Lion Air, ambisi Rusdi Kirana, dan bayang-bayang insiden kecelakaan

Lion Air Hak atas foto AFP/ROMEO GACAD

Mulai beroperasi 18 tahun silam dengan mengenalkan penerbangan berbiaya murah, Lion Air tumbuh pesat menjadi maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia, tetapi tidak terlepas dari kendala yang terus menghantuinya.

Menguasai hampir 40% pangsa pasar domestik, maskapai yang dimiliki keluarga Kirana ini terus berambisi memperbesar armadanya, kendati masih dihadapkan persoalan sumber daya manusia dan mismanajemen, ujar wartawan penerbangan.

Mereka melakukan kontrak pengadaan pesawat lebih dari 200 unit pada sejumlah perusahaan pembuat pesawat terkenal.

Walaupun demikian, perjalanan mereka diwarnai insiden kecelakaan fatal dan persoalan manajemen yang membuat beberapa kali terkena sanksi.

Hak atas foto AFP/ROSLAN RAHMAN
Image caption Rusdi Kirana (kanan), pendiri dan pimpinan Lion Air berjabat tangan dengan Dinesh Keskar, salah-seorang pimpinan perusahaan pembuatan Boeing Commercial Airplanes, setelah kesepakatan kerjasama, 14 February 2012 di Singapura.

Didirikan oleh Rusdi Kirana dan saudaranya, maskapai ini mengawalinya dengan dua pesawat sewaan pada pertengahan 2000, dan dalam 18 tahun kemudian, tumbuh menjadi maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia.

"Dia (Rusdi Kirana) mempunyai ambisi. Dia juga jeli dalam melihat pasar," kata pengamat penerbangan, Duddy Sudibyo, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Selasa (30/10).

"Dia memperkenalkan Lion Air, di mana orang bersandal jepit bisa terbang, itu suatu hal yang revolusioner," tambah Duddy.

Dalam berbagai wawancara, Rusdi mengaku mengawali bisnisnya dari bawah. Pria kelahiran 1963 ini, dalam wawancara dengan Financial Times mengaku pernah menjadi sales mesin ketik Brother, sebelum mendirikan perusahaan tur.

Pada pertengahan 2000, Rusdi dan saudaranya, Kusnan Kirana, mendirikan perusahaan maskapai penerbangan Lion Air, dengan keinginan agar lebih banyak rakyat Indonesia bisa naik pesawat dengan harga tiket terjangkau.

"Kita terjun di biro perjalanan dan menjadi agen perusahaan penerbangan di Indonesia maupun di luar Indonesia, kita lihat kenapa harga tiket kok begitu mahal," kata Rusdi Kirana dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, pada 2007.

"Semula Pak Rusdi itu menyewa pesawat Merpati, terbang dari Jakarta ke Pontianak," ungkap Duddy. "Awal mulanya dari sana."

Hak atas foto AFP/SONNY TUMBELAKA
Image caption Kecelakaan Lion Air dengan rute Bandung menuju Denpasar terperosok ke laut di Bandara Ngurah Rai, Denpasar,tanpa sempat menyentuh landasan pacu, 13 April 2013.

Dalam wawancara dengan BBC, Rusdi - yang kini menjadi Duta Besar Indonesia untuk Malaysia - mengaku faktor lain yang mendorongnya untuk mendirikan maskapai penerbangan adalah potensi pasar.

"Maka kita melihat kalau saya bisa membuat airlines yang bisa jual lebih murah, saya percaya market itu akan naik," ungkap Rusdi yang pernah aktif sebagai politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Rusdi mengatakan asumsi tersebut terbukti dengan bertambahnya jumlah penumpang pesawat terbang di Indonesia dari angka kurang dari lima juta pada tahun 2000 menjadi total saat ini 36 juta orang per tahun.

Memperbanyak armada

Sampai 2011, Lion Air terus memperbanyak armadanya secara signifikan dengan memegang sejumlah kontrak dengan perusahaan pembuatan pesawat terkenal hingga lebih dari 200 armada berukuran besar.

Pada 2007, Lion Air sudah memesan 122 buah pesawat 737900 ER yang menjadikannya sebagai pemesan dan pengguna terbanyak dari jenis pesawat tersebut di dunia.

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, hadir langsung dalam penandatanganan kerja sama dengan Boeing tersebut.

Hak atas foto AFP/BERTRAND LANGLOIS
Image caption Rusdi Kirana (kiri), direktur Lion Air, dan pimpinan Airbus, Fabrice Bregie, usai menandatangani kesepakatan pembelian 234 jet Airbus, Senin (18/03) di Prancis.

Empat tahun kemudian, mereka memesan 230 pesawat baru dari perusahaan pembuatan pesawat Boeing.

"Itu sejalan dengan visinya Pak Rusdi, yaitu ingin menjadikan Lion Air itu seperti taglinenya 'We Make People Fly'. Itu memang ambisinya," kata wartawan penerbangan, Reni Rohmawati, kepada BBC News Indonesia, Selasa (30/10).

