Tim SAR temukan roda, namun badan utama pesawat Lion Air JT 610 belum diketahui

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Tim penyelam TNI AL menemukan roda pesawat di kedalaman 32 meter.

Tim SAR gabungan berhasil mengangkat roda pesawat Lion Air JT 610, yang ditemukan tidak jauh dari lokasi kotak hitam. Roda pesawat itu ditemukan pada kedalaman 32 meter.

Roda ditemukan tim penyelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air Komando Armada I (Koarmada) pada Jumat (2/11) dan kemudian ditempatkan di KRI Banda Aceh.

"Saat ini roda pesawat sudah diangkat oleh tim penyelam dan akan dibawa langsung ke posko di Tanjung Priok," ujar Kepala Basarnas Muhammad Syaugi.

Dia juga menambahkan tim penyelam juga menemukan serpihan badan yang lebih besar dan mesin pesawat, selain juga barang-barang penumpang. Namun kotak hitam yang berisi rekaman percakapan pilot masih belum ditemukan.

Adapun sebelumnya, mesin pesawat berukuran panjang 3 meter ditemukan tim penyelam Komando Pasukan Katak (Kopaska) pada jarak 400 meter dari titik koordinat prediksi awal jatuhnya pesawat. Sementara pengangkatannya masih menunggu bantuan crane dari Basarnas.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tim SAR menemukan roda dan serpihan besar pesawat Lion Air JT 610 di hari kelima pencarian

Guna mencegah bagian pesawat tersebut terbawa arus, Syaugi menyebut mesin dan serpihan besar badan pesawat itu diikat ke kapal yang berada di atasnya.

Sementara itu Presiden Joko Widowo kembali mengunjungi posko di Tanjung Priok untuk meninjau langsung upaya pencarian dan evakuasi pesawat Lion Air JT 610.

Sebelumnya, pada Kamis (1/11) tim SAR gabungan menemukan perekam data penerbangan atau Flight Data Recorder (FDR) yang kini tengah dalam pemeriksaan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Pencarian terus dilakukan

Wartawan BBC News Indonesia Silvano Hajid dan Dwiki Marta, ikut dalam proses pencarian itu di atas KRI Sikuda, melakukan penyisiran di perairan Tanjung Karawang. Operasi berlangsung di kawasan itu, berdasarkan petunjuk tentang citra bagian besar pesawat yang terpindai di dasar laut.

"Lokasi bagian besar pesawat sudah ditemukan, kapal dan penyelam dikerahkan untuk ke sana, informasi ini didapat tadi malam, titik kordinat juga sudah ditentukan," ujar Kolonel Laut (P) Salim, Komandan Satuan Kapal Patroli Koarmada Satu di KRI Sikuda, Jumat (2/11).

Hak atas foto Dispen Kormar AL
Image caption Kepala Basarnas Muhammad Syaugi menyebut kotak hitam yang ditemukan adalah flight data recorder (FDR).

Kendati cuaca pada Jumat siang di sekitar lokasi pencarian berawan, tim penyelam tetap dikerahkan untuk menemukan bagian pesawat itu.

Area pencarian dipusatkan di dasar laut seluas 360 mil laut persegi.

"Wilayah tersebut dibagi menjadi empat bagian sonar dengan empat kapal yang disertai alat deteksi bawah laut. Selain puing besar pesawat, tim juga fokus untuk mencari bagian kedua dari kotak hitam yakni alat perekam percakapan kokpit atau Cockpit Voice Recorder (CVR)," jelas Kolonel Salim.

Sebelumnya, pada Kamis (1/11) tim penyelam berhasil menemukan salah satu bagian kotak hitam atau black box yang diyakini merupakan perekam data penerbangan atau Flight Data Recorder (FDR).

Seorang penyelam dari Batalyon Intai Amfibi (YonTaifib) yang menemukan kotak hitam, Sertu Hendra, menyebut kotak hitam pesawat Boeing 737 Max 8 itu ditemukan dalam keadaan utuh di kedalaman laut 30 meter.

"Kami menemukannya dalam lumpur (di dasar laut). Kondisinya utuh, hanya lecet-lecet sedikit saja," kata Sertu Hendra kepada para wartawan yang mengerubunginya di Kapal Baruna Jaya I, hari Kamis (1/11).

Kapala Basarnas Muhammad Syaugi menyebutkan kotak hitam pesawat yang ditemukan itu adalah FDR, Flight Data Recorder, yang merekam data penerbangan. Saat ini, kotak hitam tersebut tengah dalam pemeriksaan di laboratorium oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Adapun, terdapat dua macam kotak hitam pada pesawat, yakni Flight Data Recorder (FDR) yang merekam data penerbangan, dan satu lagi Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam percakapan pilot.

Berita terkait