Jatuhnya Lion Air JT-601: B737 Max 8 itu adalah produksi terbaru Boeing

Boeing 737 Hak atas foto Boeing
Image caption Lion memesan tiga jenis Boeing 737 Max: seri 8, 9 dan 10.

Pesawat Lion Air yang disebut jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10), merupakan pesawat yang diproduksi Boeing dengan seri 737 Max 8.

Lion Air merupakan salah satu maskapai pertama di dunia yang menerbangkan pesawat versi terbaru seri Boeing 737 itu.

Direksi Lion Air menyebut sejak 2017 telah mengoperasikan tiga pesawat 737 Max 8 untuk Malindo, anak usaha mereka yang juga dikenal sebagai Batik Air Malaysia.

Adapun, Lion Air juga mulai menerbangkan lima pesawat baru itu untuk rute domestik Indonesia. Pesawat itu didesain untuk mengangkut 180 penumpang.

Lion Air baru mengoperasikan Boeing 737 MAX 8 itu Agustus 2017, setelah Boeing secara resmi meluncurkannya tahun 2017.

Harga satu unit pesawat itu diperkirakan sekitar 70 juta poundsterling atau sekitar Rp1,3 triliun.

Pesawat tersebut diklaim mampu menghemat bahan bakar hingga 20% dibandingkan versi 737 lawas. Selain itu, Boeing menyebut pesawat ini memiliki kabin yang lebih senyap daripada varian terdahulu.

Juru bicara Lion Air, Andy Saladin, menyebut 737 Max 8 akan dapat menunjang strategi bisnis perusahaannya, terutama untuk mewujudkan biaya penerbangan yang terjangkau.

"Pesawat baru ini akan mendukung kami untuk dapat terus mengembangkan rute-rute perjalanan ke destinasi yang lebih jauh lagi," ujar Andy saat itu.

Hak atas foto ANTARA/DANU Haryadi
Image caption Kepala Basarnas, Marsekal Muda M. Syaugi, menyebut pesawat Lion Air yang jatuh di Karawang sempat mencapai ketinggian 2.500 kaki.

Merujuk situs Lion Air, Boeing 737 Max 8 dapat terbang lama tanpa mengisi bahan bakar selama 7,5 jam. Pesawat ini juga diklaim dapat memiliki daya jelajah hingga 6.500 kilometer.

Selain itu, pesawat baru Lion Air ini menerapkan fitur double winglet. Artinya, ujung dua sayap dapat memecah turbulensi ketika pesawat terbang dalam kecepatan tinggi.

Lion Air tercatat telah memesan setidaknya 218 unit pesawat Boeing terbaru ini. Belakangan, mereka juga memesan 50 unit 737 Max 10 di perhelatan Paris Air Show 2017.

Hak atas foto Lion Air
Image caption Boeing 737 Max 8 yang lebih dahulu digunakan oleh Lion Air di Thailand.

Di Indonesia, Boeing 737 Max 8 juga dioperasikan Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah itu menggunakan varian terbaru Boeing untuk rute domestik.

Maskapai Sriwijaya Air pun telah meneken perjanjian pembelian 20 pesawat 737 Max 8 di Pair Air Show 2016.

Menurut catatan, pesawat Lion Air mengalami insiden dalam sejumlah penerbangan, kesalahan pendaratan hingga ban kempis. April 2018, pesawat mereka tergelincir di Bandara Jalaluddin, Gorontalo. Tak ada korban dalam peristiwa itu.

Kecelakaan besar Lion Air terjadi tahun 2004 di Bandara Adisumarmo Solo, saat pesawat mereka tergelincir dalam proses pendaratan. Setidaknya 25 penumpang dilaporkan tewas dalam kejadian itu.

Juni 2016, Lion Air mengklaim keluar dari daftar maksapai yang dilarang terbang ke Eropa (EU Banned Airlines List).

Sementara Maret 2017, mereka masuk registrasi IATA Operational Safety Audit (IOSA).

Adapun pada Juni 2018, Lion Air disebut berada di deretan peringkat tertinggi dalam daftar keselamatan penerbangan yang dikeluarkan lembaga Australia, AirlineRatings.

Salah satu faktor pencapaian itu adalah keberhasilan Lion Air mencegah kecelakaan mayor yang menyebabkan korban jiwa. Dalam peringkat itu, Garuda Indonesia juga mendapatkan penilaian positif.

"Tingkat keselamatan penerbangan Lion Air dan Batik Air sudah diakui dunia," kata Arista Atmadjati, Direktur Arista Indonesia Aviation Center.

Hak atas foto NurPhoto/GETTY IMAGES
Image caption Pesawat Boeing 737 Max 8 dioperasikan sejumlah maskapai di berbagai negara, salah satunya oleh Ryan Air, perusahaan penyedia penerbangan murah berbasis di Irlandia.

Dalam insiden jatuhnya Lion Air di Karawang, Kepala Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menyebut 737 Max 8 yang dioperasikan baru menjalani 800 jam terbang.

Pesawat membawa 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi dengan 2 Pilot dan 5 FA.

Pesawat itu bernomor penerbangan JT-610 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang. Pesawat tersebut lepas landas pukul 06.20 WIB dan hilang kontak pada pukul 06.33 WIB.

Berita terkait