Lion Air JT610: Sudah terkumpul 37 kantung jenazah dan 52 identitas, tapi mungkin ada korban yang tak ditemukan

jenazah lion air Hak atas foto Getty Images
Image caption Disarankan, jika sudah menerima jenazah yang sudah diidentifikasi, tidak usah dibuka.

Sampai Selasa sore, sudah terkumpul 52 kartu identitas sepeti KTP, Paspor dan kartu lain, sementara bagian jasad korban sudah terkumpul dalam 37 kantung jenazah.

Hal itu dikemukakan Nugroho Budi Wiryanto, Deputi Operasi Basarnas, dalam jumpa pers Selasa (30/10) pukul 19.

Ke-37 kantung jenazah itu dikirim ke RS Polri Kramat Jati, kata Nugroho, "Namun, 37 kantung jenazah itu bukan berati 37 orang korban, karena merupakan bagian-bagian tubuh saja, yang masih harus diidentifikasi," katanya.

Sebelumnya Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigjen Arthur Tampi, saat jumpa pers bersama Kepala Basarnas Muhammad Syauki, memperingatkan hal yang sama, dalam jumpa pers di RS Polri Kramat Jati, Selasa (30/10).

"Yang harus ditekankan, semuanya adalah potongan tubuh" kata Arthur Tampi. "Tak ada satupun dari yang kita terima ini yang berupa jenazah utuh," lanjutnya.

Ia mengatakan proses identifikasi yang berjalan hari ini belum menghasilkan apapun. Ini karena ciri fisik yang ada memiliki kesamaan dengan data antemortem beberapa korban lain.

"Memang ada beberapa ciri yang kita temukan tapi kita belum bisa memutuskan karena dalam data antemortem mengatakan data keluarga lain juga mempunyai ciri yang sama," ujar Arthur Tampi seperti dilaporkan Quiniawati Pasaribu dari BBC Indonesia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kantung-kantung mayat diangkut ke RS Polri - berisi bagian dari jenazah.

Dia juga menyebut, RS Polri sudah mendapatkan 185 data antemortem atau data ciri fisik korban dan 147 DNA. Karenanya, RS Polri akan tetap berpegang pada DNA untuk mengidentifikasi jenazah.

Karenanya, mungkin akan ada korban yang tak bisa ditemukan, sementara jenazah yang diserahkan ke keluarga sebaiknya tak dilihat karena bisa menimbulkan trauma.Untuk itu kata Athur Tampi, yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi, dan yang paling mungkin adalah identifikasi dengan DNA, karena identifikasi lain, dengan sidik jari dan foto gigi, tidak mungkin.

Identifikasi jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 akan membutuhkan waktu empat hingga delapan hari, namun mungkin ada yang tak ditemukan, sementara jenazah yang diidentifikasi sebaiknya tak dilihat karena bisa menimbulkan trauma.

Arthur Tompi mengatakan, keluarga yang nantinya menerima penyerahan jenazah yang sudah diidentifikasi, sebaiknya tak berusaha melihat keadaan jasad itu, karena bisa menimbulkan trauma.

Ia juga menyebutkan, kemungkinan besar ada korban yang tak bisa ditemukan.

Karena keadaan jenazah yang hanya berupa potongan, bagian bahkan serpihan tubuh, maka kata Athur Tampi, yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi, dan yang paling mungkin adalah identifikasi dengan DNA, karena identifikasi lain, dengan sidik jari dan foto gigi, tidak mungkin.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Para keluarga korban menyampaikan data-data mereka untuk dicocokan dengan para korban

Identifikasi jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 akan membutuhkan waktu empat hingga delapan hari, namun mungkin ada yang tak ditemukan, sementara jenazah yang diidentifikasi sebaiknya tak dilihat karena bisa menimbulkan trauma.

Dengan identifikasi DNA, diperlukan waktu 4x24 jam untuk memeriksa profil DNA korban, lalu proses lain dibandingkan dengan profil DNA keluarga, sekitar empat hari lagi.

"Jadi kami perlu waktu paling cepat delapan hari, ini penting untuk keluarga yang menunggu-nunggu hasilnya, bahwa kami perlu waktu," katanya.

"Sesudah dilakukan rekonsiliasi data, antara DNA korban dengan keluarga, jika ada yang cocok, langsung diidentifikasi, dan jenazah itu kami serahkan kepada keluarga," kata Arthur Tampi lagi.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Anggota keluarga perlu memberikan data-data dasar untuk melakukan identifikasi korban.

Pencocokan data DNA dilakukan setiap hari, dan setiap pukul 17, kata Arthur Tampi, akan ada kesimpulan apakah ada yang cocok DNAnya dan teridentifikasi.

Betapa pun, Arthur Tampi mewanti-wanti sekali lagi, jenazah itu tidak utuh, namun berupa potongan-potongan tubuh.

"Jadi sebaiknya, jika sudah menerima jenazah itu, keluarga tidak usah membukanya, karena bisa menimbulkan trauma."

Hal lain, kata Arthur Tampi, perlu dipahami, bahwa, "pada gilirannya mungkin tak semua korban tak bisa kita temukan."

Pertanyaannya, kata Arthur Tampi, bagaimana sertifikat kematiannya?

Yang tak teridentifikasi itu nanti akan ada keputusan pengadilan yang menetapkan bahwa seseorang itu dinayatakan sudah meninggal tanpa ditemukan jenazahnya.

Adapun tentang proses identifikasi melalui DNA, para anggota keluarga diminta untuk datang ke RS Kramat Jati, untuk memberikan data-data mereka, dan data-data keluarga mereka yang ada di pesawat yang jatuh.

Untuk langkah pertama, tetap diperlukan data dasar berupa identitas dalam hal ini KTP, atau ijazah, lalu sidik jari, dan foto tampak gigi dalam posisi wajah tersenyum.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/Getty Images

Selain itu, katanya, diperlukan data seperti baju yang dikenakan, ciri-ciri fisik tertentu, kebiasaannya, dan sejenisnya.

Lalu dilakukan pengambilan sampel DNA.

"Sejauh ini sudah ada 185 orang yang menyerahkan data-data dasar itu, dan 70 orang diambil sampel DNA," kata Arthur Tampi.

Hak atas foto Donal Husni/NurPhoto via Getty Images
Image caption Bagian-bagian jasad dikumpulkan dalam kantung-kantung jenazah.

Yang belum diambil data DNAnya, karena yang datang bukan yang memiliki garis keturunan langsung dengan korban.

"Jadi untuk sampel DNA itu, harus garis keturunan langsung: ibu, bapak, adik, kakak, anak," kata Arthur Tampi.

Ia menyebut, untuk pengambilan sampel DNA, mereka juga menyiapkan langkah lain, jika keluarga tak bisa datang. Di Pangkal Pinang, misalnya, sudah dibangun posko untuk itu.

"Tapi kalau masih ada yang tak bisa datang ke Posko, kita bisa kirim orang ke alamat mereka," tandasnya.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/Getty

Di hari kedua pencarian, Presiden Joko Widodo mengunjungi Posko penanganan dan pencarian di Tanjung Priok.

Didampingi Menteri Perhubungan Basuki Hadimuljo dan Kepala Basarnas Muhammad Syaugi, Jokowi meninjau barang-barang dan serpihan benda yang sudah ditemukan tim Basarnas, khususnya dari permukaan air di sekitar perairan Teluk Karawang.

"Namun setelah itu ia meninggalkan lokasi, tanpa memberikan pernyataan kepada wartawan," kata wartawan BBC News Indonesia, Rebecca Henschke, yang berada di sana.

Berita terkait