Evakuasi gempa Palu: 'Saya harap semua keluarga saya terus dicari'

Tsunami Hak atas foto Getty Images/Ulet Ifansasti
Image caption Seorang perempuan membersihkan makam orang tuanya yang tertimbun material bangunan akibat gempa-tsunami yang menerjang Sulawesi Tengah.

Ratusan orang diprediksi masih tertimbun material bangunan dan tanah usai gempa memicu tsunami dan pergerakan tanah (likuifaksi) di Sulawesi Tengah.

Tak sedikit keluarga korban yang terus berharap pemerintah tak menghentikan evakuasi, meski proses pencarian memiliki tenggat waktu.

"Saya cuma tahu posisi rumah bapak tua saya, coba cek apakah dia selamat, tapi dengan kondisi seperti ini, ada tanda tanya juga," kata Marice Sihombing di kepada BBC di Palu, Kamis (04/10).

Marice adalah warga Donggala, kabupaten di Sulteng, yang juga diguncang gempa dan diterjang tsunami.

Selamat dari bencana, Marice pergi ke rumah kerabatnya di perumahan Balaroa, Palu, satu dari tiga kawasan yang disebut paling rusak parah pasca gempa.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), area seluas 47,8 hektar di Balaroa hancur karena likuifaksi. Sekitar 1.045 rumah di daerah itu ambles, diduga termasuk para penghuninya.

"Saya belum tahu kondisi bapak tua bagaimana. Semoga cepat dievakuasi. Mati lampu, baterai handphone habis, tidak bisa dihubungi," ujar Marice.

Perempuan paruh baya itu tak kuasa menahan haru saat tahu pemerintah memiliki opsi menghentikan evakuasi meski belum semua korban ditemukan.

Hak atas foto SOPA Images/Getty Images
Image caption Permukaan tanah di Balaroa ambles hingga tiga meter. Sejumlah pakar geoteknologi menyebut kawasan ini berada tepat di atas Sesar Palu Koro.

Isman, warga Donggala, sepanjang siang kemarin juga menyaksikan proses pencarian korban di Balaroa. Nasib tiga kerabatnya yang tinggal di perumahan itu hingga kini belum jelas.

"Saya harap semua keluarga kami dicari sampai ketemu. Tadi pagi sudah dua ditemukan, orang tua kami, sisa keponakan, kami tunggu kepastian," tuturnya.

Bagaimanapun, kata Isman, ia telah merelakan kerabatnya jika hingga hari terakhir evakuasi tetap tak ditemukan.

"Kalau memang begitu, diterima, mau apa lagi? Saya akan ikhlaskan, itu sudah kehendak Tuhan," kata Isman.

Hak atas foto SOPA Images/Getty Images
Image caption Agustin (51) dan suaminya, Baktiar (51), memasak di reruntuhan rumah mereka di Balaroa, Palu.

Merujuk Peraturan Pemerintah 22/2017, pencarian dan pertolongan korban bencana dapat dihentikan, jika setelah tujuh hari, operasi tak efektif menemukan korban.

Pasal 18 pada beleid itu mengatur, Badan SAR Nasional (Basarnas), dalam koordinasi dengan lembaga negara lainnya, dapat memutuskan keberlanjutan operasi berdasarkan pertimbangan teknis.

Namun Basarnas menegaskan, operasi pencarian korban gempa, tsunami, dan likuifaksi Sulteng akan terus bergulir, setidaknya hingga 12 Oktober mendatang atau dua pekan pasca bencana.

"Berdasarkan standar operasi prosedur, pencarian tujuh hari, tapi kalau tanggap darurat ditentukan selama 14 hari, Basarnas akan tetap mencari," kata Kepala Bidang Operasi Basarnas, Brigjen Bambang Suryo di Palu.

Bambang berkata, pencarian korban akan terus dilakukan, dengan pertimbangan tak berisiko terhadap keselamatan para personel SAR.

"Di Jono Oge susah karena yang muncul lumpur, alat berat masuk, tapi saya tidak mau membahayakan tim. Kami upayakan mencari korban yang tak membahayakan," tuturnya.

Hak atas foto Hafidz Mubarak A
Image caption Desa Jono Oge di Sigi adalah salah satu daerah yang paling terdampak gempa akibat Sesar Palu Koro.

