Pembunuhan pekerja Papua: Lima hal pokok sejauh ini

Pasukan Brimob dari Timika tiba di Wamena untuk mengamankan situasi di Kabupaten Nduga, Papua. Hak atas foto ANTARA/IWAN ADISAPUTRA
Image caption Pasukan Brimob dari Timika tiba di Wamena, Selasa (04/12).

Penembakan yang menewaskan belasan pekerja pembangunan sebuah jembatan yang merupakan bagian dari proyek Trans Papua beberapa waktu lalu, mengguncang Indonesia.

Peristiwa di Kabupaten Nduga itu berbuntut perang informasi antara aparat Indonesia dan kalangan Organisasi Papua Merdeka (OPM), serta memicu lagi percakapan tentang situasi keamanan di wilayah paling timur Indonesia itu.

Presiden Joko Widodo mengatakan, para pelakunya akan dikejar dan 'ditumpas sampai ke akar-akarnya.' Sementara pihak militer dan tentara menyebut para pelaku harus menyerah tanpa syarat dan akan 'dikejar hidup atau pun mati'. Di sisi lain, OPM mengaku sudah lama menyiapkan serangan itu dan berdalih bahwa korban mereka adalah prajurit TNI, bukan pekerja. Adapun pengamat mencemaskan bergulirnya lagi rantai kekerasan.

Berikut, sejumlah hal yang sudah kita ketahui sejauh ini.

Kapan, di mana, apa yang terjadi?

Insiden penembakan itu terjadi di Kabupaten Nduga, Minggu, 2 Desember 2018, ketika di Jakarta dan berbagai wilayah lain di Indonesia berlangsung 'Reuni 212' yang memunculkan berbagai polemik politik, khususnya tentang jumlah peserta dan liputan media.

Berawal dari 1 Desember, ketika 28 pekerja PT Istaka Karya yang mengerjakan pembangunan jembatan Yigi di Kabupaten Nduga 'diliburkan' karena pada hari itu ada acara peringatan 1 Desember, yang oleh kalangan teertentu dirayakan sebagai hari kemerdekaan Papua.

Hak atas foto Kementerian PUPR
Image caption Proyek Jembatan di Kabupaten Nduga, Papua.

Menurut juru bicara Kodam Cendrawasih, Muhammad Aidi, sejumlah karyawan melakukan pemotretan acara itu, yang ditanggapi dengan curiga. Kemudian sekitar 50 orang mendatangi Kamp PT Istaka Karya dan dengan todongan senjata mereka mengikat tangan seluruh karyawan. Lalu mereka menggiring para karyawan keluar dan berjalan menuju kali Karunggame.

Keesokan harinya, 2 Desember, masih menurut jubir Kodam Cendrawasih, mereka ditembaki.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Peti jenazah untuk para korban penembakan di Kabupaten Nduga, Papua.

Sebagian meninggal di tempat sebagian lagi pura-pura mati terkapar. Orang-orang bersenjata itu melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo, lalu 11 orang karyawan yang pura-pura mati berusaha melarikan diri, namun dikejar. Lima orang tertangkap dan dibacok hingga tewas di tempat. Adapun, enam orang berhasil melarikan diri.

Disebutkan, kelompok bersenjata itu kemudian juga menyerang sebuah pos tentara dan menewaskan seorang prajurit.

Berapa korban sebenarnya?

Awalnya disebutkan sebanyak 31 orang tewas. Itu berdasarkan laporan awal dari pendeta Wilhelmus Kogoya dari gereja distrik Yigi. Ini jumlah yang disebut dalam pernyataan awal berbagai pihak berwenang: polisi, Kodam Cendrawasih, hingga Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Namun dalam perkembangannya, polisi dan tentara menyebut, yang sudah dipastikan tewas adalah 20 orang, terdiri dari 19 karyawan, dan satu tentara. Betapa pun, angka 31 korban tewas pun belum diralat secara pasti, karena medan yang begitu sulit di Nduga, membuat verifikasi berjalan lambat dan pelik.

Siapa pelakunya?

Aparat menyebut pelakunya adalah sebuah kelompok pimpinan Egianus Kogoya, yang merupakan sempalan dari kelompok Kelly Kwalik, komandan sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tewas dalam penyergapan pada 2009.

Kapolri Tito Karnavian menyebut, kelompok pimpinan Egianus Kogoya itu berkekuatan sekitar 50 orang, dengan sekitar 20 pucuk senjata api. Kendati menurut keterangan TNI sebelumnya, mereka dibantu lebih dari 200 warga sipil.

Sebelum secara spesifik menyebut Egianus Kogoya, aparat menyebut para pelaku adalah Kelompok Kriminal Bersenjata, yang mereka istilahkan KKB.

Sejauh ini belum ada pernyataan apa pun dari Egianus Kagoya, dan ia tak diketahui keberadaannya.

