Anda masih mampu membeli daging, tahu tempe dan obat meski Rupiah melemah?

Melemahnya Rupiah terhadap dolar Amerika menyebabkan sejumlah importir mengubah rencana bisnis. Hak atas foto Reuters
Image caption Melemahnya Rupiah terhadap dolar Amerika menyebabkan sejumlah importir mengubah rencana bisnis.

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah hingga menyentuh Rp15.000—yang dipandang sebagai salah satu taraf terendah dalam beberapa tahun ini.

Presiden Joko Widodo telah meminta masyarakat untuk berhati-hati menyikapi penurunan nilai tukar Rupiah yang penyebab utamanya adalah faktor eksternal, seperti kenaikan suku bunga The Fed.

Selain itu pemerintah juga telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi kemungkinan dampak negatif, seperti menaikkan pajak penghasilan.

"Baru saja pak Menko dan tiga menteri, menteri perdagangan, menteri keuangan, menteri perindustrian merilis kenaikan PPh pasal 22 untuk barang-barang impor, terutama yang barang konsumsi.

"Yang maksimum ada yang (pajak impornya) naik dari 2,5 (%) ke 10 (%), dari 7,5(%) ke 10 (%)," kata Kasan Muhri, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan.

"Kebijakan itu adalah bermaksud memperbaiki neraca perdagangan dari sisi impor barang-barang yang memang tidak terlalu banyak berdampak buat masyarakatlah," Kasan menjelaskan.

Pada Senin (05/09) pemerintah resmi menaikkan tarif Pajak Penghasilan ( PPh) impor atau PPh pasal 22 kepada 1.147 produk, mulai dari peralatan elektronik dan produk tekstil, sabun dan peralatan masak/dapur, hingga barang mewah seperti mobil di atas 3000cc dan motor besar.

Pihak pengusaha barang impor sudah bersiap-siap menjadwalkan kembali berbagai hal, termasuk juga menyesuaikan skala impor dengan perubahan daya beli masyarakat.

"Apa-apa planning kami selama setahun harus bisa melihat dan disesuaikan karena dengan kondisi ini kita berarti harus mengencangkan ikat pinggang, mengefisiensikan dalam segala hal. Termasuk juga efek-efek yang diakibatkan," kata Erwin Taufan, Sekretaris Jenderal Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI).

"Kan termasuk juga daya beli masyarakat akan berpengaruh. Kita akan lihat pergerakan daya beli masyarakatnya berapa jauh. Dan maksimal kita dalam memproduksi dan menyesuaikannya sejauh mana," Erwin menambahkan.

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi dampak negatif melemahnya Rupiah terhadap berbagai bahan kebutuhan penting lewat produksi barang yang dapat bersaing di dunia, dengan memberantas korupsi dan pungutan liar.

"Tantangan kita adalah benar-benar membenahi struktural, basmi pungli, basmi korupsi dan menurunkan angka ICOR. Angka ICOR kita Incremental Capital Output Ratio kan 6,4, kan itu berarti nggak efisien.

"Kalau Anda mau tumbuh 1% ekonomi, Anda harus invest 6,4 kali. Itu yang mesti diturunkan menjadi 2. Memberantas korupsi, memberantas birokrasi supaya bisa bersaing," kata Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI).

Berbagai produk yang diimpor sehingga kemungkinan besar terkena dampak nilai tukar dapat dikelompokkan dalam barang konsumsi seperti daging dan susu; bahan baku seperti kacang kedelai untuk membuat tahu dan tempe; serta barang modal seperti laptop dan telepon.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Konsumsi daging sapi untuk rumah tangga seharusnya didapat dari dalam Indonesia.

Daging

Daging merupakan salah satu produk yang paling banyak diimpor Indonesia karena pasokan peternakan sapi lokal jauh dari cukup.

Menurut data Biro Pusat Statistik, volumenya terus naik dari 518.484,03 ton pada tahun 2016 menjadi 531.756,98 ton setahun berikutnya. Pada bulan Juni 2018, harga melonjak hingga Rp150.000 per kilogram padahal biasanya sebesar Rp120.000.

Pengelompokan pasar perlu dilakukan agar kelompok yang memerlukan bantuan pemerintah dapat menerimanya.