Selain Balaroa, dua daerah yang rusak parah akibat gempa adalah perumahan Petobo di selatan Palu dan Desa Jono Oge di Kabupaten Sigi.

Luas kawasan Petobo yang ambles mencapai 180 hektar. Di sana terdapat 2.050 rumah rusak. Adapun di Jono Oge, luas kawasan ambles mencapai 202 hektar dengan 366 rusak.

Sejak pencarian hari keempat, Bambang mengaku tim SAR tidak lagi menemukan korban selamat di tiga daerah itu.

Hingga kini belum ada jumlah pasti soal korban yang mungkin berada di tiga kawasan likuifaksi ini. Penghitungan, kata juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, hanya berdasarkan perkiraan.

"Menurut lurah, ada beberapa ratus korban yang diduga tertimbun di lumpur dan amblesan."

"Bangunan di sana terseret lumpur lukuifaksi, kemudian tenggelam. Di permukaan tidak terlihat rumah, proses pencarian sulit, tapi tim masih mencari," ucapnya.

Sutopo mengatakan, sebagian tanah di Balaroa, Petobo, dan Jono Oge masih basah pasca likuifaksi. Ia menyebut personel SAR sulit menemukan korban karena permukaan tanah turun hingga tiga meter.

Hak atas foto Getty Images/Ulet Ifansasti
Image caption Tim SAR mengerahkan dua alat berat untuk mencari korban di bangunan hotel Mercure yang runtuh di Palu.

Sementara itu, Kepala Biro Perencanaan Basarnas, Abdul Haris Achadi, menyebut secara ilmiah manusia dapat bertahan hidup di bawah timbunan material paling lama tujuh hari.

"Dalam riset sebuah organisasi internasional, di bawah reruntuhan bangunan, korban kemungkinan masih hidup selama tujuh hari, jadi masih terus kami cari," ujarnya di Jakarta.

Haris mengatakan, berdasarkan ketentuan, penambahan waktu operasi SAR dapat dilakukan setiap tujuh hari. Ia menyebut pada 2015 Basarnas bahkan mencari korban pesawat Air Asia selama lebih dari dua bulan.

"Ini bencana alam. Daerah tertimbun itu juga sulit diakses. Aturan itu tidak kaku, jadi saat ini tidak perlu ditutup, otomatis terus berlanjut," ucapnya.

Hak atas foto Getty Images/Ulet Ifansasti
Image caption Sejumlah pohon di sebuah ladang di Kabupaten Sigi tumbang akibat likuifaksi pasca gempa.

Juli lalu, penghentian operasi pencarian dan pertolongan oleh Basarnas terhadap korban Kapal Motor Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatra Utara, sempat memicu pro dan kontra.

Proses pencarian korban kapal tenggelam itu dihentikan pada hari ke-16, ketika semua penumpang belum ditemukan.

Saat itu Basarnas menganggap pencarian korban pada 450 meter di bawah permukaan danau membutuhkan peralatan canggih dan dana besar.

Kalaupun pencarian korban di Palu dan Sigi dihentikan, kata Sutopo, keputusan akan diambil berdasarkan kesepakatan antara pemerintah dan keluarga korban.

"Kalau tetap tidak ditemukan, akan ada kesepakatan bahwa korban yang tertimbun material likuifaksi akan diikhlaskan."

"Sebenarnya ada metode pemetaan permukaan tanah, ada teknologi georadar. Tapi kalau ditemukan, pasti kondisi korban rusak," ujar Sutopo.

Hak atas foto Getty Images/Ulet Ifansasti
Image caption Sebagian korban mencari bantuan makanan di tengah jalan seiring distribusi logistik yang belum merata karena akses transporasi yang rusak.

Dalam catatan BNPB, hingga 3 Oktober jumlah korban meninggal dunia akibat gempa-tsunami di Sulteng mencapai 1.424 orang. Jumlah itu tak termasuk korban yang diduga masih tertimbun di Balaroa, Petobo, dan Jono Oge.

Setidaknya 70.821 orang kini berada di pengungsian yang tersebar di 141 titik.

Selain pencarian, evakuasi, dan penyelamatan korban, pemerintah kini fokus mendistribusikan bantuan serta memperbaiki infrastruktur, terutama listrik dan transportasi.

Berita terkait