Realistiskah mimpi Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade?

Kembang api mewarnai penutupan Asian Games ke-18 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Hak atas foto AFP
Image caption Kembang api mewarnai penutupan Asian Games ke-18 di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Keberhasilan menggelar Asian Games 2018 dianggap sebagai salah satu bukti bahwa Indonesia bisa menyelenggarakan pesta olahraga kelas dunia seperti Olimpiade.

Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia harus mulai menyiapkan diri untuk ikut bursa pencalonan tuan rumah Olimpiade 2032. Tapi, apakah pengalaman menyelenggarakan Asian Games sudah cukup?

Banyak hal yang harus disiapkan Indonesia, jika ingin ditunjuk menjadi tuan rumah Olimpiade, termasuk menyiapkan sarana dan prasarana yang ramah lingkungan.

Pengamat olahraga Budiarto Shambazy menuturkan Olimpiade 2024 di Paris, Prancis, akan menjadi kali pertama olimpiade yang ramah lingkungan.

Komite Olimpiade Internasional mewajibkan negara tuan rumah untuk menggelar pesta olahraga yang ramah lingkungan. Sudah pasti, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang terkenal dengan polusi udaranya.

"Makin ke sana makin ada tuntutan untuk lebih green, lebih hijau, lebih bersih. Jadi bukan lagi menyediakan sekedar perlengkapan dan akomodasi untuk atlet, tapi juga lebih hijau," ujar Budiarto kepada BBC News Indonesia, Senin (03/09).

Mantan Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Rita Subowo, mengatakan menyelenggarakan Olimpiade tentu jauh lebih berat dibandingkan Asian Games, tapi ia melihat ada peluang menjadi tuan rumah.

"Yang harus kita siapkan kan persiapan bidding, karena kita kan belum ditunjuk. Kita baru mengajukan diri kemudian kita harus mempersiapkan sarana dan prasarananya seperti apa,' ujar Rita.

Modal Besar

Suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018 sepertinya dianggap sebagai modal besar untuk perhelatan Olimpiade.

Presiden Joko Widodo menuturkan pengalaman yang dimiliki dalam penyelenggaraan Asian Games ke-18 ini, membuat "Indonesia yakin dan mampu menjadi tuan rumah untuk perhelatan yang lebih besar".

"Oleh sebab itu Indonesia berencana secepatnya untuk mengajukan diri sebagai kandidat tuan rumah Olimpiade pada tahun 2032," ujar Presiden Jokowi usai menemui Ketua Olimpiade Internasional Thomas Bach di Istana Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Ketua Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan Asian Games yang baru saja ditutup akhir pekan lalu.

Dia mengatakan pihaknya mengapresiasi langkah Indonesia yang bersedia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

"Indonesia telah menunjukkan bahwa mereka memiliki semua bahan untuk menyelenggarakan Olimpiade dengan sukses".

Hak atas foto Biro Pres Kepresidenan
Image caption Kepada Jokowi, Presiden IOC Bach menyambut pencalonan Indonesia, dan mengatakan bahwa sukses Asian Games ini "memberikan landasan kuat" bagi Indonesia untuk mengajukan diri.

"Di sini di Indonesia terjadi kombinasi yang hebat antara keramahan dan efisiensi, dan inilah yang menjadi tujuan Olimpiade."

Cukup realistis

Pengamat olahraga Budiarto memandang impian Indonesia untuk jadi tuan rumah perhelatan pesta olahraga sedunia itu cukup realistis.

Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games dari berbagai perspektif, mulai dari kesiapan infrastruktur, tempat tinggal para atlet dan venue pertandingan

"Belum termasuk upacara pembukaan dan penutupan yang mewakili kemegahan Asian Games sebagaimana biasanya. Jadi saya kira cukup realitis," cetusnya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Atlet Indonesia dalam upacara penutupan Asian Games.

