Festival Lembah Baliem, pertunjukan mendunia tapi tergerus tensi pilkada

Meski dihadiri ratusan turis, termasuk dari mancanegara, Festival Lembah Baliem di Wamena, Jayawijaya, Papua, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, karena perselisihan pilkada yang tak kunjung tuntas.

Festival Lembah Baliem Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Tak hanya atraksi perang adat, kelompok peserta festival juga menampilkan tarian, nyanyian, dan musik tradisional.

Festival tahunan itu digelar tanggal 7 hingga 9 Agustus 2018 di sebuah tanah lapang di kaki perbukitan Distrik Walesi, Wamena, Jayawijaya, Papua.

Acara ini melibatkan perwakilan 40 distrik dari seluruh Wamena.

Tak hanya atraksi perang adat, kelompok peserta festival juga menampilkan tarian, nyanyian, dan musik tradisional.

Para perwakilan distrik itu berasal dari suku Dani, Lani, dan Yali. Mereka, baik laki-laki dan perempuan, bertelanjang dada.

Para pria mengenakan koteka atau penutup alat kelamin tradisional. Wajah mereka berhias pernak-pernik tradisional seperti taring babi (wamaik) dan kalung yang disebut mikak.

Adapun, kelompok perempuan dari tiga suku itu mengenakan rok tradisional serta berkalung noken.

Skenario perang

Terdapat sejumlah skenario perang, di antaranya perselisihan yang bermula dari penculikan remaja perempuan dan pembunuhan. Perang antara dua suku lalu terjadi, kaum laki-laki saling bertarung dengan panah dan tombak.

Festival Lembah Baliem Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Para pria mengenakan koteka atau penutup alat kelamin tradisional. Wajah mereka berhias pernak-pernik tradisional seperti taring babi (wamaik) dan kalung yang disebut mikak.

Beberapa skenario perang berakhir dengan kisah kemenangan dan kekalahan. Namun ada pula yang berujung perdamaian karena para pihak menganggap perang tak dapat menyelesaikan persoalan.

"Kostum mereka sangat indah. Tarian dan atraksinya beragam, setiap suku menampilkan hal yang berbeda," kata Susan Boxall, turis asal Bristol, Inggris.

Setelah menyaksikan Festival Lembah Baliem untuk pertama kalinya, Susan merasa perjalanan jauh dan melelahkan yang ia tempuh dari kampung halamannya menuju Wamena terbayar.

Susan menghabiskan setidaknya lima hari sejak terbang dari London, transit di Singapura, Makassar, Biak, dan Jayapura.

"Tradisi ini tidak bisa kami lihat di tempat lain di seluruh dunia," tuturnya.

'Tidak semeriah tahun sebelumnya'

Bagaimanapun, ajang tahunan di Lembah Baliem kali ini tak semeriah festival sebelumnya. Pertunjukan adat itu berlangsung sekitar lima jam, selesai sebelum pukul 03.00 WIT.

Kepala Dinas Pariwisata Jayawijaya, Alpius Wetipo, menyebut kisruh pemilihan bupati dan gubernur Juni lalu mempengaruhi penyelenggaraan Festival Lembah Baliem.

Ia berkata, pemerintah sengaja mengurangi perwakilan distrik.

Festival Lembah Baliem Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Festival tahunan itu digelar tanggal 7 hingga 9 Agustus 2018 di sebuah tanah lapang di kaki perbukitan Distrik Walesi, Wamena, Jayawijaya, Papua.

Alpius pun mengakui warga lokal yang menyaksikan festival itu tak sebanyak tahun-tahun terdahulu.

"Tahun ini sedikit sepi. Karena tahun politik, semuanya kami diperhitungkan, sengaja digelar lebih singkat," tuturnya.

Dalam pilkada Jayawijaya 2018, calon tunggal John Banua-Marthin Yogobi berhadapan dengan kotak kosong. Telah diwarnai keributan sejak penetapan peserta pilkada, hari pencoblosan dan pengumuman bupati terpilih di kabupaten itu pun tak lepas dari persoalan.

Dalam pengawasan aparat

Beberapa anggota TNI dan polisi bersenjata bersiaga di sejumlah titik menuju area penyelenggaraan Festival Lembah Baliem.

Beberapa pekan sebelumnya, terdapat kasus pemerkosaan terhadap turis luar negeri di Wamena. Adapun, isu separatis juga masih menjadi alasan kewaspadaan aparat.

Susan Boxall mengetahui isu keamanan itu saat ia memutuskan terbang ke Wamena bersama suami dan dua putranya. Selama lima hari berada di Papua, ia mengaku tak merasakan ancaman apapun.

Festival Lembah Baliem Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption "Kostum mereka sangat indah. Tarian dan atraksinya beragam, setiap suku menampilkan hal yang berbeda," kata Susan Boxall, turis asal Bristol, Inggris.

"Kami merasa aman karena kami pergi bersama pemandu wisata. Kami harus bertindak sesuai kearifan lokal," kata dia.

Sejumlah orang diinterogasi polisi pada hari kedua festival Baliem. Mereka diduga mabuk dan mencuri. Situasi itu sempat mengalihkan perhatian wisatawan dari atraksi adat.

Alpius Wetipo berkata, pemerintah berencana mendirikan pagar di sekeliling arena festival tahun depan. Menurutnya, upaya itu dapat mencegah pelaku kekerasan berbaur dengan penonton.

"Pagar perlu dibikin agar keamanan terjamin," kata Alpius.

Apa arti festival bagi warga lokal?

Di luar urusan pariwisata dan keamanan, apa sebenarnya arti festival itu bagi warga lokal dan kelompok suku yang menampilkan tradisi mereka?

Festival Lembah Baliem Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption "Generasi saya saat ini semakin lupa tradisi. Kegiatan ini harus terus diadakan," kata Decky Hea Lagowan, anggota warga setempat berusia 20 tahun.

"Generasi saya saat ini semakin lupa tradisi. Kegiatan ini harus terus diadakan," kata Decky Hea Lagowan.

Pemuda asli Wamena berusia 20 itu pulang dari perantauannya di Jayapura sebagai mahasiswa untuk menjadi peserta atraksi perang adat. Decky adalah sedikit muda-mudi di antara para penampil yang didominasi peserta paruh baya.

"Festival ini berdampak positif bagi perekonomian kami. Penghasilan warga sekarang sangat minim karena kebun-kebun tidak diperhatikan."

"Ini untuk mengingatkan pemerintah juga bahwa kami sudah bekerja keras," ucap Decky.

Tidak mengutip ongkos dari turis

Namun apakah permintaan sejumlah uang untuk wisatawan atas setiap sesi foto bersama peserta festival berkoteka merupakan bagian dari upaya perbaikan ekonomi?

Festival Lembah Baliem Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Polisi menangkap seorang warga lokal di area Festival Lembah Baliem yang dituduh melakukan tindakan kriminal.

Alpius Wetipo mengklaim pemerintah telah mengimbau masyarakat adat untuk tidak mengutip ongkos apapun kepada turis.

Meski begitu, ia meminta pelancong menganggap kebiasaan itu sebagai upaya saling menghargai antara pendatang dan warga lokal.

"Ada tempat wisata di mana mereka berpakaian, tapi kadang kalau ada wisatawan, mereka buka pakaian untuk menunjukkan keaslian mereka."

"Jadi mereka semacam mempertaruhkan harga diri mereka dan mengharapkan pengertian pengunjung, apakah mau bayar atau tidak," tutur Alpius.

BBC News Indonesia

Berita terkait