Hak atas foto Jufri Tonapa untuk BBC News Indonesia
Image caption Anita Limbu Datu (ketiga dari kanan) menunjukkan foto Alpianus, suaminya, yang terbunuh dalam peristiwa di Nduga.

Di sisi lain, ada pula Sebby Sambom, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yang mengaku bahwa mereka berada di balik serangan itu.

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, ia mengaku bahwa mereka adalah pelaku serangan yang membunuh para pekerja konstruksi proyek jembatan di Nduga karena bagi OPM, sebagian besar pekerja adalah anggota TNI, yang dianggap musuh oleh OPM.

"Kami melawan Indonesia, yang kami lawan itu bukan manusia. Mereka adalah manusia yang berwatak binatang. Oleh karena itu, kami menempuh jalan perang. Itu prinsip TPM," kata Sebby.

Para korban itu: tentara atau pekerja?

Sebby Sambom, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat menyebut, yang mereka bunuh bukanlah pekerja sipil, melainkan tentara zeni.

"Sebagian besar pekerja adalah anggota TNI ... hampir semua orang tahu itu," kata Sebby kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo.

Ia mengatakan pihaknya sudah pernah meminta pembangunan jalan ini dibatalkan, tapi permintaan ini tak dipenuhi.

Sebuah akun Facebook kelompok Papua Merdeka -belum bisa diverifikasi- mengaku telah lebih dari tiga bulan memantau para pekerja di jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos Mbua, sebelum kemudian melakukan serangan itu.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Keluarga korban penembakan di Papua berharap jenazah segera dipulangkan

Di sisi lain, baik PT Istaka Karya maupun polisi dan TNI memastikan, dari 20 orang yang sudah dipastikan tewas, 19 adalah warga sipil. Sementara satu tentara tewas dalam serangan lain kelompok itu ke sebuah pos tentara.

Beberapa korban yang selamat dari peristiwa itu juga menegaskan bahwa mereka adalah pekerja biasa, sebagian besar berasal dari Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Salah satunya adalah Martinus Sampe (25 tahun) yang menceritakan kisah serangan ini melalui sambungan telepon ke Nelson Salembang, tetangganya di Dusun Poya, Kapalapitu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Hak atas foto Jufri Tonapa untuk BBC News Indonesia
Image caption Tangisan keluarga Anugrah Tandirannu, salah satu pekerja yang terbunuh di Nduga, Papua.

Adapun anak Nelson, Anugrah Tandirannu (17 tahun), tewas, begitu juga dengan Alpianus (27 tahun), sepupu Martinus, dan setidaknya 17 orang lain.

Baik Martinus dan Alpianus sama-sama bertugas sebagai operator ekskavator PT Istaka Karya yang mengerjakan proyek pembangunan jembatan di Nduga.

Komandan Distrik Militer 1414 Tana Toraja, Letkol Czi Hiras Mameak Saragih Turnip, menegaskan pula hal itu.

"Kesemuanya kami sudah identifikasi, bahwa mereka pekerja adalah murni warga sipil dan bukan dari pihak TNI," kata Hiras Mameak Saragih Turnip, kepada wartawan, Jumat (7/12), sebagaimana laporan Jufri Tonapa, seorang wartawan di Tana Toraja.

Ia menyebut, para pekerja warga Tana Toraja yang tewas itu jumlahnya 11 orang, sementara empat orang selamat.

Ada pun Kapolres Tana Toraja, AKBP. Julianto P Sirait menyebut, dari 11 orang itu sembilan jenazah telah dipulangkan ke keluarga mereka di Toraja Utara.

Bagaimana reaksi pemerintah?

Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa para pelaku akan 'ditumpas sampai ke akar-akarnya,' namun pembangunan infrastruktur Papua tak akan dihentikan.

"Saya tegaskan, tidak ada tempat untuk kelompok kriminal bersenjata di tanah Papua maupun di seluruh pelosok Indonesia. Dan kita tidak akan pernah takut," tegas Jokowi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ratusan tentara dan polisi dikerahkan ke Papua dan berbagai kalangan mencemaskan terjadinya lagi gelombang kekerasan.

Hal itu, kata Jokowi, justru "membuat tekad saya membara untuk melanjutkan tugas besar kita... untuk membangun tanah Papua... serta untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."

Sementara TNI dan Polri mengirim ratusan anggotanya ke lokasi, dan sejauh ini sudah berhasil membawa keluar 20 jenazah, dan mengungsikan sejumlah pekerja yang selamat.

Mereka menegaskan bahwa para pelaku akan terus diburu, 'hidup atau pun mati.' Dan mereka harus menyerah tanpa syarat.

Hal ini menimbulkan kecemasan berbagai kalangan, bahwa siklus kekerasan akan kembali bergulir, setelah pemerintah dikesankan meninggalkan pendekatan keamanan dalam menangani masalah Papua.

Topik terkait

Berita terkait