Penembakan TNI di Jatinegara dan kasus-kasus penembakan TNI yang lain

Cebongan Hak atas foto KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Image caption Petugas menggelar dua replika senjata api AK-47 sebagai barang bukti dalam penyerangan Lapas Cebongan Sleman yang digelar di Detasemen Polisi Militer Denpom IV/5 Semarang, Jawa Tengah, Selasa (21/5/2013).

Penembakan terhadap dan oleh anggota TNI yang terjadi di Jatinegara, Jakarta, pada Selasa (25/12) malam bukanlah kali pertama melibatkan oknum TNI.

Untuk insiden di Jatinegara, penyelidikan sementara menyimpulkan bahwa penembakan yang menewaskan seorang anggota TNI AD tersebut, pelakunya adalah "anggota TNI AU yang sedang mabuk".

Juru bicara Kodam Jaya, Kolonel Kristomei Sianturi, mengatakan ia yakin bahwa itu adalah kriminal murni karena terduga pelaku, Serda JD, sedang mabuk.

Korban diidentifikasi sebagai Letkol (TNI AD) Dono Kuspriyanto, mengenakan pakaian sipil kendati menggunakan kendaraan dinas saat kejadian.

Berikut beberapa insiden yang menyita perhatian cukup besar:

Penembakan pemotor di SPBU Cibinong, Bogor

Pada 3 November 2015, anggota Batalyon Intel Kostrad di Cibinong, Serda Yoyok Hadi terhadap Marsin alias Japra (40), menembak pengendara motor di Jalan Mayor Oking Jayaatmaja depan SPBU Ciriung Cibinong.

Awalnya pelaku tak terima mobilnya diserempet oleh korban yang mengendarai sepeda motor.

Hak atas foto NurPhoto
Image caption Penembakan yang berawal dari saling serempet kendaraan pernah beberapa kali terjadi.

Dia pun mengejar korban karena tidak berhenti atau meminta maaf dan kemudian menembak korban di kepala di depan SPBU di Cibinong, Bogor.

Pelaku, menurut pengamat militer dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, diproses sampai ke pengadilan militer tingkat pertama.

"Tapi apakah kemudian hukumannya ditegakkan atau apakah ada proses banding kita tidak pernah mendapat informasinya," ungkap Khairul Fahmi.

Penembakan mobil Jazz di Jagorawi

Sebelum kasus Cibinong, pada Agustus 2015 juga sempat terjadi penembakan TNI ke warga sipil akibat persoalan kendaraan. Kali ini, korban mengendarai mobil Jazz di tol Jagorawi dari Bogor menuju Jakarta.

Pelaku, anggota TNI berinisial W, kesal karena korban, berinisial S, menyalip mobil pelaku di tol.

Pelaku mengejar mobil korban dan menembak mobil sedan berwarna putih itu.

Penyerangan Lapas Cebongan

Penyerangan ke Lapas Cebongan, Yogyakarta, terhadap empat orang tahanan terjadi pada 23 Maret 2013.

Hak atas foto Warta Kota/Tribunnews/Joko Supriyanto
Image caption Jalan Jatinegara ditutup oleh aparat kepolisian untuk penyelidikan polisi terhadap kasus penembakan terhadap seorang anggota TNI, Selasa (25/12) malam.

Para korban adalah tahanan titipan Mapolda DIY Yogyakarta yang ditangkap karena mengeroyok hingga meninggal anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan Kartasura, Serka Heru Santoso, dua hari sebelumnya.

Testimoni sejumlah saksi di pengadilan mengatakan bahwa para pelaku dengan penutup wajah datang pukul 01:30 WIB dini hari dan melumpuhkan sipir serta petugas keamanan sebelum menerobos ke sel tempat para korban berada dan menembak mati mereka.

Pembunuhan berlangsung dalam waktu kurang lebih 15 menit.

Dalam vonis, majelis hakim mengatakan Serda Ucok membunuh para korban karena dendam. Serka Heru Santoso pernah menyelamatkan nyawanya saat bertugas di Papua.

Serda Ucok Tigor Simbolon yang merupakan eksekutor utama divonis 11 tahun, sedangkan Serda Sugeng Sumaryanto delapan tahun dan Koptu Kodik enam tahun.

Ketiganya dipecat dari TNI. Atas vonis tersebut, mereka menyatakan akan mengajukan banding.

Bukannya melindungi, mengapa justru 'meneror' masyarakat?

TNI yang harusnya melindungi warga justru sering kali berakhir "menghabisi" warga. Pengamat Khairul Fahmi menilai bahwa "ada persoalan psikis terkait dengan senjata api" di tubuh militer.

"Memegang senjata api itu meningkatkan rasa percaya diri mereka, meningkatkan keyakinan bahwa mereka kuat, berkuasa, menakutkan," papar Khairul Fahmi.

"Itu yang mungkin dirasakan para pemegang senjata api sehingga ketika terjadi situasi-situasi yang merugikan mereka, mereka cenderung mudah marah, bereaksi negatif."

Untuk prosedur penggunaaan senpi sendiri, seperti siapa saja yang layak dan bagaimana penggunaannya, menurut Khairul sendiri sudah cukup memadai.

"Yang lemah ini pengawasannya, terhadap bagaiaman senjata api itu digunakan, boleh dibawa atau tdak, bagaimana penggunaannya dalam situasi tertentu", ujar Khairul.

"Para pimpinan-pimpinan satuan memang kurang peduli terhadap bagaimana anggota-anggotanya atau bawahan-bawahannya melakukan upaya pengamanan terhadap penggunanaan senjata api ini," tambahnya.

"Ini sebuah persoalan yang harus diperbaiki di lingkungan TNI. Bgaiamana doktrin, proses pembinaan mereka sehingga jangan sampai terjadi berulang terus," pungkasnya.

Berita terkait