Dengan pesawat-pesawat berukuran besar, Lion Air kemudian membuka jalur penerbangan ke luar negeri, selain berbagai rute di dalam negeri.

Pada September 2012, Lion Air dan National Aerospace & Defence Industries Sdn Bhd (Nadi) menandatangani perjanjian joint venture untuk mendirikan maskapai penerbangan baru di Malaysia, Malindo Airways.

Hak atas foto AFP/Didot
Image caption Pesawat Lion Air berada di landasan bandar udara di Gorontalo, 7 Agustus 2013, setelah menabrak seekor sapi.

Lalu, Maret 2013, Prancis mengumumkan bahwa maskapai penerbangan berbiaya murah Indonesia, Lion Air, memecahkan rekor dengan memesan 234 pesawat jet penumpang dari Airbus.

Berdasarkan kesepakatan ini Airbus akan memasok jet A320 dan A321 yang banyak dimanfaatkan di jalur-jalur menengah.

Ketika itu, ekspansi Lion Air, menurut para pengamat, didukung oleh situasi pasar penerbangan domestik dan regional.

"Mereka melihat naiknya permintaan di pasar di dalam negeri," kata Brendan Sobie dari Pusat Penerbangan Asia Pasifik di Singapura, seperti dikutip kantor berita AFP.

"Bila melihat proyeksi pertumbuhan di Indonesia, Lion Air butuh beberapa ratus pesawat, dengan catatan pertumbuhan pasar penerbangan bisa dipertahankan," kata Sobie.

Insiden kecelakaan Lion Air

Tetapi ambisi Rusdi Kirana membesarkan perusahannya tidaklah segampang membalik telapak tangan.

Sejumlah insiden kecelakaan Lion Air—salah-satu yang terparah terjadi di Bandara Adisumarno, Solo, November 2004, yang menewaskan 24 penumpangnya—membuat maskapai ini tidak terlepas dari sorotan.

Hak atas foto Eko Siswono Toyudho/Anadolu Agency/Getty Images
Image caption Tim SAR menunjukkan sejumlah kepingan dan serpihan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Laut Jawa, Senin (29/10).

Menurut Duddy Sudibyo, insiden tergelincirnya pesawat Lion Air di Solo itu membuat pimpinan maskapai itu "banyak belajar dan melakukan perbaikan diri".

"Salah satu perbaikan itu adalah terwujudnya fasilitas perawatan di Batam yang cukup besar. Sekarang, tinggal bagaimana meningkatkan mutu dari perawatannya," papar Duddy.

Menurutnya, perawatan itu bukan hanya menyangkut sumber daya manusianya, tetapi juga ketersediaan dana untuk membeli spare part (suku cadang) dan peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk merawat pesawat.

"Di situlah, tantangan Lion Air sekarang ini," kata Duddy.

Hak atas foto AFP/ADEK BERRY
Image caption Pesawat Lion Air Boeing 737-800 di bandara Mutiara Sis Al Jufri airport di Kota Palu, 10 Oktober 2018.

Persoalan lain yang pernah melilit Lion Air adalah keterlambatan yang dalam beberapa kasus membuat mereka dikritik tajam oleh konsumen pada awal 2015.

Keterlambatan puluhan penerbangan Lion Air ang berujung pada terlantarnya ratusan penumpang menjadi dasar Kementerian Perhubungan menjatuhkan sanksi.

"Yang paling utama adalah teknologi rotasi pesawat, juga kru pesawat. Pokoknya seluruh yang bertugas di operasi, itu teknologinya harus lebih canggih lagi," kata wartawan penerbangan Reni Rohmawati, tentang jalan keluar yang bisa dilakukan pimpinan Lion Air.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77 tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, Lion Air harus memberikan pendanaan ganti rugi kepada penumpang yang pesawatnya mengalami keterlambatan.

Hak atas foto AFP/ADEK BERRY
Image caption Serpihan dan kepingan dari pesawat Lion Lior JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Laut Jawa, Senin (29/10).

Survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia pada 2014 menunjukkan Lion Air menjadi maskapai penerbangan dengan jumlah keluhan terbanyak.

Rata-rata keluhan meliputi buruknya pelayanan ganti rugi tiket, keterlambatan dan keamanan bagasi, kata YLKI.

Terungkapnya kasus penggunaan narkoba oleh oknum pilot dan awak pesawatnya pada 2012 juga membuat mereka dikenai sanksi oleh pemerintah.

Persoalan seperti ini, menurut wartawan penerbangan Reni Rohmawati, merupakan pekerjaan rumah yang harus diatasi Lion Air.

"Jadi sumber daya manusianya, minimal pemenuhan SOP, kemampuannya, kompetensi harus ditingkatkan, meskipun tidak mudah," kata Reni.

Dan setelah insiden kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di perairan sebelah utara Karawang, Laut Jawa, Senin (29/10) lalu, yang kemungkinan besar menewaskan seluruh penumpangnya, pekerjaan rumah itu harus segera dituntaskan oleh pimpinannya - tidak dapat ditunda-tunda lagi.

Berita terkait