Lion Air: Direktur 'tak sependapat dengan KNKT, tegaskan pesawat laik terbang'

Nurcahyo Utomo Hak atas foto Reuters
Image caption Pejabat KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan Lion Air JT 610 tidak laik terbang dan mendesak Lion Air untuk melakukan perbaikan atas budaya keselamatan.

Lion Air mengatakan tidak sependapat dengan temuan awal Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang menyebut Lion Air JT 610 yang jatuh sebulan lalu tidak laik terbang.

Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait, mengatakan pihaknya akan "mengajukan klarifikasi tertulis ke KNKT".

Edward mengatakan temuan awal KNKT "tidak benar" dan bahwa "pesawat yang menjalani rute dari Denpasar ke Jakarta dinyatakan layak terbang menurut dokumen dan teknisi yang memeriksa pesawat".

"Pesawatnya layak terbang," kata Edward, Rabu (28/11), beberapa jam setelah KNKT memaparkan temuan awal mereka.

Pesawat Boeing 737 MAX dioperasikan Lion Air untuk menjalani rute Denpasar-Jakarta dan keesokan harinya terbang dari Jakarta ke Pangkalpinang.

Namun sekitar 13 menit kemudian pesawat ini jatuh ke perairan Kerawang, Laut Jawa, menewaskan 189 penumpang dan awak.

KNKT mengatakan Lion Air JT 610 tidak laik terbang dan mendesak Lion Air untuk melakukan perbaikan atas budaya keselamatan di maskapai itu.

Hal itu disampaikan KNKT saat menyampaikan laporan awal investigasi KNKT dalam jumpa pers di Jakarta, hari Rabu (28/11), sebagaimana dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Silvano Hajid dan Rebecca Henschke.

"Yang terjadi itu pesawat sudah tidak laik terbang. Menurut pendapat kami, seharusnya penerbangan itu tidak dilanjutkan," kata Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
KNKT Pesawat Lion Air JT610 "tak laik terbang...pilot kebingungan"

Laporan awal mengungkap menit-menit terakhir sebelum pesawat Lion Air JT610 jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober lalu, namun disebutkan mereka belum sampai kesimpulan, dan baru pada tahap pemaparan fakta.

Menurut laporan itu ada perbedaan data sensor Angle of Attack (AoA).

Hak atas foto Aditya Irawan/NurPhoto via Getty Images
Image caption Kotak Hitam berhenti merekam pada pukul 06.31.54 WIB, kurang dari 30 menit setelah pesawat tinggal landas

"Data Flight Data Recorder (FDR) merekam adanya perbedaan antara AoA kiri dan kanan sekitar 20 derajat, yang terjadi terus menerus sampai dengan akhir rekaman," ungkap Kapten Nurcahyo Utomo, Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, di hadapan wartawan.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption "Data Flight Data Recorder (FDR) merekam adanya perbedaan antara AoA kiri dan kanan sekitar 20 derajat, yang terjadi terus menerus sampai dengan akhir rekaman," ungkap Kapten Nurcahyo Utomo, Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT.

Sensor yang disebutangle of attackini memberikan data tentang sudut terkait hembusan angin melalui sayap, sehingga pilot bisa mengetahui daya angkat pesawat saat itu.

AOA adalah parameter penting yang membantu sistem pesawat mengetahui apakah posisi bagian hidung pesawat terlalu tinggi. Jika terlalu tinggi pesawat bisa mengalami apa yang disebut aerodynamic stall dan jatuh.

Budaya keselamatan Lion Air

Di ujung laporan awal itu, KNKT menyebut bahwa ada beberapa isu keselamatan yang maish perlu menjadi perhatian, karenanya memberikan dua rekomendasi kepada Lion Air.

Yang pertama, menjamin implementasi dari manual operasi yang baru diberikan oleh Boeing 'dalam rangka meningkatkan budaya keselamatan dan untuk menjamin pilot dapat mengambil keputusan untuk meneruskan atau tidak meneruskan penerbangan.

Yang kedua, menjamin semua dokumen operasional diisi dan didokumentasikan secara tepat.

Karena "dalam penerbangan JT 610 itu dicatat pramugarinya ada lima orang, padahal sebetulnya ada enam orang," kata Nurcahyo Utomo pula. Hal itu sempat menyebabkan kesimpangsiuran.

Tarik menarik pilot dan mesin

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, data penerbangan pesawat Lion Air JT610 yang jatuh itu menunjukkan "pilot dan kopilot kerepotan dalam menerbangkan pesawat sesaat setelah lepas landas".

Hal ini terjadi karena hidung Boeing 737 Max 8 terus-menerus menukik akibat dipicu sistem kendali otomatis yang menerima data keliru dari sensor.

Interaktif Geser untuk melihat perkembangan rute Lion Air sejak tahun 2000

2018

peta rute Lion Air tahun 2018

2000

peta rute Lion Air tahun 2000

Rekaman data tersebut, yang dirilis KNKT, menunjukkan bahwa dalam 11 menit terakhir penerbangan, pilot bekerja keras untuk mengarahkan pesawat berpuluh kali, untuk mengambil alih kendali pesawat yang menukik akibat sistem otomatis yang keliru.

Pada akhirnya, pilot dan kopilot kehilangan kendali sehingga pesawat itu menukik ke laut dengan kecepatan 724 kilometer per jam dan menewaskan 189 orang di dalamnya.

