Gempa Lombok: Warga mulai membangun sendiri rumahnya

rumah Lombok Hak atas foto BBC News Indonesia/Khairil Anwar
Image caption Merasa sengsara tinggal di tenda-tenda pengungsian, sementara musim penghujan segera tiba, menjadi alasan mereka membangun rumah sendiri, walaupun harus meminjam uang ke orang lain.

Terlalu lama mengharapkan bantuan pemerintah yang tak kunjung turun, sejumlah warga di Lombok Timur memutuskan membangun sendiri rumahnya - yang berdindingkan anyaman bambu.

Merasa sengsara tinggal di tenda-tenda pengungsian, sementara musim penghujan segera tiba, menjadi alasan mereka membangun rumah sendiri, walaupun harus meminjam uang ke orang lain.

"Sebentar lagi musim hujan. Di Sembalun, hujan angin yang terjadi di bulan 10 itu berbeda dengan di tempat lain," ujar Zahra, ibu empat anak asal Dusun Dasan Tengak Barat, Desa Sembalun, Lombok Timur.

Sudah sepekan Zahra menyiapkan rumah barunya di tanah seluas 5 x 8 meter yang tersisa di belakang rumahnya yang rusak akibat gempa.

"Makanya, biar saya kumpulkan uang untuk membangun rumah baru dan akan jadi rumah seterusnya," tegasnya kepada wartawan di Lombok, Salma Indria Rahman, untuk BBC News Indonesia.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Khairil Anwar
Image caption "Sebentar lagi musim hujan. Di Sembalun, hujan angin yang terjadi di bulan 10 itu berbeda dengan di tempat lain," ujar Zahra, ibu empat anak.

Sejak gempa bumi pertama mengguncang Lombok pada 29 Juli lalu, Sembalun - yang saat itu menjadi pusat gempa - terus diguncang gempa susulan hingga kini.

Rumah Zahra yang lama - yang terbuat dari beton - mengalami retak-retak di tiap sudutnya akibat gempa.

Rumah berdinding anyaman bambu

Sampai sekarang, Zahra - yang akrab di sapa Inaq Zahra (sapaan Ibu bagi masyarakat kebanyakan) - belum berani masuk ke dalam rumahnya kembali.

Dia juga memutuskan untuk membangun rumah baru yang tidak terbuat dari beton.

"Saya ndak mau bikin rumah batu lagi. Biar saja rumah bedek (anyaman bambu atau gedek), yang penting aman," ujar Zahrasaat ditemui di kediaman rumahnya yang sedang dibangun, Rabu (12/09) lalu.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Khairil Anwar
Image caption Kebetulan di tanah miliknya masih banyak pohon sehingga kayunya bisa pergunakan untuk membangun rumah, kata Zahra.

Walaupun biayanya lebih ringan ketimbang membangun rumah beton, Zahra harus merogoh koceknya sekitar Rp 20-an juta.

Kebetulan di tanah tersebut masih banyak pohon sehingga kayunya bisa pergunakan untuk membangun rumah, katanya.

Agar rumahnya tidak terembes air, dia membangun tembok di bagian bawah setinggi 60 cm, lalu di atasnya dipasang bedek - sebagai pengganti dinding rumah. Atapnya pun terbuat dari sejenis fiber (serat) yang ringan.

Modal uang pinjaman

Alasan serupa dilakukan oleh Juani, ibu dua anak yang tinggal di Dusun Benjor, Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur.

Bedanya, sebelum gempa melanda bumi Lombok, dia tengah merenovasi rumahnya dan runtuh saat gempa ketiga kalinya 5.8 SR melanda Lombok pada 19 Agustus 2018.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Khairil Anwar
Image caption "Saat ini saya tinggal di tenda di tengah sawah bersama warga lain, tapi saya takut bulan 10 akan turun hujan, makanya saya bangun rumah," ungka Juani.

"Saat ini saya tinggal di tenda di tengah sawah bersama warga lain, tapi saya takut bulan 10 akan turun hujan, makanya saya bangun rumah," ungkapnya.

Bermodalkan uang pinjaman, Juani membangun rumah di atas lahan rumah lamanya, tetapi berdinding triplek.

Dana tersebut dipergunakan untuk membeli kayu, triplek, fiber, serta peralatan lainnya. Suami dan adiknya yang mengerjakan rumah tersebut sejak lima hari lalu.

