Rusdi Kirana persiapkan dokumen pembatalan pesanan pesawat Boeing

Rusdi Kirana (kanan), pendiri dan pimpinan Lion Air, dan Dinesh Keskar, pimpinan perusahaan pembuatan Boeing Commercial Airplanes Hak atas foto AFP/ROSLAN RAHMAN
Image caption Rusdi Kirana (kanan), pendiri dan pimpinan Lion Air berjabat tangan dengan Dinesh Keskar, salah-seorang pimpinan perusahaan pembuatan Boeing Commercial Airplanes, setelah kesepakatan kerjasama, 14 February 2012 di Singapura.

"Boeing tidak melakukan prosedur dari MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System/sistem manuver pesawat Max-8 ) yang seharusnya, kok saya yang disalahin?" ungkap pemilik dan pendiri maskapai Lion Air, Rusdi Kirana, terkait rencana pembatalan pembelian 188 Boeing Max-8.

Rusdi menganggap sikap Boeing menyudutkan dirinya yang tengah dirundung masalah.

"Apakah saya sebagai pihak yang sudah dalam kondisi yang sulit ini masih boleh diperlakukan seperti itu? Sedangkan saya customernya, sedangkan saya one of the biggest customernya," kata Rudi kepada wartawan BBC News Indonesia, Rivan Dwiastono, Jumat (7/12), terkait rencana pembatalan pesanan pesawat Boeing.

Rencana pembatalan pesanan dari Boeing ini berawal dari pernyataan Boeing yang menanggapi laporan awal (preliminary report) Komite Nasional Keselamatan transportasi (KNKT) atas investigasi kasus jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada 29 Oktober lalu.

Dalam keterangan tertulis di laman situnya , Boeing menyatakan bahwa "penumpang yang terbang dengan Boeing 737 MAX ke ratusan destinasi di seluruh dunia setiap harinya, kami menjamin 737 MAX sama amannya dengan pesawat lain yang telah terbang selama ini."

Hal ini ditegaskan lagi oleh CEO Boeing Dennis Muilenburg dalam wawancaranya dengan CNBC seperti dikutip Reuters, Kamis (6/12).

"Kami tahu pesawat-pesawat kami aman," ujar Dennis. "Kami belum mengubah fisolosi rancangan kami."

Lion Air sendiri telah memesan 218 unit Boeing 737 MAX-8, 4 unit MAX-9, dan 50 unit MAX-10. Saat ini, sudah ada 10 unit Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan Lion Air untuk penerbangan domestik, umrah, dan charter dengan rute Indonesia-Cina.

Rusdi kecewa karena perusahaan pembuat pesawat asal Amerika Serikat itu terkesan menyalahkan Lion Air dalam tragedi yang menewaskan 189 penumpang dan kru pesawat tersebut.

"Sebagai partner, ayolah kita duduk. Kita bicara apa nih untuk ke depannya kita lebih baik, tanpa blaming(menyalahkah) tanpa melemparkan tanggung jawab itu," ungkap Rusdi yang juga menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk Malaysia.

Hak atas foto AFP/BERTRAND LANGLOIS
Image caption Rusdi Kirana (kiri), direktur Lion Air, dan pimpinan Airbus, Fabrice Bregie, usai menandatangani kesepakatan pembelian 234 jet Airbus, Senin (18/03) di Prancis.

"Nah, saya serius batalkan -- serious consider mau membatalkan karena apa? Karena persoalannya, apakah boleh hasil penemuan KNKT yang masih preliminary itu ditanggapi?," lanjutnya.

"Apakah boleh penanggapannya itu dibuat (seperti) pertanyaan kepada KNKT yang mengarah seakan-akan saya tidak merawat pesawat dengan benar?"

Rusdi sendiri mengaku belum berbicara dengan Boeing untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Saat ditanya tentang konsekuensi yang terancam harus ditanggung Lion Air jika membatalkan pesanan 188 unit Boeing 737 MAX 8, Rusdi menjawab, "kalau dibilang, konsekuensi apa? Ya kita kan sesuai kontrak."

Rusdi menolak menjelaskan lebih detil.

Pembatalan pesanan pesawat itu hal biasa

Pengamat penerbangan Ruth Hanna Simatupang menganggap rencana pembatalan pesanan pesawat Boeing oleh Lion Air sebagai sesuatu yang wajar.

"Ya ini sih biasa banget di dunia bisnis ya. Tinggal sekarang gentlemen's agreement aja, kalau dibatalkan itu dalam rangka apa? Kenapa?," ujarnya. "Enggak ada yang aneh itu."

Hak atas foto AFP/ROSLAN RAHMAN
Image caption Pesawat Lion Air mengudara

Menurut Ruth, pembatalan wajar dilakukan apabila memang terdapat pelayanan purnajual yang tidak baik.

Dalam kasus ini, ia menilai wajar jika Lion Air membatalkan pesanan, terlebih menurutnya "Boeing tidak melakukan prosedur sosialisasi mengenai nose-dive kalau dia (pesawat) diterbangkan manual, gitu loh. Ini fatal sekali."

Sementara menurut pakar penerbangan Gerry Soejatman, kerugian finansial yang akan dialami Lion mungkin sebatas angusnya uang muka yang dibayarkan saat memesan slot produksi pesawat.

Menurut Gerry, maskapai yang memesan pesawat dalam jumlah besar sebenarnya membeli slot produksi pesawat tersebut.

Berdasarkan data yang BBC himpun, Lion dijadwalkan menerima 7 unit MAX-8 tahun depan, lalu 24 dan 35 unit lainnya menyusul di tahun 2020 dan 2021.

Hak atas foto AFP/ADEK BERRY
Image caption Pesawat Lion Air Boeing 737-800 di bandara Mutiara Sis Al Jufri airport di Kota Palu, 10 Oktober 2018.

"Lion juga kayaknya tidak akan membatalkan semuanya. Jadi, yang udah mau -- yang sedang diproduksi pun tidak dibatalin, rugi dia," ujar Gerry.

Boeing pun diyakininya akan membujuk Lion Air untuk mengurungkan niat pembatalan pesawatnya.

Menurut Gerry, terlalu berisiko bagi Boeing jika membiarkan Lion Air melanjutkan rencana pembatalan, karena akan berdampak pada persepsi yang mungkin diterima maskapai lain tentang produk Boeing.

Menurut regulator Amerika Serikat, Boeing sendiri tengah memeriksa kemungkinan perbaikan perangkat lunak, setelah dikecam karena tidak menjabarkan perubahan terbaru pada sistem otomatisnya dalam buku manual 737 MAX.

"Saya rasa selama fixnya itu dilakukan oleh Boeing, itu kerugiannya akan mini buat Boeing," pungkas Gerry.

Berita terkait