Lion Air: Boeing terbitkan panduan khusus B737 Max setelah JT610 jatuh

Lion AIr JT 610 Hak atas foto Reuters

Raksasa industri dirgantara Boeing menerbitkan buletin khusus, membahas masalah sensor yang diperingatkan oleh KNKT yang menyelidiki jatuhnya Lion Air B-737 Max 8, yang menewaskan 189 orang.

Dalam buletin Rabu (7/11), perusahaan Amerika itu menegaskan, bagaimana para pejabat KNKT yakin bahwa para pilot mendapat informasi yang salah dari sistem otomatis pesawat sebelum JT610 itu jatuh menghujam ke perairan Karawang.

"Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengindikasikan bahwa Lion Air JT 610 mengalami masalah yang mengakibatkan munculnya input yang salah dari salah satu sensor AOA (Angle of Attack)," kata buletin itu.

"Boeing menerbitkan Buletin Manual Pengoperasian (Operations Manual Bulletin, OMB), untuk memberi arahan kepada para operator penerbangan tentang bagaimana menangani kekeliruan input dari sensor AOA."

Sensor AOA memberikan data tentang sudut terkait hembusan angin melalui sayap, yang akan membei informasi pada pilot mengenai daya angkat pesawat saat itu.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa pesawat itu sudah dua kali mengalami masalah itu.

Para pakar mengatakan AOA adalah parameter penting yang membantu sistem pesawat mengetahui apakah posisi bagian hidung pesawat terlalu tinggi.

Jika terlalu tinggi pesawat bisa mengalami apa yang disebut aerodynamic stall dan jatuh.

Pesawat-pesawat modern memiliki sistem yang didesain untuk mengoreksi postur sayap secara otomatis agar bisa terbang dengan aman.

Terdapat pula prosedur bagi pilot jika terdapat input data salah, tapi belum bisa dipastikan seberapa banyak waktu yang dimiliki awak Lion Air JT610 untuk meresponsnya, ketika penerbangan masih berada dalam tahap awal dan ketinggian pesawat masih relatif rendah.

Hak atas foto Getty Images

Sementara itu, masa pencarian korban pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Karawang, yang sedianya berakhir Selasa (7/11) ini, diperpanjang tiga hari hingga Jumat.

"Namun yang diperpanjang tugasnya itu adalah Tim Basarnas yang terdiri dari 220 orang, dengan 60 penyelam," kata Ketua Basarnas, Marsekal Madya Muhammad Syaugi dalam jumpa pers Rabu (7/11) di Jakarta.

Sedangkan tim dari lembaga lain, seperti PMI, Angkatan Laut, Bea Cukai, relawan,dll, juga Pertamina yang mengerahkan kapal-kapalnya, tidak lagi dilibatkan.

"Fokusnya adalah pencarian korban. Kami sudah menemukan bagian-bagian jenazah yang terkumpul dalam 184 kantung jenazah. Dan dari ke hari, tren penemuan jenazah makin berkurang," lanjutnya.

"Kalau kemungkinan masih ada (jenazah yang bisa ditemukan), bisa diperpanjang lagi. Jadi kalau korban besok tidak dapat kita tunggu sehari lagi. Kalau tidak (sudah tidak ada lagi jenazah yang ditemukan) ya kita tutup. Jadi kalau sudah ada yang tidak dicari ya kita selesai di situ," kata M Syaugi.

Selain itu, katanya posko Basarnah di dermaga JICT, Tanjung Priok, dan di Karawang, tetap dibuka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kepala Basarnas Muhammad Syaugi.

Adapun belum ditemukannya bagian kedua kotak hitam, yakni bagian Perekam Suara Kokpit (Cockpit Voice Recorder CVR), merupakan kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

"Kita, dalam rangka pencarian CVR, mendukung (tim) penyelam. Jadi bukan Tim Basarnas tugasnya mencari CVR itu," katanya.

Sebelumnya, dalam acara tabur bunga, Selasa (6/11), sebagian besar keluarga korban meminta agar pencarian terus dilanjutkan hingga semua korban teridentifikasi.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Kotak hitam FDR Lion Air JT-610 ditemukan, petugas lanjut cari CVR

Hendrati, seorang istri yang kehilangan suaminya mengatakan, memahami juga bahwa pencarian tak bisa dilakukan selamanya,

"Memang sulit, saya merasa tak bisa bantu, terjun (ke laut) tak mungkin juga, itu dilakukan Basarnas. Kalau kita paksa orang untuk di situ terus juga pasti sulit, kita tak tega tempo hari ada penyelam yang meninggal dunia," kata Hendrati sebagaimana dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Silvano Majid.

"Kita ingin, bapak (jenazahnya) ada, tapi mau bagaimana lagi, kami tak bisa memaksakan."

Keluarganya pasrah dengan proses pencarian yang diperpanjang dalam beberapa hari.

Sejauh ini baru 27 jenazah teridentifikasi, dari seluruhnya 189 penumpang dan awak Lion Air JT610.

Berita terkait