'Saya belum menerima bantuan dari pemerintah'

Di kawasan pesisir, hanya sekitar 100 meter dari bibir pantai di Dusun Tekalok, Desa Sugian, Sambelia, Lombok Timur, tampak Durrahman tengah mengaduk-aduk pasir dan dua rekannya membangun pondasi dari batu dan semen. Mereka tengah membangun rumah.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Khairil Anwar
Image caption Agar rumahnya tidak terembes air, dia membangun tembok di bagian bawah setinggi 60 cm, lalu di atasnya dipasang bedek alias anyaman bambu- sebagai pengganti dinding rumah.

"Saya membangun rumah baru di atas tanah rumah saya yang rusak akibat gempa. Sudah sebulan abis gempa pertama kami semua tinggal di tenda pengungsian, anak saya sakit dan setiap malam terus menangis," ungkap Rizal, Kepala Dusun Tekalok, mulai bercerita.

"Padahal saya sudah ke kantor desa untuk bertanya apakah ada bantuan untuk anak-anak, tapi tidak ada di dusun sini, makanya saya putuskan buatkan rumah baru walau pun harus pinjam uang, apalagi sebentar lagi musim hujan," tambahnya.

Setelah diguncang gempa, Rizal mengaku tidak menerima bantuan Pemerintah. Jika ada bantuan, itu hanya berupa air mineral dan mie, akunya.

'Belum ada petugas yang mendata'

Selain itu, pendataan rumah belum juga terlaksana di dusun yang memiliki 220 kepala keluarga ini. Di wilayah itu tercatat 200-an rumah rusak berat pasca gempa ketiga yang berpusat di laut di dekat mereka bermukim.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Khairil Anwar
Image caption Rumah salah-seorang warga di Sembalun, Lombok Timur, mengalami retak-retak di tiap sudutnya akibat gempa.

"Pendataan hanya terjadi pasca gempa pertama. Saat itu kebanyakan rumah hanya retak-saja, tapi saat gempa ke tiga banyak rumah yang rusak berat bahkan hancur, termasuk rumah saya tonggaknya patah dua di tengah.

"Tapi akibat gempa ketiga ini belum ada petugas satu pun yang datang mendata," jelas Rizal, yang sebelumnya memiliki rumah panggung terbuat dari kayu.

Sementara itu, Kepala Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Lalung Setiadi, menyarankan warganya kembali ke rumahnya masing-masing, dank membangun rumah sementara hingga pemerintah membangun hunian baru sesuai tingkat kerusakan.

"Sampai kini saya belum ada informasi, kapan mulai dibangun rumah hunian tersebut. Tapi saya sarankan jangan bangun rumah baru, tapi hunian sementara saja," katanya.

"Tapi kalau ada yang membangun rumah baru dengan biaya sendiri, saya akan usahakan haknya untuk mendapatkan ganti rugi rumah baru tetap diberikan," tandas Lalung.

Mengapa bantuan minim?

Terkait dengan minimnya bantuan yang diterima masyarakat, menurut Helmy Eka Saputra, Kasi Tanggap Darurat dan Damkar BPBD Lombok Timur, sejauh ini pihaknya hanya membantu bantuan logistik sampai ke posko di tingkat lecamatan.

Lalu dari kecamatan itu disebar hingga ke desa, dusun, dan masyarakat, ungkapnya.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Khairil Anwar
Image caption "Saya ndak mau bikin rumah batu lagi. Biar saja rumah bedek (anyaman bambu atau gedek), yang penting aman," ujar Zahra.

Namun diakui, pihaknya terkendala dengan luasnya wilayah sehingga untuk masuk ke titik pengungsian yang letaknya terpisah-pisah, membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

"Jujur saja kami terkendala dengan lokasi pengungsi yang menyebar. Ada yang di sawah-sawah dan lokasi terpencil. Tapi saat ini kami sudah mengusulkan kepada BNPB untuk kebutuhan logistik enam bulan ke depan," jelas Helmy.

Masih belum jelas kapan bantuan pemerintah itu bisa disalurkan, barangkali itulah yang memotivasi sebagian warga di Lombok Timur berinisiatif membangun sendiri rumahnya.

Berita terkait