Kisah Marzuki selamat dari tsunami: Tiga kali dikejar ombak, terlempar ke sawah hingga naik pohon

Marzuki Hak atas foto Ahmad Ridho untuk BBC News Indonesia
Image caption Marzuki tengah melaut ketika tsunami datang. Ia terlempar hingga ke sawah sebelum dikejar dua gelombang besar.

Marzuki, warga Desa Way Muli, Kabupaten Lampung Selatan, sedang mencari cumi di tengah laut ketika melihat Gunung Anak Krakatau meletus.

Ia mengatakan letusannya tak seperti biasanya.

"Seperti melihat kembang api, bunyinya keras, seperti petasan, thas, thas, thas, ... lalu keluar asap putih. Sekitar setengah jam kemudian saya ditarik oleh ombak, saya mencoba menepi," kata Marzuki.

Way Muli merupakan salah satu daerah terparah di Lampung selatan yang dilanda tsunami akibat runtuhan vulkanis Anak Krakatau.

Marzuki mengatakan dirinya dibawa ombak selama beberapa saat hingga merasa dirinya terpental.

"Saya terlempar ke sawah. Saya bangun dan teriak 'tsunami, tsunami' ke warga," katanya.

Dari sawah ini, ia lari sekuat tenaga menyelamatkan diri. Pada saat ia lari, datang gelombang kedua.

Ia melihat tembok dan memanjatnya. Turun dari tembok, ia kembali berlari menjauh dari pantai. Datang gelombang ketiga.

Ia naik ke pohon. "Saya beristigfar (meminta ampun kepada Tuhan). Saya menangis, saya ingat orang tua...," katanya.

Karena ingat orang tua, ia memutuskan untuk turun dari pohon dan pergi ke rumah orang tuanya. Di sana, situasinya berantakan.

"Saya tak menemukan mereka. Saya hanya bisa berharap mereka sudah mengungsi ke tempat aman," katanya.

Melihat orang tuanya tak ada di rumah, ia memutuskan untuk mengecek rumahnya untuk mencari tahu keadaan istri dan anaknya.

Rata dengan tanah

Hak atas foto Ahmad Ridho untuk BBC News Indonesia
Image caption Banyak rumah yang rata dengan tanah di Desa Way Muli, Lampung Selatan, termasuk rumah milik Marzuki.

Berdasarkan pemantauan wartawan di Lampung Ahmad Ridho, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia. ratusan rumah yang berada pinggir pantai hancur, rata dengan tanah, sedangkan rumah yang berhadapan bibir pantai, sebagian rusak parah.

Rumah Marzuki termasuk rumah yang rata dengan tanah tersapu gelombang.

"Saya lari menuju rumah. Ternyata rumah sudah rata dengan tanah. Saya tanya ke tetangga di mana istri dan anak saya," kata Marzuki.

Tetangga mengatakan mungkin istri dan anaknya mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Ia pun menuju tempat yang dipakai warga untuk menyelamatkan diri. Di sini, sudah ada ribuan orang.

Di antara ribuan warga, ia melihat anak dan istrinya. "Saya sangat bersykur, Allah telah menyelamatkan istri dan anak saya...," katanya.

Ia mengatakan tak masalah harta bendanya hancur, yang penting istri dan anaknya selamat.

Orang tuanya juga selamat meski sempat tertimpa reruntuhan tembok rumah. Orang tuanya menjalani perawatan, namun sekarang sudah diperbolehkan untuk pulang.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan di Provinsi Lampung, daerah yang terdampak tsunami ada di Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus.

Di Lampung Selatan, daerah yang terdampak meliputi Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Sidomulyo dan Ketibung.

Tercatat 75 orang meninggal dunia, 253 orang luka-luka, 22 orang hilang di Kecamatan Rajabasa, 73 orang mengungsi dan 30 unit rumah rusak.

Bupati Lampung Selatan telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari yaitu 23 hingga 29 Desember.

Topik terkait

Berita terkait