Lion Air JT610: Lokasi badan pesawat masih teka-teki, radius pencarian diperluas

Lion Air JT-610 Hak atas foto Ed Wray/Getty Images
Image caption Hingga Selasa malam, tim SAR gabungan telah menemukan setidaknya 37 kantong berisi potongan badan korban

Lebih dua hari setelah jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, upaya pencarian dan identifikasi korban terus dilakukan, namun lokasi persis badan pesawat masih menjadi teka-teki.

Radius pencarian pun diperluas dan menggunakan alat sonar untuk mendeteksi logam di bawah air.

Deputi Operasi Basarnas, Mayjen Nugroho Budi Wiryanto, mengungkapkan radius pencarian hari ketiga pun diperluas menjadi 15 mil laut (nautical mile) dari titik jatuhnya pesawat.

"Kalau hari pertama kemarin radiusnya lima nautical mile, hari ketiga akan memasuki 15 nautical mile. Kita akan mengerahkan empat kapal yang dilengkapi peralatan untuk bawah air," ujar Nugroho Budi Wiryanto pada Selasa (30/10) malam.

Hak atas foto Ed Wray/Getty Images
Image caption Sehari pasca jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, posisi badan pesawat masih menjadi teka teki.

Multibeam echosounder

Kepala Basarnas Muhammad Syaugi menuturkan setelah pencarian puing di permukaan tuntas, pihaknya melanjutkan pencarian di bawah laut dengan menggunakan alat multibeam echosounder, seperti yang digunakan pada waktu pencarian korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatra Utara beberapa bulan lalu.

"Alat ini adalah untuk melihat situasi di bawah air, apakah ada logam-logam yang besar. Dengan scanning yang cukup luas cakupannya itu dibanding dengan penyelaman, ini lebih luas. Namun demikian, penyelaman tetap dilakukan. Bagaimanapun juga kita perlu ada orang di bawah," ujarnya.

Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian, termasuk menyelam di titik pesawat hilang kontak dan titik ditemukan barang dan potongan tubuh korban, namun hasilnya masih nihil.

Direktur Kesiapsiagaan Basarnas, Didi Hamzar menuturkan tim sudah mengerahkan 50 penyelam, 35 di antaranya dari Basarnas, untuk melakukan pencarian di bawah air.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Image caption Sebanyak 50 penyelam, 35 di antaranya dari Basarnas sudah dikerahkan untuk melakukan pencarian di bawah air.

"Kita membagi dua aset area besar, yang satu pencarian dengan echo sounder yang satu dengan penyisiran, dibagi supaya masing-masing lebih rapat. Kalau kita semakin rapat menyisirnya akan meningkatkan probability of detection," jelas Didi.

Padahal, di badan pesawat terdapat alat untuk mendeteksi keberadaan pesawat, yaitu emergency locator transmitter (ELT).

Namun Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)mengungkapkan sinyal ELT pesawat Lion Air JT610 tidak berfungsi.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/Getty Images
Image caption KNKT mengungkapkan sinyal alat untuk mendeteksi keberadaan pesawat, yaitu emergency locator transmitter (ELT) pesawat Lion Air JT610 tidak berfungsi

"ELT tidak aktif karena kami yakin pesawatnya masuk ke dalam air, begitu juga ELTnya masuk ke dalam air. Kita perkirakan ELTnya bersama pesawat ikut tenggelam bersama air," ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.

ELT adalah perangkat penentu pesawat yang merupakan standar peralatan pada pesawat.

ELT akan aktif secara otomatis ketika komponen ini menghantam suatu permukaan pada saat insiden berlangsung.

Identifikasi

Diperkirakan banyak korban terperangkap di badan pesawat sebab hingga Selasa malam Tim SAR tidak menemukan jenasah utuh dari para korban.

Kepala Pusat Kedokteran Polri Brigjen Pol Arthur Tampi menuturkan ditemukannya jenasah dalam kondisi tidak utuh ini akan membuat proses identifikasi lebih rumit.

Maka dari itu, pihaknya menghimbau keluarga untuk datang memberikan data ante mortem, seperti ciri-ciri fisik, rekam medis dan rekam gigi.

"Itu nantinya akan membantu, termasuk foto-foto terakhir. Apalagi kalau foto-foto itu ada senyum dan ada giginya. Itu sangat diperlukan kita laksanakan proses identifikasi," ujar dia.

Arthur menambahkan, identifikasi jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 akan membutuhkan waktu empat hingga delapan hari.

Tak pupus harapan

Meski proses pencarian belum menemui titik temu, keluarga korban tak pupus harapan.

Ahmad Imam datang dari Tasikmalaya sejak semalam sebelumnya, mendatangi Posko Basarnas di Tanjung Priok.

Kakak kandungnya, Ahmad Endang, berada dalam pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh itu.

Image caption Meski proses pencarian belum menemui titik temu, keluarga korban tak pupus harapan.

"Yang jelas sampai saat ini kami masih menunggu informasi pasti bagaimana kakak kandung saya, seperti apa, kami belum tahu," ujarnya.

Sementara pencarian masih berlangsung, proses identifikasi jenazah agar bisa dikembalikan keluarga juga terus berjalan. Seiring dengan itu, pendataan untuk santunan ahli waris korban juga dilakukan.

"Besaran santunan adalah Rp50 juta, masing-masing kepada ahli waris korban yang meninggal dunia sesuai dengan PMK nomor 15 tahun 2017," ujar Deputi Operasi Basarnas, Mayjen Nugroho Budi Wiryanto.

Berita terkait