terlepas dari penggunaan tindakan tegas, Purnianti berharap agar kepolisian terus melakukan upaya pencegahan dan tidak berhenti setelah Asian Games berakhir.

BBC News Indonesia

Topik terkait

Berita terkait