Anak jalanan minum air rebusan pembalut perempuan demi 'nge-fly'

Pengedar sabu ditangkap di Cilacap tanggal 7 November lalu. (Foto ilustrasi) Hak atas foto Antara/IDHAD ZAKARIA
Image caption Pengedar sabu ditangkap di Cilacap tanggal 7 November lalu. (Foto ilustrasi)

Sejumlah anak jalanan ditemukan minum air rebusan pembalut untuk mendapatkan sensasi ketika mengkonsumsi narkoba. praktik yang sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir di Jawa Tengah dan Jakarta, menurut Badan Narkotika Nasional, BNN.

Motivasi awal anak jalanan minum air rebusan pembalut adalah eksperimen untuk mendapatkan sensasi yang mirip ketika mengkonsumsi narkoba, kata Hari Nugroho dari BNN.

Hari mengatakan pada awalnya mereka mengorek tempat sampah untuk mencari pembalut bekas, hingga akhirnya dapat membeli pembalut baru.

"Bisa jadi keracunan zat kimia yang ada di dalam pembalut, misal klorin yang jika dikonsumsi dapat menyebabkan keracunan, efeknya seperti mabuk, dan terdapat delay (penundaan) dalam proses berpikir, sehingga mempengaruhi otak, dan akhirnya dianggap ngefly(dalam pengaruh narkoba)," kata Hari.

Minum air rebusan pembalut agar mendapatkan sensasi 'fly' diketahui Badan Nasional Narkotika, Jawa Tengah dilakukan oleh sejumlah remaja jalanan.

Menurut Kepala Bidang Pemberantasan BNN provinisi Jawa Tengah, AKBP Suprinarto, para remaja jalanan yang melakukan praktik itu berusia berusia 13 hingga 16 tahun.

"Kami temukan di Jawa Tengah Grobogan, Kudus, Pati, Rembang dan Kota Semarang, namun belum ada dasar hukumnya, jadi tidak bisa ditindak." kata AKBP Suprinarto.

Menurutnya air rebusan pembalut dinilai belum termasuk kategori zat-zat berbahaya atau terlarang.

Hak atas foto Irwansyah Putra/ Antara
Image caption Pelajar menunjukkan stiker 'Stop Narkoba" saat Badan Narkotika Nasional (BNN) Banda Aceh melakukan sidak dan sosialisasi bebas narkoba di SMA Negeri 1 Banda Aceh, Aceh awal November lalu.

Sementara itu Dinas Kesehatan Kota Semarang masih meneliti kandungan yang diduga berbahaya di dalam air rebusan pembalut, karena risiko terjangkit virus maupun bakteri berbahaya.

Dari sisi penularan penyakit, menurut Hari Nugroho dari BNN, virus dapat tertular akibat cairan tubuh terinfeksi.

"Kalau ada cairan tubuh yang terinfeksi virus dan bakteri-bakteri berbahaya, sangat mungkin tertular penyakit-penyakit lain yang ditularkan melalui cairan tubuh," kata Hari.

Tetapi sementara ini Hari menduga air rebusan tidak menyebabkan ketagihan.

"Mereka punya keyakinan kalau minum, bisa nge-fly, masalah hilang, dan merasa lebih terkoneksi dengan teman-temannya," kata Hari.

Dalam kasus-kasus serupa yang ia catat selama tiga tahun belakangan, bahwa anak jalanan tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli narkoba karena harganya lebih tinggi, sehingga mereka mencari alternatif lain dengan informasi yang didapat dari teman-teman mereka sendiri.

Fenomena air rebusan pembalut juga terjadi di Jakarta, Karawang, dan Bekasi.

Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari mengatakan sedang meneliti lebih lanjut temuan ini.

Hak atas foto Donal Husni/ Getty Images
Image caption Anak jalanan menggunakan lem untuk apa yang mereka sebut "ngefly",

Data dari Kementerian Sosial menyebutkan 70% dari 18.000 lebih anak dan remaja jalanan di Indonesia menjadi korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.

Dari angka tersebut, kebanyakan dari mereka mencari cara alternatif untuk bisa 'nge-fly' dengan modal minim.

Zat berbahaya di sekitar anak jalanan

Menurut BNN, sulitnya dan mahalnya mendapatkan crystal meth atau sabu, bagi anak jalanan akhirnya membuat mereka mencoba banyak eksperimen agar bisa 'nge-fly' tanpa menyaari dampak kesehatan.

Berikut merupakan catatan BNN, terhadap cara-cara yang tak lazim mereka lakukan untuk 'bermain' dengan zat berbahaya.

1. Jamu Telethong, sejenis ramuan untuk diminum berasal dari kotoran sapi.

2, Nyair, mencampur obat-obatan jenis tertentu yang dijual di pasaran, contohnya obat flu dan batuk, ditumbuk bersama obat nyamuk bakar, lalu larutannya diminum.

3. Kunyitan, minuman yang terdiri dari macam-macam obat, menurut pengakuan para anak jalanan kepada BNN, mereka mengira kalau efeknya mendekati ketika mengkonsumsi sabu.

4. Ngelem, praktik ini sering dilakukan oleh mereka, efeknya rata-rata hanya berlangsung selama lima jam. Namun efek jangka panjangnya dapat menyebabkan gangguan jantung, paru-paru, ginjal, hati, hingga sumsum tulang belakang.

Berita terkait