Perhelatan Asian Games berbeda dengan Olimpiade, namun Budi mengungkapkan meski diikuti oleh lebih banyak negara, cabang olahraga dan atlet yang mengikuti Olimpiade justru lebih sedikit.

Jika Asian Games diikuti sekitar 12.000 atlet, Olimpiade hanya diikuti oleh kurang lebih 9.000 atlet.

Demikian pula dengan cabang yang dipertandingan dan diperlombakan. Asian Games menggelar 46 cabang olahraga, sementara Olimpiade 36 cabang.

"Jadi memang perbedaan dari Olimpiade dan Asian Games belum mencerminkan tingkat kesulitan," ungkapnya.

"Bukan tidak mungkin Jakarta terpilih kalau dari sekarang memang Presiden menindaklanjuti pernyataan beliau dengan langkah-langkah yang lebih konkret, yaitu menyiapkan SDM, menyiapkan dana, menyiapkan proposal, mau apa kita nanti di Olimpiade 2032, dan itu harus rinci."

Namun, menggelar Olimpiade tidak selalu menguntungkan secara ekonomi, biasanya malah rugi.

Budi mengungkapkan untuk menggelar Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro, Brasil menggelontorkan duit senilai US$16 miliar, membengkak dari anggaran sebelumnya yang hanya US12 miliar.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Untuk menggelar Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro, Brasil menggelontorkan duit senilai US$16 miliar, membengkak dari anggaran sebelumnya yang hanya US12 miliar.

"Biasa itu membengkak karena material bangunan harganya naik, dikoprupsi dan lain-lain. Dari US$16 miliar, yang masuk (pendapatan) hanya US$1 miliar," ujar Budi.

Berkaca dari penyelenggaraan olimpiade di Rio De Janeiro dua tahun lalu yang membuat pemerintah Brasil terpaksa merugi, pemerintah Indonesia juga perlu mengorganisir pesta olahraga yang lebih laik.

Ekonom dari Universitas Indonesia Berli Martawijaya mengungkapkan tantangan yang dihadapi Indonesia, salah satunya adalah memperbaiki proses pembelian tiket.

Dalam perhelatan Asian Games 2018, tiket banyak menjadi sumber keluhan.

"Kemarin yang se-Asia aja cari tiket susah. Ini kan berarti yang nonton dari negara yang lebih banyak. Kalau kemarin dalam waktu berapa jam tiket penutupan habis, itu yang harus perbaiki," ujar Berli.

Hak atas foto ANTARA FOTO/INASGOC/Widodo S Jusuf
Image caption Pesta olahraga akbar Asian Games 2018 sempat dibayangi masalah tiket

Mantan Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Rita Subowo, mengakui banyak yang harus dipersiapkan untuk menjadi tuan rumah olimpiade, khususnya dalam sarana dan prasarana ajang kompetisi.

Dia memandang, jika Olimpiade jadi digelar di Indonesia, penyelenggaraan even olahraga itu tidak bisa dikonsentrasikan di stadion Gelora Bung Karno yang pada Asian Games lalu menjadi pusat penyelenggaraan multi-sports event.

"Nggak mungkin lagi dikonsentrasikan di GBK, mengingat kemarin saja tempat untuk basket kecil sekali 1.600 penonton. Kemudian voli juga Cuma 4.000 seat, yang terpakai paling hanya 2.500 seat,"ujarnya.

"Untuk Asian Games saja ini termasuk kecil, apalagi untuk Olimpiade. Jadi pemerintah harus memikirkan untuk membuka sarana baru untuk Olimpiade. Dulu kan Bung karno bisa, kenapa sekarang nggak bisa?

Untuk jadi tuan rumah Olimpiade 2032, sejauh ini Indonesia bersaing dengan India, Cina, dan Australia.

Cina dan Australia pernah menjadi tuan rumah, ketika Olimpiade digelar di Beijing dan Sydney.

India, sama halnya dengan Indonesia, belum pernah sekali pun menggelar ajang pesta olahraga tingkat dunia ini.

Topik terkait

Berita terkait