"Kedua pilot terus berjuang sampai akhir penerbangan," kata Kapten Nurcahyo Utomo sebagaimana dikutip harian New York Times.

Data penerbangan Lion Air JT610 konsisten dengan penilaian sejumlah pakar bahwa sistem komputer Boeing yang dipasang pada model 737 Max, bermasalah.

Sistem yang dikenal dengan sebutan maneuvering characteristics augmentation system (MCAS) itu berfungsi mencegah pilot menaikkan hidung pesawat terlalu tinggi dengan cara menukikkan pesawat secara otomatis.

Dalam kasus Lion Air JT610, MACS tidak bekerja dengan baik sehingga setiap kali pilot menaikkan hidung pesawat, MCAS aktif kembali dan menurunkan hidung pesawat.

Itu akibat sensor AoA yang terpasang pada badan pesawat menampilkan data yang keliru. Data ini berperan penting dalam pengaktifan MCAS.

Hak atas foto Andrew Lotulun/ Getty Images
Image caption KNKT: Saat tinggal landas, kotak hitam merekam bahwa kemudi pesawat bergetar.

Sebagaimana disebutkan laporan KNKT, sensor tersebut sebetulnya telah diganti dan diuji pada 28 Oktober, setelah dalam penerbangan sebelumnya dari Denpasar ke Jakarta masalah itu juga muncul berulang kali.

Namun dalam penerbangan Denpasar-Jakarta itu, pilot berhasil mengendalikan dan mendaratkan pesawat dengan selamat.

Belum jelas apakah data yang keliru itu ditimbulkan dari sensor atau dari komputer yang memproses informasi sensor.

Untuk itu, akan dilakukan CT scan terhadap komponen AoA di Chicago, dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rosemount Aerospace Inc, Minnesota, dengan pengawasan dari KNKT.

Sampai Rabu (28/11) bagian lain dari kotak hitam, yakni Cockpit Voice Recorder (CVR) atau perekam suara kokpit, belum ditemukan.

Sementara itu, pengumpulan data terkait perawatan pesawat, komponen sensor AoA yang terpasang, pelatihan awak pesawat, bahkan prosedur perawatan dan pengoperasian masih dilakukan, juga dengan wawancara pihak-pihak terkait.

Rencananya, dalam waktu dekat rekonstruksi penerbangan akan dilakukan melalui simulasi penerbangan Boeing 737 - 8 MAX di pusat fasilitas Boeing, di Seattle, Amerika Serikat.

Masih 64 korban belum ditemukan

Sehari sebelum paparan laporan investigasi awal penyebab kecelakaan, KNKT menyampaikan ringkasannya kepada para keluarga korban, di Hotel Ibis Cawang, Jakarta, Selasa (27/11).

Para sanak keluarga duduk di ruang makan itu. Beberapa orang perwakilan dari Lion Air tampak membaur.

Sebagian keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, masih menunggu kepastian, padahal di Rumah Sakit Polri sudah tidak ada lagi jenazah yang harus diidentifikasi.

Hak atas foto Ulet Ifansasti/ Getty Images
Image caption Keluarga korban masih fokus mencari 64 jenazah yang belum ditemukan di perairan Tanjung Karawang

Tanggal 23 November, sebanyak 125 jenazah sudah berhasil diidentifikasi. Para keluarga korban membentuk grup whats app, saling mengabari satu sama lainnya seputar identifikasi jenazah, bahkan mendesak pihak-pihak terkait untuk terus mencari jenazah sembari mencari CVR.

Perwakilan keluarga korban juga sempat diajak menuju perairan Tanjung Karawang, untuk melihat bahwa pencarian masih berlangsung, meski dengan tim yang lebih sedikit dibanding pencarian pada pekan pertama setelah kecelakaan.

"64 penumpang dan awak belum teridentifikasi dan dievakuasi, CVR belum ketemu, kita akan terus kawal dan monitor, berikan dukungan moril, setidaknya kita tahu, publik juga agar bisa mendoakan, dalam proses satu bulan ini," kata Rini Soegiono salah satu keluarga korban.

Menurut Rini, investigasi yang saat ini dikaukan KNKT harus terus dikawal karena akan penting bagi dunia penerbangan di Indonesia bahkan dunia. "Ini adalah investigasi kemanusiaan," tambahnya.

Selama sebulan ini, Dian Anggraini, seorang ibu yang kehilangan anaknya, Muhammad Ravi Andrian, selalu cemas dengan kabar yang beredar.

Pada tiga hari pertama setelah kecelakaan, dirinya masih berharap ada keajaiban yang terjadi, dan anak sulungnya bisa kembali.

Hak atas foto Ed Wray/ Getty Images
Image caption Sebanyak 125 jenazah korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610, telah teridentifikasi.

Tetapi, dua pekan kemudian, dirinya memakamkan jenazah anaknya itu, setelah teridentifikasi.

Meski jenazah anaknya sudah teridentifikasi, Dian masih hadir dalam setiap pertemuan keluarga korban, karena jenazah keponakannya belum bisa ditemukan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Tabur bunga di perairan Karawang, Jawa Barat, lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

"Sekalipun anak kami tak teridentifikasi, bahwa saya hanya dapat surat kematian saya siap," Kata Dian. Dirinya menambahkan bahwa harapan semua keluarga korban itu pada dasarnya bisa memakamkan jenazah korban.

"Sangat penting itu, kita bawa pulang jenazahnya (Ravi) kita bisa ziarah." tutup Dian.

Berita terkait