"Harus ada segmentasi pasar. Jadi kalau kita bicara daging itu kan ada konsumsi daging untuk rumah tangga, konsumsi daging untuk hotel dan restoran, konsumsi daging untuk makanan olahan. Mestinya impor daging itu hanya dibatasi untuk hotel dan restoran dan makanan olahan. Untuk konsumsi rumah tangga itu mestinya bisa di-cover dari daging lokal," kata Sudaryatmo dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Perubahan kurs ini memang membuat para pengimpor harus melakukan perubahan perencanaan pada berbagai jenis barang, termasuk daging. Sebelumnya sebagian importir memperkirakan batas atas kurs adalah Rp14.000, bukannya mendekati Rp15.000.

"Yang sudah pasti kan makanan minuman, itu kan banyak yang impor. Konsumsilah. Bahan baku, kan susu juga masuk, kalau impor seperti kedelai juga, daging pasti," kata Erwin Taufan, Sekretaris Jenderal Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI).

"Makanya peraturan baru yang ada sekarang itu adanya pembatasan, termasuk yah itu, baja, terus juga minol, minuman beralkohol juga lumayan," lanjut Erwin yang juga importir baja dan hortikultura.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kedele bahan baku tempe tahu, seharusnya digolongkan sebagai komoditi yang sangat diperlukan.

Kedelai

Bahan baku makanan olahan tahu dan tempe yang banyak digemari penduduk Indonesia ini sebagian besar diimpor dari Amerika Serikat. Kementerian Perdagangan berpandangan harga kedelai belum tentu akan naik.

"Kedelai di Amerika sana sebenarnya secara harganya turun. Cuma saat sekarang Rupiahnya melemah, jadi harga di dalam Rupiahnya sedikit naik. Kalau sekarang Rupiah terdepresiasi dalam minggu-minggu ini atau dalam bulan-bulan ini, kan kedelai pasti kontrak pembeliannya ada tenggang waktu," kata Kasan Muhri dari Kemendag.

"Kalaupun itu ada kenaikan ke sisi barang akhir dari olahan kedelai, entah itu tahu entah itu tempe mungkin saja akan terjadi, tetapi bukan langsung saat ini," kata Kasan Muhri.

Tetapi sebagian pihak memandang harga kedelai atau tahu tempe tetap akan tersesuaikan dengan nilai tukar baru Rupiah terhadap dollar AS dalam empat bulan lagi, setelah kontrak yang sedang berjalan telah berakhir, dengan kenaikan harga berkisar antara 20%-30%.

Salah satu cara untuk mengatasi pengaruh negatif gejolak kurs terhadap impor tanaman subtropis ini adalah dengan menetapkannya sebagai komoditi yang sangat diperlukan dan memperluas penananam kedelai lokal.

"Beberapa daerah dia juga mengembangkan varietas kedelai lokal yang memang dari segi produksi dan perluasan lahan itu tidak ada perubahan yang signifikan," kata Sudaryatmo.

"Mestinya ada undang-undang yang men-state bahwa makanan itu masuk essential commodity termasuk di dalamnya adalah kedele. Intervensi negara itu ada di level produksi,pricing policy dan ada di level konsumsi," Sudaryatmo mengusulkan.

Hak atas foto ADITYA IRAWAN/NURPHOTO VIA GETTY IMAGES
Image caption "Yang namanya obat itu 80%, itu bahan bakunya impor," kata importir.

Obat

Bahan baku obat, obat itu sendiri maupun peralatan kesehatan adalah salah satu jenis barang impor yang sangat besar kandungan impornya.

"Yang namanya obat itu 80%, itu bahan bakunya impor. Bangsa Indonesia itu belum sepenuhnya mampu membuat bahan baku obat-obatan tersebut, termasuk alat-alat kesehatan. Jadi itu juga otomatis akan menyumbang," kata Erwin Taufan.

Ketersediaan obat generik disamping perubahan struktural dipandang akan membantu Indonesia mengatasi dampak buruk pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika.

"Kalau terpaksa harus mengorbankan obat yang impornya terlalu banyak itu kan cari yang bisa generiklah, itu substitusinya begitu. Ini juga membuktikan kesiapan-kesiapan untuk yang struktural jangka panjang," kata ekonom Christianto Wibisono.

"Jadi sekarang pemerintah harus memikirkan yang jangka panjang, nggak cuma yang jangka pendek, yang harus bisa dikerjakan hari ini, Tetapi kan semua orang sudah seolah-olah panik. Putusan-putusan diambil tetapi dampaknya memang harus dilihat jangka menengah, nggak bisa langsung," Christianto menambahkan.

Berita terkait